Bilangan Fu

"Bilangan Fu"

"Bilangan Fu"

“Saya memang tidak hendak meresensi buku ini – karena saya bukan ahlinya – saya cuma pengen cerita tentang isi dari buku ini”

Saya baru saja selesai membaca buku ini kemarin siang – tertulis di akhir halaman bukunya. (saya memang punya kebiasaan menuliskan kapan buku itu mulai dibaca dan kapan selesainya – bukan apa2 sih, cuma pengin tahu seberapa lama sih saya membaca sebuah buku dalam waktu rata2? hehehehe).

Buku yang satu ini, adalah sebuah novel yang membuat saya maju mundur. Beli tidak beli tidak beli tidak. Cukup lama saya memutuskan untuk membeli atau melewatkannya saja. Bukan apa2, saya tahu bahwa ini adalah novel yang “cukup berat” kontennya. Secara, Ayu Utami, gitu loch?

Saya sempat membaca bagian2 awal Saman. Waktu itu saya sok-sok-an ingin menantang diri saya membaca novel sastra, salah satu jenis novel yang akan membuat sel2 otak saya berontak dan bilang “saya nyerah…orang bego jangan suruh baca beginian!” Dan memang novel itu sangat susah.

Itulah kenapa saya bertindak maju mundur, in and out, on and off, sebelum saya akhirnya membeli buku ini – demi keperluan program yang saya asuh! (See? bukan keinginan yang murni datang dari saya – tapi dari sisi profesionalitas saya sebagai Toekang Roempi)!

Tapi pada kenyataannya, saya memang tidak bisa berhenti membaca buku ini dari lembar pertama hingga terakhir!

Dan meski masih tergolong buku yang cukup berat – buat saya pribadi, tapi Bilangan Fu adalah novel yang sangat menarik.

Saya pikir bilangan disini adalah bilangan yang sama seperti dipakai dalam “Bilangan Thamrin” atau “Bilangan Sudirman” yang menujukkan letak suatu tempat. Dan saya mengasosiasikannya dengan sebuah tempat dimana para tokohnya bertemu dan menjalin cerita. Tapi ternyata bilangan disini merujuk pada bilangan angka. Dan fu? apakah Fu?

Tokoh dalam novel ini, utamanya ada 2 sih – Yuda dan Parang Jati. 2 sosok yang berlawanan. Yang satu mengibaratkan diri sebagai setan dan satu dianggap sebagai malaikat. Ditengah2 mereka ada co-star-nya yaitu Marja. Cewek jurusan desain yang jadi kekasih Yuda.

Yuda adalah seorang pemanjat tebing. Aliran “panjat kotor”nya berubah ketika dia bertemu dengan parang Jati di rumah temannya Fulan, mantan pemanjat yang sudah pensiun karena menikah. Sejak itu mereka bersahabat dan parang jati-lah yang merubah Yuda menjadi seorang pemanjat bersih atau clean climbing. untuk Yuda, ini adalah hal yang cukup berat, ibarat harus berpindah agama.

Perkenalannya dengan Parang Jati memberikan banyak hal bagi kehidupan Yuda yang selama ini selalu skeptis tentang banyak hal, dan Parang Jati dengan pandangan kritisnya mampu memberikan pandangan2 baru bagi Yuda.

Yuda mengalami banyak hal bersama Parang Jati dan Marja kekasihnya. Dan terjadilah sebuah kisah segitiga yang sangat lembut. Sounds so typical, huh? tapi nggak gitu2 juga. You better read this book.

Saya memang tidak pintar meresensi. Tapi saya bisa memberi beberapa hal2 menarik bagi saya yang bisa ditemui dalam buku ini.

  • Novel ini bisa memberikan saya pengetahuan tentang pemanjatan tebing dan beberapa istilah2nya.
  • Adanya sejarah tentang tanah Jawa dan Pasundan melalui Babad Tanah Jawi yang diceritakan oleh Parang Jati pada Yuda, tantang asal-usul beberapa kerajaan besar diIndonesia.
  • Tentang teori moluska dan ubur-ubur. Ini adalah hal yang berbau seksis dan gender. Menarik.
  • Buku ini menuturkan tentang pandangan2 parang jati pada sipritualisme, yang dikritisi dari sudut pandangnya. memang harus berhati2 menelaah, karena salah2 bisa jadi berubah pikiran lho?
  • Dituturkan dengan cara deskripsi yang detail dengan data2 dan fakta2 dilapangan, meski ini diakui Ayu utami sebagai novel fiksi.
  • Ada unsur politisnya juga. Unsur mistisnya juga. Dan tentu saja romantisme.
  • Dibeberapa bagian mungkin bahasanya memang agak susah. Buat saya, bahasanya terlalu berat, hehehehe, maklum, ga pernah makan bangku kuliah.🙂
  • Namun yang paling saya senangi adalah tentang bagaimana semua kisah tersebut bermuara pada satu hal, bagaimana kita harus mencintai alam. Karena diceritakan, semua peristiwa yang terjadi dinovel ini bertujuan untuk menyelamatkan perbukitan gamping Sewugunung di daerah jawa tengah. Jadi ada isyu lingkungannya juga.

Masih banyak hal yang ada dibuku ini. Memang selayaknya buku ini mendapatkan “Parental Guidance” bagi saya pribadi, huhehehe, karena ada beberapa isi buku ini yang saya anggap sebagai “hal sensitif”

Tapi lepas dari itu, saya bisa menikmati novel Bilangan Fu ini dengan sebuah kesimpulan dibagian akhir novelnya – kesimpulannya adalah “saya menangis…” Hiks..hiks…hiks…

(picture was taken by Toekang Roempi@ his home – On January 11th 2009 – 2pm – copyright 2009)

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s