Price And Prejudice

Jangan salah baca judul diatas…memang saya sengaja untuk menuliskannya seperti salah satu dari karya Jane Austen “Pride And Prejudice” – karena memang ada hubungannya antara Price dan Prejudice.

Postingan ini saya buat berdasarkan pengalaman saya kemarin di jogja, yang mengingatkan kembali pada beberapa pengalaman yang serupa tapi tak sama di semarang.

Ceritanya begini, ketika kemarin saya dan teman2 berniat mengunjungi sebuah Factory Outlet yang cukup terkenal disana, seorang mas-mas yang tadinya duduk2 langsung berdiri dan menempati posnya.

“Tempat Penitipan Barang”

Ya, beliau langsung memposisikan diri “menyambut” kami dengan mengumpulkan tas2 kami yang bahkan untuk “menyelipkan” 1 saja baju tanpa ketahuan hampir tidak mungkin. Tapi saya tetap berpikir positif dan tidak ada masalah untuk ini.

“Dia hanya mengerjakan tugasnya. Kerjakan atau dipecat”

Saya bisa mengerti itu.

Tapi kemudian yang tidak saya mengerti adalah ketika ada ibu2 dan mbak2 masuk dengan tas gede – yang bisa menampung banyak barang disana – u name it, dibiarkan masuk begitu saja.

“Ah, pasti sudah langganan…” pikir saya saat itu.

Namun lantas saya berpikir bahwa ini adalah sebuah ketidak adilan dan standar ganda dibanyak tempat dengan “peraturan” yang sama.

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu di sebuah pusat perbelanjaan yang dekat dengan kos saya. Saya terbiasa mampir disana sepulang kerja untuk berbelanja. Kalau pas habis gajian, saya pasti belanja banyak untuk keperluan sebulan. Tapi kalo pas lagi tidak gajian dan saya sedang tidak ingin belanja bulanan, saya juga biasa mampir untuk sekedar membeli minuman dingin yang manis tanpa kalori. Tebak apakah minuman itu?

Nah, saya terbiasa “melanggar aturan” dengan masuk ke swalayan tanpa menitipkan tas. Karena saya tahu saya tidak akan mengambil apa2 dari sana. Lepas dari itu, saya melakukannya karena banyak orang – terutama ibu2 – juga melakukan hal yang sama. Saya pikir, apa bedanya saya dengan ibu2 itu selain dari jenis kelamin kami yang berbeda?

Nothing! Tidak ada!

Kami sama2 belanja. Kami sama2 pelanggan. Kami sama2 tidak punya niat untuk mengutil. Kalo saya jelas tidak ingin – saya tidak tahu dengan ibu2 itu apakah beliau2 punya sedikit saja untuk mengutil paling tidak sebotol parfum murah? Who knows?

Yang pasti saya sering melakukan itu sampai suatu waktu, ketika saya dan Wee berbelanja, seorang satpam yang dengan tenangnya menghampiri saya dan meminta saya untuk menitipkan tas saya ke bagian penitipan tas. Lalu saya bilang saya sudah terbiasa dengan hal ini dan saya tidak akan mencuri apa2 dari sana. Lalu dia bilang

“Peraturan Tetap Peraturan dan Peraturannya begitu!”

Saya tidak mencoba untuk membuat2 ini tapi dari kesan yang saya tangkap adalah Satpam tersebut menghardik saya.

Saya kesal waktu itu dan Wee lebih kesal karena secara personal saya dipermalukan. That’s All – walo saya merasa saya juga yang salah karena “mengabaikan” peraturan tersebut.

Yang menjadi kedongkolan – dan lebih2 Wee adalah ketika seorang ibu2 masuk dengan tas yang lebih besar dari saya dan Satpam itu diam saja seribu bahasa. Boro2 menghardik, menyapa ibu itu dan meminta untuk menitipkannya dengan baik2 saja tidak dilakukannya.

Saya bertanya waktu itu pada Wee : “Apa bedanya tas saya dengan tas ibu itu?”

Mungkin anda akan mengatakan ini :

“Ibu2 memang ribet – tasnya bisa berisi banyak barang. Dan tas2 seperti itu memang biasa dibawa oleh mereka.”

Tapi saya juga bisa bilang

“Tas saya juga berisi banyak barang. You have no idea apa yang ada di tas saya setiap hari. Kamera Digital yang selalu saya bawa karena saya sering tidak ingin melewatkan momen2 penting untuk beberapa keperluan – walo tidak jarang juga menganggur karena tidak terpakai. Handphone. Dompet. MP3. Parfum. Dll. Bayangkan betapa berharganya barang2 itu.”

Saya memang tidak mempercayakan tempat penitipan barang. Banyak kasus barang hilang justru ditempat itu karena oknum2 usil!

Tapi toh saya tetap mencoba mentaati peraturan tersebut walo saya harus repot membawa2 Kamera saya, dompet saya, MP3 saya, karena itu adalah barang2 terpenting harian saya saat ini.

Dan itu tidak terjadi hanya dipusat perbelanjaan dekat dengan kos saya. Tapi beberapa pusat perbelanjaan besar di Semarang seperti itu.

Fffiuhhh…

Saya tahu bahwa orang2 itu hanya menjalankan tugasnya dengan mencegah orang2 melakukan sesuatu yang bisa merugikan usaha mereka. Tapi caranya yang saya tidak suka.

Mengapa orang2 itu melihat saya seakan2 saya ini punya tampang seorang pengutil?

Kenapa mereka tidak melihat ibu2 itu dengan tatapan yang sama?

Padahal dibanyak kasus – saya melihatnya dari tayangan2 kriminal dan koran2 lokal bahwa banyak dari pengutil adalah ibu2!

Mereka bahkan punya cara yang paling ajaib untuk melakukan ini. Selipin disana selipin disini. Dikutang. Dicawat. Berpura2 hamil dan kabur dengan barang jarahan mereka.

Whoalalaaa!!!

Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman.

Wajah yang paling innocent adalah yang paling guilty.

“Ya, tapi mereka melakukannya karena tuntutan tugas”

Tugas yang memaksa mereka jadi salah satu jenis orang yang paling BERPRASANGKA BURUK di dunia.

Saya mengaku saya juga termasuk orang yang sering berprasangka dengan orang lain. Dan saya sedang berusaha untuk tidak sering2 melakukannya karena saya tahu ini salah. Saya tahu ini salah.

Tapi menjadi korban dari prasangka orang lain sangat tidak menyenangkan. Dan menjadi korban dari sebuah standar ganda sama tidak menyenangkannya.

Ada apa dengan ibu2 itu? Kenapa mereka bisa mendapatkan Privilege? Wanita2 itu, menuntut kesetaraan dalam banyak hal, tapi untuk hal2 seperti ini, mereka tidak mau disetarakan?

Apa mungkin tampang saya ini punya tampang pengutil?

Dan ibu2 berpenampilan sok kaya dan mbak2 yang putih mulus itu tidak punya tampang yang sama?

(deritanya saya punya tampang begini)

Saya ingin sekali saja melakukan hal ini

memprotes para petugas2 itu karena memang saya diperlakukan dengan tidak adil. Bukan karena takut saya tidak melakukannya sampai sekarang, Namun lebih karena saya tidak mau cari ribut ditempat ramai, Dan kejadian kemarin di Jogja membuat saya berpikir ulang tentang kesetaraan dalam menjalankan aturan. Tidak ada lagi standar ganda. Semua orang sama kedudukannya dimata aturan dan hukum. Saya maupun orang2 kaya itu, punya kewajiban yang sama. MENITIPKAN TAS DAN JAKET DI TEMPAT PENITIPAN BARANG!”

Dan saat ini saya sedang memikirkannya lagi, untuk “bersuara” seandainya saya mengalami kejadian itu lagi.

XOXO,

Toekang Roempi

7 thoughts on “Price And Prejudice

  1. begitulah indonesia, makanya saya punya slogan “rules are made for breaking”. serah d. klo mo ribut ya ribut ja, klo kejadiannya kaya dirimu lho mister. blm tau klo saia lebih bawel dari mak2 paling rewel sekalipun. wakakakakkkk…

    untuk minuman dingin manis tanpa kalori, tebakan saia GREEN TEA

    tp ya, pikiran saia setelah membaca postingan di atas. “tu satpam rada gatel jg, pilih2 org waktu dia bilang peraturan ya peraturan, gak doyan ma mak2 kali, punya kenangan buruk ma cewek”
    hehehehe…

  2. Mungkin karena perempuan identik dengan tas yang ada dibahunya?
    Mungkin ukuran dompet perempuan lebih lebar dan besar, sehinga tidak mungkin untuk diselipkan disaku celana?
    Mungkin karena isi tas merupakan barang-barang berharga dan mudah pecah?seperti bedak,lipstik,parfum?
    Mungkin..mungkin perempuan lebih berani berkata kepada satpam/penjaga counter penitipan untuk berkata “Tas nya saya bawa aja ya?ga usah dititipin?” sambil tersenyum manis dengan wajah tanpa dosa?

  3. @ Kaminaga…Hmm…trauma ma cewek? Huahahaha

    @ Inda , Tas dibahu? Saya juga membawanya dibahu
    Ukuran dompet? Sebesar apa sih untuk tidak bisa dibawa? Mudah pecah? How about my camera? How about my MP3? Saya rasa harga barang2 saya lebih mahal daripada bedak dan parfum mereka🙂
    Kalo lebih berani ngerayu…mungkin itu saya setuju…dan saya nggak bisa bilang apa2. Segarang apapun satpam, kalo dengan wanita cantik, menyerahlah sudah dia…

  4. agak-agak out of topic sih, tapi aku jg pny tampang yang sering didiskriminasikan. Terutama sama mas-mas/mbak-mbak yang nawarin kartu kredit yang suka ada di mall-mall. Mungkin karena aku biasa menggembel ke mall. Ga dandan dan biasanya dalam keadaan lecek habis kerja.

    tapi suatu ketika habis ngemsi dalam keadaan dandan total (aduuh, seberapa total sih dandanku?), mereka mengerubutiku! padahal bukan berarti kalo keadaanku menggembel aku ngga mampu aplikasi kartu kredit kan?

    face it my comrade.. we’re livin in judgemental world… doh.

  5. @ Nepih : YA, saya rasa, mereka memang dilatih untuk melihat tampang2 orang berduit dari tampilan luarnya saja…

    Saya rasa mungkin para sales yang kenal ma Bob Sadino nggak bakal nawarin kartu kredit kali ya? Secara tampilan beliau…”nggembel” begitu? Tapi lepas dari itu, ngapain Bob Sadino punya kartu kredit?

    Lunas aja mampu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s