Antara Saya, Hujan, Dan Berkah Tuhan

Saya baru pulang dari perjalanan rutin tiap minggu pulang kampung – ke Pekalongan

Sebuah kunjungan yang sekarang dilakukan tiap akhir pekan tiba. Bertemu Mom dan menghabiskan waktu selama semalam sehari disana.

Perjalanan dari Semarang – Pekalongan sendiri sudah mulai membosankan. Tapi tidak dengan kunjungannya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan di kota kecil itu. And I love My Mom, of course, the only reason i’m doing this.

Well, perjalanan terakhir saya kemarin memang diwarnai dengan drama – yang saya buat sendiri tentunya. Dengan spesial efek yang luar biasa dari hujan deras dan petir menggelegar.

Dimulai dipagi hari ketika saya dan Wee memutuskan untuk membeli tiket bis Nu3tara – (baca Nusantara – 3 dalam bahasa cina adalah San – dan pemilik PO satu itu (mungkin) orang Tionghoa) pada pagi hari, mengingat itu adalah weekend dimana semua orang juga punya keinginan yang sama untuk melakukan aktifitas kunjungan pulang kampung.

Tiket sudah terbeli untuk pemberangkatan jam 15.45 sore dan jam2 pun berlalu.

Ketika tiba waktu pulang kantor, saya memutuskan mampir ke KFC untuk membeli Spaghetti pesenan Mom – Beliau jatuh cinta dengan makanan ini sejak lebaran kemarin😛

Saat menuju perjalanan ke KFC – adaaaa aja hal2 yang membuat waktu terbuang. Salah satunya adalah angkot yang berjalan “dimik-dimik” dan sering berhenti buat nyari penumpang. Nggak bisa nyalahin sih, namanya juga orang cari duit – walo lumayan gondok juga nih ati.

Suasana siang itu 50-50. Dalam artian sebelah sini panas sebelah sana mendung tebel. Dan dengan sekuat tenaga saya pacu langkah saya lebar-lebar – meski saya bantat dan berkaki pendek, tapi untuk urusan jalan kaki cepat , boleh diadu.

Saya sampai tepat waktu ke kosan (karena waktu itu masih jam setengah 3, saya memutuskan untuk pulang dulu menyelamatkan cucian saya dan memberi makan kucing saya makan). Cucian berhasil saya angkat dari tali jemuran dan kucingpun sudah lahap makan, akhirnya hujan pun turun dengan derasnya.

Nah, mulai dari sini saya berpikir : saya dan hujan memang tidak pernah akur.

Bayangkan :

  • mau siaran – belum waktunya berangkat, masih cerah ceria, giliran mau berangkat – ujan turun dengan deras
  • Kalo nggak diawal-awal, ya ditengah jalan, sehingga menyebabkan saya dan Wee harus basah kuyup
  • Waktu dirumah, malam hari, masih belum hujan – giliran udah “nyepeda” ke jalan raya dan mencari toko buat beli pestisida (obat anti nyamuk – red) oles, hujan turun dengan lebat dan menyebabkan saya basah kuyup
  • Dan kemarin – sudah sampai kosan – cucian terselamatkan – mau berangkat ke agen bis- eh hujan turun dengan lebat
  • sampai saatnya sholat ashar , saya memutuskan untuk sholat. Begitu takbir pertama – ujan reda – begitu salam takhiyat akhir – hujan turun lagi dengan lebatnya

(sigh)

Terus terang saya kesal sekali sore itu. Saya pukul pintu kamar kos saya. Saya tendang tembok depan kamar tetangga sebelah sampai ada bekas sepatu disana dan saya “nggerundel” sendiri.

Saya bilang “Kenapa sih saya dan hujan nggak pernah akur. Mau siaran, ujan. Ditengah jalan, ujan. Mau berangkat ke pul, ujan juga. Kenapa sih ujan selalu menghalangi saya?”

Dan…MAK BLEGEDAAAAAAARRRR!!!!!

Percaya nggak percaya, petir bunyi kenceng banget di depan saya!!

Saya kaget lalu saya istighfar. Dan lalu saya tertawa sambil minta maaf sama Tuhan. Saya lupa, bahwasanya yang namanya Hujan itu adalah berkah. Saya lupa bahwa ada banyak yang masih butuh air tanpa saya tahu. Dan kehilangan waktu serta uang 30 ribu untuk tiket yang sudah terbeli dan sudah pasti tak bisa saya gunakan, membuat saya uring-uringan.

Saya tahu saya tidak bisa sampai tepat waktu. Tapi saya masih keukeuh untuk mencoba. Saya terobos saja hujan sore itu sambil melindungi tas saya yang penuh dengan barang2 yang tidak boleh kena air. Saya sempat “kejeblos” ke kubangan. Saya mengumpat seenaknya. Hati saya sudah terlanjur sakiiiiit. Dan sepatu saya sudah terlanjur basah. Makanya saya basah2an aja sekalian. Dan saya memutuskan untuk naik bis yang pertama kali saya lihat.

Lagi2, perjalanan menuju agen serasa bagai naik roller coaster. Bikin naik turun emosi, kadang lega karena bis nya ngebut, kadang jengkel karena ngetem lama sekali.

Dan akhirnya – sampai juga di agen dengan kondisi yang sudah amburadul. Sesak didada karena semua kejadian barusan plus menemukan fakta bahwa bis yang seharusnya membawa saya sore itu sudah berangkat 5 menit yang lalu.

Saya lemes membayangkan bangku no 35 bisa duduk selonjoran karena no 36 kosong melompong. Itu tempat duduk saya.😦

Tapi saya masih punya kesempatan untuk bisa dapet bis yang jam 5 sore. Pemberangkatan terakhir sore itu. Dan mau nggak mau saya harus beli tiket lagi. 30 ribu harus meluncur dari kantong saya. Lengkap sudah penderitaan saya hari itu. Basah kuyup. Spaghetti dingin ditangan saya. Dan harus beli tiket untuk yang kedua kalinya. Oh ya, dan tebak. Saya juga dapet bangku no 36 untuk bis yang jam 5. what a miracle, isn’t it?

Nasib…nasib…

Tapi demi bertemu dengan Mom, saya cobakan sabar. And you know what, sesampainya di agen, ujan berhenti turun.😦

Sesak didada sore itu sedikit terkurangi dengan menelepon Wee dan menceritakan semuanya. Begitu juga dengan Mom yang menelepon saya sore itu untuk kemudian tertawa-tawa karena dengar cerita saya. Mom bilang supaya saya sabar dan banyak istighfar.

Ya, istighfar. Saya ini sudah sering bermain2 dengan Tuhan saya dengan sebentar baik sebentar nakal. Dan saat Tuhan “mempermainkan” lewat hujan yang turun disaat2 yang tidak saya inginkan, saya mengeluh.

Ada banyak hal yang saya pelajari dari kejadian sore kemarin.

  • Bagaimanapun juga, hujan adalah rahmat bagi alam. Banjir? itu eksesnya. Dan bukan salah hujan jika terjadi banjir. Tapi karena kitalah banjir bisa terjadi. Buang sampah sembarangan, pembangunan yang asal2an dan lain sebagainya – u name it ur self
  • Hujan turun adalah waktu dimana kita bisa memanjatkan doa. Doa yang dipanjatkan saat hujan turun adalah doa yang hampir pasti diijabah. Karena waktu hujan turun adalah waktu yang baik untuk berdoa.
  • Setiap sesuatu kejadian adalah dengan tujuan. Saya tahu Tuhan saya memberikan semua ini dengan satu tujuan tertentu. Yang sampai sekarang saya mungkin belum tahu tujuan apa itu tapi setidaknya saya percaya bahwa semua kejadian yang saya alami sore itu bisa memberikan sebuah pelajaran tertentu dalam hidup saya. Begitu juga dengan kejadian2 lain selama ini
  • Saya percaya kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan, meski dengan cara aneh. Saya merasa Tuhan marah ketika menurunkan petir sore itu, persis ketika kalimat terakhir dari hujatan2 saya terlontar dari mulut saya. Dan saya merasa Tuhan bilang “Apa2an kamu? Dikasih hujan begini saya ngumpat? Dasar manusia egois!”..Ya, saya memang egois
  • saya jadi tahu bahwa saat yang lain hilang, yang lain pula ditemukan. Tuhan maha Pengasih. Saat tahu saya kehilangan uang 30 ribu untuk tiket yang tak terpakai, Dia menggantinya dengan uang 50 ribu tunai yang saya temukan di ATM ketika saya hendak menarik uang saya lewat mesin itu. Saya tidak peduli bagaimana uang itu “ditinggalkan” dan untuk apa uang itu “ada disana”, tapi saya melihatnya sebagai :” Nih, uangmu Saya ganti! Puas?” – begitu Tuhan bilang
  • Saya jadi tahu dengan jelas bahwa selama ini manajemen waktu saya sangat-sangat buruk dan saya mengetahui bahwa saya memang tidak punya kemampuan untuk menakar. Kemampuan prediksi dan presisi saya sangat kurang. Selama ini saya sering menjadi korban dari manajemen waktu saya yang buruk. Sehingga terciptalah momen2 yang tidak menguntungkan diri saya sendiri, dan saya mulai harus membenahinya.
  • Banyak hal yang saya pelajari, salah satunya adalah kesabaran. Dan tampaknya, Golden Ways dari Mario teguh semalam menyadarkan saya tentang hal2 yang salah dan benar, dan tentang bersabar terhadap semua hal yang datang pada diri kita. Selama ini saya bisa bilang “Ah, nggak usah dipikirin, berarti itu bukan rejeki kamu” atau “Yang sabar lah…begitu aja sewot begitu aja sedih” Tapi ketika saya mengalaminya, saya jadi mengalami apa yang orang2 lain alami. Saya uring2an ketika uang saya hilang, saya sewot dan sedih ketika saya tidak bisa bersabar. Tapi saya tahu, saya sedang bertumbuh.

Ya…itu dia “sedikit” tentang hubungan saya, hujan dan rahmat Tuhan.

Semua ini hanya butuh waktu sedikit saja untuk bisa melihat dengan lebih rinci tentang apa yang sedang terjadi. Hanya saja seringnya, saya enggak untuk memberi sedikit waktu tersebut bagi diri saya sendiri sehingga saya tidak bisa melihat ujung dari semua kejadian ini.

Saya ini praktis, dan ketika semua hal mengacaukan kepraktisan saya, saya jadi marah besar. Mungkin ini yang perlu saya perbaiki. Praktis , tapi selalu siap untuk segala kemungkinan kekacauan yang akan terjadi.

Semoga cerita ini bisa jadi bahan pembelajaran saya pribadi, dan syukur2 untuk anda yang mau membaca sampai akhir kalimat postingan ini.

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s