Pernikahan : Ibadah Dan Bisnis

Ini adalah “rumpian” antara 2 orang manusia, disiang hari yang cukup mendung. Antara seorang wanita dewasa dan seorang pria muda.

Wanita dewasa dalam hal ini adalah Mom – yang sudah berhasil melewati masa pernikahan selama kurang lebih 27 tahun dengan almarhum Dad. Berhasil membuahkan 3 anak – dengan 1 putri meninggal di Sumatra. Dan sedang berjuang untuk membesarkan anak2nya. Satu sudah mentas, sudah menjadi istri dan satunya masih lajang.

Dan si lajang itu adalah saya. Si pria berusia muda (berusaha memudakan diri saya yang sudah 27 tahun), yang sampai saat ini masih belum mentas2 juga. Masih bergelut dengan banyak hal yang membuat bingung. Dan topik pembicaraan berikut, juga menjadi salah satu hal tersebut.

Dan topik itu adalah Pernikahan.

Bermula dari kalimat “Iki Azam (salah satu adik teman saya – red) sik nikahan ning jakarta.”

Terus saya bertanya : “Loh? nikahane ning kono to? ora ning kene? Lha entuk wong endi ta?”

Mom menjawab : “Yo nikahe mbik wong Rejosari (salah satu desa di kota saya- comal – red), tapi kan ceritane pesta ning kono juga. Mbik konco2 pabrik’e ya’e? Lha kae si wong tuwone rono kabeh…mbik mbak ipul keto’e, wong mbak ipul ko ra ketok”

Saya : “Halah…halah…ribet men seh? Ndadak pesta ning jakarta mbarang? Ngentek-enteke duit lan tenogo. Kok yo repot yo? Lha wong wis pesta ning kene ki lha mbok wis sing ning jakarta yo ra sah, wong palingan yo konco2 pabrik tok. Koyo selebritis wae, ning kene pesta ning kono pesta!”

Lalu kami berdua tertawa.

(mohon maaf untuk anda yang tak bisa bahasa jawa – dimohon mencari artinya sendiri)

Pembicaraan berlanjut ke urusan ribet dan ribetnya mengurus pesta pernikahan dan tentang bagaimana tradisi menjelang pernikahan dari beberapa daerah.

Mom bercerita kalau ada salah satu daerah didesa saya juga yang mensyaratkan pihak lelaki untuk memberi ini itu – permintaan dari pihak wanita, yang biasanya diwakilkan oleh orang tua. Ada furnitur, ada emas, ada macem2 deh pokoknya.

Sementara di daerah kediri – justru tidak ada repot2an. Pihak lelaki tidak perlu memberikan apa2 pada pihak perempuan. Ya istilahnya…pihak perempuan lah yang harus mengurus semuanya. Pesta dan tetek bengeknya, karena pihak lelaki tidak memberikan bantuan modal (mohon maaf untuk orang2 kediri – betul tidaknya – saya dengar dari sumber yang orang kediri juga soalnya)

Ini adalah hal biasa bagi kebanyakan orang, tapi bagi saya ini menjadi sebuah pertanyaan. Kenapa mau menikah saja begitu ribet dan banyak permintaan? kenapa mau menikah saja harus keluar banyak biaya, bahkan seringnya diada2kan. Yang nggak punya uang, berhutang. Yang bisa dijual, dijual sebagai tambahan. Kenapa harus ribet sendiri?

Saya yang praktis ini lantas bilang ke Mom : “Lah! besok2 Insya Alloh kalo saya menikah, saya nggak bakal ribet2. Masih ada kehidupan yang harus dipikirkan kedepannya selain berhutang untuk hal2 yang nggak penting. Saya punya ini ya dia harus terima, nggak mau terima ya sudah, toh saya punyanya ini. Memangnya nabi dulu menikah juga pake ribet begitu ya? Ya, kalo mas kawin sih emang rukun, tapi kalo mintanya udah macem2? Sori aja…”

Terus terang, saya merasa suami adik saya adalah orang yang beruntung karena mendapatkan adik saya. Karena kami sekeluarga bukan orang yang ribet yang terlalu memegang teguh tradisi yang menurut saya adalah tradisi yang tidak masuk akal kalo nggak mau dibilang bodoh. Dimana salah satu pihak minta macem2 sebagai tanda jadi.

Ini pernikahan bung! bukan bisnis jual beli keperawanan. Okelah pesta, okelah menghormati tamu, tapi kalo nggak ada harta lantas nggak ada pernikahan, itu adalah sudut pandang yang picik.

Lalu untuk apa Lembaga Perkawinan? Untuk apa Departemen Agama? Untuk apa ada penghulu? Bukankah esensinya itu saja sudah cukup? Emas kawin, saksi dan wali. Bukankah itu saja sudah cukup?

Saya banyak dapat pertanyaan ketika adik saya hendak menikah.

“Loh? kamu nggak papa to dilangkahin? Kamu minta pelangkah apa?”

(dalam tradisi jawa, jika si adik menikah dulu, si kakak berhak untuk meminta “pelangkah” – semacam upeti)

BAH! buat saya – yang namanya lahir – tumbuh – menikah – menua – dan mati – itu sudah ketentuan Tuhan. Siapa yang dapat jodoh duluan dan memang sudah saatnya menikah, ya menikahlah. tak ada urusan dengan urutan keluarga. Lalu kalau saya tidak kunjung menikah, apakah adik saya juga harus menunggu sampai status perawan tua dia sandang?

Nggak gitu bung! Buat saya juga ngga ada upeti-upetian dalam bentuk pelangkah. Melihat adik saya bahagia, itu sudah merupakan sebuah kado terindah dalam hidup saya sebagai kakak. tidak ada yang lebih bisa inginkan lagi. Saya hanya berpesan waktu itu, ketika adik saya menanyakan “mas, mau pelangkah apa?”

Saya bilang “Saya nggak minta tetek bengek – saya cuma minta kamu menjaga pernikahan ini sampai tua”

Pernikahan dimasa sekarang sangat rumit. Tidak hanya sekedar lamaran – tapi juga tetek bengeknya. Ada hantaran – yang anehnya boleh di request. Istri dari si Azam itu – minta tetek bengek hantaran dari calon mertuanya. Salah satunya “minta roti panggang merek Palm”

Halah…halah…memangnya nggak bisa beli sendiri? sampai harus malu minta2 segala!

Saya berharap suatu saat nanti jika dapat kesempatan untuk berjodoh dengan seseorang, dia bisa datang dari keluarga yang nggak ribet. Keluarga yang lebih mementingkan “kehalalan” dari sebuah hubungan dibandingkan “kemahalan” dari sebuah event pernikahan. Harus digedung ini lah, makanannya harus ini lah, periasnya harus dukun yang itu lah, tamunya juga harus tamu2 yang ini itulah, bah! saya berusaha untuk menghindari hal2 yang terlalu glamor seperti itu.

Saya ingin sebuah pernikahan yang sederhana. Karena ini adalah awal dari membangun sebuah kehidupan baru. Kehidupan yang sederhana. Yang tak perlu pusing mikir hutang ketika pelaminan dibongkar. Yang seperti itu. Ya seperti itu.

Menghormati tamu memang perlu, tapi tidak perlu memaksakan diri. Biar saja jadi omongan orang – toh kita lihat saja, seberapa tahan lama mereka bakal ngomongin saya.

Saya cukup kagum dengan keluarga Bachan (lhoh?) ya, ketika Abisheek Bachan menikah dengan Aiswarya Rai, sang ayah, Amitab Bachan bilang “saya tidak akan melaksanakan adat india yang mengharuskan mempelai wanita memberikan mas kawin sebagai tanda jadi, tapi justru anak saya lah yang akan memberikan mas kawin”.

Korelasinya memang nggak ada. Dan komparasinya saya rasa tidak cocok. Tapi ini tentang bagaimana berusaha fleksibel dengan tradisi.

Logikanya, saya ingin punya calon mertua juga yang bilang “Saya hanya ingin pernikahan yang sederhana untuk anak saya. Saya tidak akan melaksanakan adat yang riweh2. Biar saja uang  untuk pesta dijadikan modal untuk menjalani kehidupan baru”

Sangat picik menurut pandangan orang lain, tapi tidak untuk saya.

Kira2, ada nggak ya orang2 seperti itu?

Yang tidak membisniskan sebuah pernikahan, tapi menjadikannya sebuah salah satu ibadah yang esensial?

XOXO,

Toekang Roempi

3 thoughts on “Pernikahan : Ibadah Dan Bisnis

  1. hh itu yg skrg gw alamin bro

    ortu calon istri gw minta gw sediain sejumlah uang minimal dlm angka belasan juta gt
    gw ampe minjem duit tuk itu
    udah gt kami adatnya beda, adat gw wanita yg dtg melamar adat dia laki2 yg melamar wanita..kdua pihak jg sama2 gk stuju dgn persyaratan yg diberian oleh masing berdasarkan adat yg diikuti mereka..
    gw merasa menjadi korban ke angkuhan dan kekakuan adat yg dielu2kan oleh orang dahulu..scara lahir batin kami siap tapi krn adat sampai skrg pernikahan yg direncanakan itu belum terwujud krn gk ada yg mau ngalah…

  2. weis.. si empu-nya blog ini sepikiran banget ma ane.. betul… nikah itu harusnya betul2 karena ibadah dan sederhana sao trada kewajiban harus resepsi inainu yg malah!! setuju, gan.. umm.. buat adik ane, jangan mikirin pelangkah apa buat teteh… yang penting kamu hidup bahagia dg istrimu dan jadi suami teladan dimata tuhan dan keluarga itu sudah cukup. teteh ikhlas banget.. Luv you..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s