Oleh-Oleh Dari “Jalan-Jalan”

Saya baru saja jalan2 didunia maya. Menjelajah dunia yang hampir tanpa batas itu.

Seorang teman mengirimkan SMS berisikan :

“Koncomu siji kae wis edan. Coba ko buka friendster…alamate (sensor)”

Saya jadi penasaran, lalu saya buka.

Walah!

Dia sedang terlentang. Bugil dan hampir kelihatan semua.

Dia berani. Menampilkan wajah mupengnya. Mencoba berkesan sensual. Tapi entahlah – mungkin karena saya kenal dia, saya jadi merasa kasihan, karena bukan kesan itu yang saya tangkap.

Provokatif dan saya nggak ngerti. Tapi saya mencoba mengerti orang lain. Saya tahu saya bukan orang suci. Tidak akan menghakimi meski saya sedikit setuju dengan ungkapan teman saya yang mengirimkan SMS tadi, bahwa teman saya yang satu ini sudah “rada gila”.

Saya rasa jika memang foto ini artistik, saya masih bisa mengaguminya. Tapi karena ini sama sekali bukan foto yang artistik, dan shout out-nya yang benar2 provokatif, saya hampir tidak bisa berkata-kata.

Lalu saya tertarik menjelajah lebih jauh. Ke kotak Comment-nya. Ke bagian jejaringnya. Dan saya menemukan banyak hal yang secara pribadi membuat saya merasa geli.

Apakah saya kelak akan menjadi seperti salah satu diantara orang2 ini? Yang sengaja berfoto telanjang untuk memprovokasi orang lain?

Oh, God saya harap tidak.

Saya mencoba untuk tidak menghakimi meski sepenuhnya tidak mengerti. Saya tidak menghakimi.

Tuhan saja tidak menghakimi sampai waktunya tiba.

Dan saya mencoba untuk mengerti kenapa mereka melakukan itu. Tapi saya hanya tertawa. Sungguh, saya hanya tertawa.

Geli.

Ya, jalan2 saya siang ini, kembali menemukan hal2 seperti itu. Ini bukan yang pertama kali, tapi komentar2 seperti :

“Hai…kamu anak mana? Aku anak (sensor) call aku ya di (sensor) i wanna f**k you..”

atau

“Kamu makin ganteng aja deh…Ih…kangen…”

“Wooow…liatin itunya dunk! Kuk ditutupin syi?”

“Gambar lo bikin horny tao!”

Dan saya geleng2 kepala. You have no idea who is this guy yang kalian kometarin.

Dia teman saya.

Dan saya akan terus diam saja. Saya tidak ikut2an.

This is his own business, not mine.

(sigh)

Masa pencarian itu begitu susah ya? Sampai kadang2 orang menjadi putus asa dan menghalalkan segala cara, termasuk melakukan hal2 yang dianggap absurd. Tapi mungkin itulah satu2nya cara.

Saya rasa ada benarnya juga kata orang

“Manusia bagaikan ikan dalam jaring, ketika dia sudah terperangkap hawa nafsunya sendiri. Terkurung. Dan tak bisa lepas”

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s