Pengin Punya Kitten…

Saya lagi kangen pengen miara kucing lagi. Pengen nyari anakan kucing kampung atau beli anakan kucing angora yang masih murah harganya. (denger-denger ada  yang jualan di belakang studio, harganya 100 ribuan)..

cuma, kalo mikir kos ditempat yang sekarang, kok agak ragu. terakhir, tetangga kos punya kucing kampung kecil – nemu di rumah kosong sebelah kos, juga tiba-tiba ilang, konon kabarnya dibuang sama yang jaganya kos. Karena dia nggak suka kucing.

Dasar, ama kucing aja takut….

Nha, tadi pas ngelihat tayangan di metro tentang penertiban dan strelisasi kucing-kucing kampung di Jakarta, wah, kok saya jadi pengen punya kucing lagi?

Dulu, saya punya kucing yang saya kasih nama Bagong. Nemu dari keciiil, dari jaman dia masih kotor ngeang-ngeong di tengah jalan depan rumah. terus saya ambil, saya mandiin, dan saya kasih makan bakso. Saya inget, hari pertama saya kasih di susu dancow, dia menci-menci. Taek-nya diatas kasur saya…dimana-mana. Jijik, kesel, kaget, campur jadi satu. Tapi anehnya, e’eknya nggak bau lho?

Yang paling saya ingat dari dia adalah dia ini suka tidur diatas perut saya sambil ngenyot telapak tangak kiri saya, dianya tidur, sayanya juga ikut tidur, dan bisa bertahan sampai pagi. Sampe gede, ayah saya yang begitu suka sama kucing aja sayang sama dia. habisnya dia ini juga suka manja sama beliau. Tiap kali ayah tidur, si Bagong langsung loncat ke atas kasur dan tidur bareng. Ada masanya posisi tidur dia “mlumah” a.k.a terlentang…ini juga yang bikin ayah saya sayang sama dia.

Cuma sayangnya, dia kabur dari rumah gara-gara kucing betina dari kampung sebelah….bercinta dan lupa pulang. Dan entah kemana….setelah itu saya tidak diijinkan untuk punya kucing lagi.

Nah, pas kos pertama kali di semarang, saya juga punya kucing kampung namanya Cleo…saya pasti udah cerita di blog ini tentang dia. Bulunya sih nggak cantik-cantik amat, tapi dia ini idola lho? buktinya, berkali-kali pulang dalam keadaan bunting.. hahahaha.

berkali-kali punya anak, tapi yang paling deket ya si Yin Yang sama Rainbow…dari kecil..sampe gede, saya yang ngerawat..sampai YinYang punya anak..dan terpaksa saya buang karena disuruh sama Ibu Kos gara-gara penghuni kos ada yang protes soal kotorannya. Malam itu saya sampai nangis-nangis karena ngebuang mereka…

:( sekarang nggak tahu dimana…

dan yang lebih nyakitin hati, ternyata sekarang ibu kos ngjjinin salah satu penghuni kos disana buat miara kucing…hiks…nggak konsisten nih mantan ibu kos saya…

sekarang saya lagi pengen miara kucing, tapi ya itu tadi, masih kos, masih belum tahu gimana ntar dengan penghuni kos lainnya… udah kangen banget pengen meluk anakan kucing…

*sementara liat lihat ke situs ini dulu deh…

funny pictures - If u broked ur leg in two places
see more Lolcats and funny pictures

XOXO,

Toekang Roempi

Belajar Dari Rainbow : Kadang Yang Kita Butuhkan Hanya Sebuah Pelukan Dan Rasa Aman

Saya punya kucing bernama Rainbow – Saudaranya bernama Yin Yang. Saya beri nama mereka sesuai dengan warna bulunya. Walaupun tetangga kos saya sempat memprotes penggunaan nama Rainbow, karena tidak ada unsur lengkap “mejikuhibiniu” dikulitnya. Saya bilang “saya mana mau peduli dengan hal-hal seperti itu?” yang penting warna-warni, Rainbow adalah titik, tanpa koma.

Rainbow, adalah kucin kampung betina yang kalau diperhatikan, hampir sama dengan induknya – cleopatra, yang walaupun tak banyak bicara, tapi penuh dengan pesona. Cleopatra is a BITCH! dalam artian yang sebenarnya. Bahwa dia adalah makhluk yang super duper cantik dikomunitasnya, tapi berkelakuan luar biasa…apa ya? You know lah..bagaimana seorang BITCH bertingkah laku?

Ya, dan Rainbow ini hampir sama dengan induknya. Mentelnya minta ampun. Makan saja pake acara diet. Tak pernah dia makan sampai gembung (kecuali dengan whiskas kemarin hibah dari Tante Erlin). Itulah kenapa badannya terlihat begitu ramping. Dengan mata yang lebar, kecantikan Rainbow di dunia kucing memang tidak diragukan lagi. Bahkan kucing persia tetangga rumah kos saja lebih memilih dia ketimbang Yin Yang yang berbody lebih montok.

Rainbow ini paling rajin bangun pagi dan ngendon di depan kamar kos saya. Kalau saya keluar kamar, yang dia lakukan adalah mengeong dan mengendus-endus kaki saya. Lalu menggosok-gosokkan badannya. Saya kesana dia ikut kesana. Saya kemari dia ikut juga kemari. Jadi kalau saya kesana kemari, dia ikut juga kesana kemari.

Tapi saya tahu bahwa yang dia butuhkan bukan cuma makanan pagi. Karena saya jarang sekali memberi mereka makanan pagi – saya tidak sempat beli. Dan kalau sudah begitu kelakuannya, saya hanya melakukan satu hal yaitu

Mengangkat Rainbow,mencium keningnya dan mengelus-elus lehernya sambil bilang “Iya..sabar ya? ntar siang kamu tak beliin makanan”

Dan dia diam keenakan. Setelah beberapa saat, saya turunkan dia dan berhentilah dia mengendus-endus saya dan mengikuti saya kesana kemari. Lalu dia sibuk sendiri menjilati bulu-bulunya, tandanya dia sedang melakukan ritual “bersih-bersih” pagi agar bulunya tetap cantik.

Dan saya jadi berpikir sesuatu…

Ya, kadang, dalam hidup ini, kita tidak membutuhkan banyak hal. Walaupun sederhana, walaupun kecil, tapi sekiranya sudah memberikan kepuasan dihati, itu saja sudah cukup.

Rakyat sebuah negara hanya ingin kepastian bahwa mereka bisa hidup tenang, aman dan nyaman, kalau bisa – lebih sejahtera gemah ripah loh jinawi.

Pelaku bursa saham butuh kepastian dan stabilitas dari Pemerintah, agar nilai saham terus stabil. Dan para infestor pun begitu.

Para pekerja di sebuah perusahaan butuh kepastian status mereka, dan tentu saja butuh tunjangan-tunjangan yang akan membuat mereka bekerja dengan tenang.

Dan para istri butuh kepastian dari suami mereka, begitu juga sebaliknya, agar cinta bisa selamanya dimiliki.

Orang yang sedang tidak baik-baik saja, butuh ditenangkan. Walau tak bisa diberikan garansi tapi setidaknya dipastikan bahwa dia masih punya sandaran, itu saja sudah cukup.

Dan pagi ini saya belajar dari seekor kucing. Yang berhenti mengikuti saya, berhenti mengendus-endus saya, berhenti menggosok-gosokkan bulunya pada kaki saya, setelah saya angkat, saya peluk, saya cium, dan saya tenangkan bahwa sore ini, dia dan saudaranya akan mendapatkan jatah yang layak sebagai seekor kucing.

ya, kadang-kadang yang kita butuhkan hanya sebuah pelukan kecil dan rasa aman atas sebuah kepastian. Tidak muluk-muluk. Hanya itu.

Hanya saja, sepertinya memang susah untuk didapatkan, bukan?

XOXO,

Toekang Roempi

Kalau Kucing Kampung Makan Whiskas…

Bikin pusing.

Pastinya begitu. Just imagine kalo kedua kucing kampungku, putri-putri kecil saya, yang biasa dengan urapan nasi putih dan ikan pindah, yang sesekali saya selipi dengan tahu bacem atau bakwan jagung, sekarang mencoba mencicipi whiskas, makanan kucing kelas kakap yang kerjaannya cuma meang-meong di sofa majikannya dan tidur tak lama kemudian.

Apakah mereka akan menjadi seperti kucing2 itu juga. Semoga saja tidak. Karena kalau saja itu  terjadi, saya bisa pusing 7 keliling.

Sekarang saja, si rainbow, sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan berkembang menjadi kucing yang spoil brat. Kalau biasanya nasi urap ikan pindang cuma tahan 3 kali kunyahan, tapi kemarin malam, waktu pertama kali mencicipi whiskas sumbangan dari Tante Erlin, masya Alloh…lahapnya…

Saya berulang kali ngelus dada

“Mbok yo uwis mangane to yoooo…yoooo…sesuk meneh….”

Tapi dia nggak mau berhenti. Whiskas yang tadinya “perez” sepermukaan wadah kecil bekas ice cream campina jadi tinggal setengah. Fffuuhhh…saya kan jadi pusing memikirkannya?

Saya pernah bertanya dengan seorang penjual makanan kucing, berapa harga makanan kucing disana?

Setengah kilo makanan kucing tanpa merek, harganya 35 ribu.

Mampus…bisa tahan berapa lama tuh setengah kilo kalo ngelihat nafsu makan Rainbow segitu gedenya…ditambah Yin Yang yang makan…hiks..aku berharap ada karung berisi duit seratus ribuan yang masih laku dipasaran tentu saja, walau harus nembus genteng jatuh di eternit, rela deh…huahahahah…

BTW, ada yang mau jadi donatur? demi kelangsungan hidup putri-putri kecil saya?

XOXO,

Toekang Roempi

Happytos!

Happytos!

"happytos!"

"happytos!"

 

salah satu snack kesukaan saya

 

"saya suka!"

"saya suka!"

 

Dan kesukaan kucing-kucing saya

"miaaauww..."

"miaaauww..."

 

"yinyang"

"yinyang"

 

"rainbow"

"rainbow"

 

Happytos! penyelamat kami bertiga, disaat2 genting (baca : lapar melanda dan saya malas beli makanan keluar kos) :))

XOXO,

Toekang Roempi

Berita Terkini : Sylvester VS Tweety Dalam Dunia Nyata

Tersangka : Seekor Kucing Kampung Bernama Yin Yang

Warna : Hitam Putih

Jjenis Kelamin : Betina tapi tomboynya minta ampun!

Makanan kesukaan : Apa saja yang penting halal.

img_0940

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Korban : Anakan Ayam Broiler Dari Planet Mars Berwarna hijau -

Nama tidak diketahui.

Asal : Simpang Lima – 1000 perak se-Ekor

Foto : Tidak Tersedia – Kurang Populer – Tidak ada Data

Penyebab Kematian : Diterkam dengan buas oleh Kucing Kampung Tomboy bernama Yin Yang

Headlines :

“Diduga karena kelalaian si Pemilik – yang seharian tidak memberi makan, Seekor kucing warna hitam putih yang cantik jelita tapi berkelakuan minus bernama Yin Yang, menerkam dengan buas dan tanpa ampun seekor anakan ayam broiler yang berbulu hijau (??? sejak kapan anak ayam berbulu hijau???) ketika si anak ayam sedang berekreasi bersama dengan saudara sesama unggas satu2nya yang berwarna merah muda (??? ayam jaman sekarang mentel-mentel…kecil2 udah main cat bulu ajah!) di kebun belakang milik ibu Siti (induk semang si Pemilik kucing – red)

 

Menurut kesaksian dari Ibu Siti yang sangat histeris – karena kebetulan 2 anak ayam itu adalah milik cucunya – si Anak ayam ini sedang berjalan-jalan, dan si nenek sedang memasak sementara si cucu dan ibunya sedang pelesiran ke rumah tetangga untuk sebuah keperluan, ketika tiba-tiba terdengar suara mencicit dengan keras! Bu siti panik ketika melihat si anak ayam berwarna hijau ini diterkam oleh kuku dari si Kucing!

 

“Tidaaaaaaaaaaaaaaakkk!!!!”

Bu siti histeris dan mengambil sapu! Beliau menguber si kucing. Tapi tak hanya kucing saja yang takut, tapi ternyata si ayam juga panik. Berlarianlah mereka bertiga di halaman belakang rumah.

 

Sementara si ayam berwarna merah juga ikutan panik.

 

Si nenek. Si Kucing. Dan si Ayam.

(jadi inget si Tweety, silverster dan si Granny)

Si ayam berlari ke dalam tumpukan kayu. Sikucing ikut masuk. Si nenek masih diluar karena tak bisa ikut masuk.

 

Si nenek menyodok-nyodok dengan sapu. Si kucing dan si ayam indehoy didalam tumpukan kayu.

 

Dan dengan berhentinya suara mencicit si anak ayam broiler dari planet mars, berakhir pulalah drama “pembantaian” oleh predator berwarna hitam putih itu.

 

Innalilahi wainna ilaihi rojiun.

Fffiuuhh…

Itulah drama “santap menyantap” antara YinYang saya dan Ayam Hijau milik mbak Midah – anak ibu kos.

Saya mendapat laporan dari Si Nenek yang masih megang sapu dengan gemes tentang kejadian ini. Sudah beberapa hari yang lalu sih, tapi hari ini diingetin lagi.

Duh, rasanya nggak enak. Tapi mau gimana lagi. Namanya juga binatang.

Untungnya, tuh ayam cuma 1000 perak per ekor. Bukan jenis one of a kind. Jadi tidak terlalu merasa bersalah juga sih.

XOXO,

Toekang Roempi