Toekang Roempi Bicara Ngantri

Hari ini saya pulang ke Pekalongan, mau liburan panjang ceritanya (padahal mau numpang nyuci juga dirumah…Hehehehehe)

Yang pasti saya sudah kangen sama Mom. Kebetulan adik saya dan suaminya (manten baru mereka…:D ) juga mau pulang. Saudara sepupu saya juga menginap dirumah saya, sehingga (alah! sehingga) keadaan rumah saya bakalan ramai. Saya suka kalau rumah saya ramai. Terlebih saya suka kalau Mom senang karena rumahnya ramai dengan anak2nya dan keluarga yang lain.

Anyway, hari ini saya bawa Bread Talk dan Pizza Hut Quadsa buat oleh2. Saya paling senang bawa oleh2 buat Mom. Tentu saja kalo saya punya duit dan sempet beli. Minggu lalu spaghetti KFC, 2 minggu lalu Burger dari Mr. Burger. Senang rasanya.

Tapi hari ini saya mengalami 2 kejadian yang tidak menyenangkan sehubungan dengan judul postingan saya.

Ya, soal mengantri.

Di KFC, ketika saya lapar dan memutuskan untuk mengantri di sana demi se-styrofoam-kolonel yakiniku untuk makan siang, saya dibuat jengkel oleh ibu2 (lagi2 mereka…). Tiba2 saja beliau menyerobot antrian saya. Tidak ada hubungannya dengan postingan saya sebelumnya (tentang Price and Prejudice) kalau saya tiba2 jadi nyolot.

Saya bisa saja ngalah, kalau saja saya melihat beliau adalah tipe ibu2 yang patut diberi kesempatan untuk dilayani terlebih dulu. Tapi sayang sekali, beliau bukan tipe yang seperti itu. Ibu2 yang “heboh” dengan dandanannya. So Sophisticated, but nothing in manner!

– sepertinya saya memang punya masalah dengan orang2 kaya yang nggak punya manner ya?- Hahahaha…no offense.

Well, kembali ke cerita.

Beliau menyerobot dan saya langsung nyolot.

“Bu! ngantri doooooong!!”

Anima saya langsung menjadi dominan.

Beliau langsung bilang dengan nggak kalah nyolot

“Sori! Sori! Nggak tahu…”

Nggak tahu?

Nggak tahu saya ngantri?

Atau nggak tahu kalo saya ini manusia?

Segede bagong begini nggak dianggap?

Belum tahu dia siapa Toekang Roempi!

Tadinya saya mau bilang :

“Bu, nggak lihat saya segede bagong begini lagi ngantri?”

Tapi saya urung.

Alih-alih saya memperpanjang masalah, saya hanya menarik nafas panjang demi melihat mbak2 pelayan KFC yang mendukung saya, tersenyum manis pada saya. Good for you, mbak. Semoga dapat penghargaan sebagai “employee of the month”.

Dan saya pun memesan Kolonel Yakiniku sebagai makan siang saya. Menikmatinya dan pulang.

Oh ya, saat pulang, saya masih lihat ibu2 tadi makan sama suami dan anaknya. Saya lewat didepan dia sambil menegakkan kepala.

Don’t mess up with me, maam!

Kejadian kedua, masih ada hubungannya dengan bagaimana etika ketika sedang menunggu giliran.

Sepanjang perjalan dari semarang ke pekalongan, saya tidur. Ya saya tidur. Tidur adalah “nama tengah” saya saat ini. Karena saya suka tidur, tapi sering susah tidur. Itulah kenapa dimana ada kesempatan, disitu ada tidur. Termasuk sepanjang perjalanan.

Saya tidak peduli dengan pemandangan sekitar. Saya sudah hafal. Dikanan ada apa, dikiri ada apa.

Ketika saya tiba di Comal, saya dikerubuti oleh abang2 becak yang menawarkan jasanya.

Ada seorang abang becak yang menawari saya dulu. Dia membantu saya membawakan tas oleh2 saya.

Sementara saya mengambil ransel saya dibagasi, seorang Abang becak menawari saya dan berusaha membawa tas ransel saya. Saya menolak dan bilang

“Aku wis mbik mase kae…”

lalu dia bilang

“Lha kan podo bae si mas?”

Saya nggak terima. Enak aja sama aja! Lalu saya bilang

Yo ra iso! Mase kae sing nawari sik!”

Dan saya merebut tas saya dan naik ke abang becak…eh, maksud saya, becaknya abang becak yang pertama menawari saya.

Enak saja bilang “sama aja!” Nggak liat situ berusaha ngerebut rejeki orang? Dan masih berani bilang sama aja didepan saya?

Siapa datang duluan menawari , dialah yang berhak terima rejeki –

Oh ya, saya dipihak yang benar dalam hal ini. Terbukti banyak abang tukang becak yang menertawakan si abang becak culas ini.

Mengantri.

Menunggu giliran memang tidak menyenangkan. Menunggu adalah kegiatan yang paling membosankan.

Bayangkan. Perut lapar dan masih harus menunggu giliran untuk bisa dapat makanan.

Anak rewel. Suami nggak sabar dirumah. Makanan belum siap, dan masih harus sabar mengantri jerigen minyak tanah diisi.

Buru-buru ke kantor, bensin habis, tapi masih harus ngantri di Pom bensin.

Mau nonton aja kadang2 perlu ngantri beli karcis, giliran tiba mau beli, kursi strategisnya sudah habis.

Kesal kan?

Mengantri memang mengesalkan. Menunggu giliran memang bukan hal yang menyenangkan. Tapi mau tidak mau memang harus kita lakukan.

Memang begitulah peraturannya. Siapa cepat dan datang duluan, dia yang berhak ada diantrian terdepan.

Siapa cepat menawari saya naik becak, dia yang berhak mengantar saya dan menerima upah jasa dari saya.

Tapi masih banyak orang yang abai dengan peraturan mengantri ini. Main serobot, masih sering kita jumpai. Dan alhamdulillah, sampai sekarang – seingat saya – saya tidak pernah menyerobot antrian orang lain. Meski ngedumel , saya masih bisa sabar buat ngantri.

Opsi nya cuma 2.

Ngantri atau tidak ngantri sama sekali.

Ngantri, harus sabar.

Nggak ngantri – harus rela nggak dapet.

Semoga saja saya tidak perlu mengalaminya lagi dimasa-masa mendatang sehingga saya tidak perlu nyolot sama orang.

Tapi orang2 seperti itu memang perlu orang2 seperti saya.

PS : Nggak perlu nyolot sih kalo bisa ikhlas memberikan antrian untuk keadaan tertentu. Gimana pinter2 ngelihat situasi aja. Dan untuk 2 situasi tadi? Saya rasa anda tahu bagaimana harus bertindak bukan?

XOXO,

Toekang Roempi

2 thoughts on “Toekang Roempi Bicara Ngantri

  1. Weitsss..sabar mass…tenannggggg…nampak sangat kesal luar biasa?
    Saya punya pengalaman, waktu antri taxy di negeri orang. mereka membentuk antrian yang rapih, dan terlihat menikmati itu.mereka menghargai sistem ‘siapa yang duluan datang’ dia yang dapat. tapi waktu ada orang tua yang juga mengantri, anak-anak muda mundur, memberikan jalan pada orang tua untuk berdiri di antrian paling depan.
    jauh beda waktu saya antri taxy di mall di jakarta. sistem tarzan berlaku disini, siapa yang kuat dia yang dapat..
    Ironis🙂

  2. @ Inda : Nah kan? Untungnya pada akhir postingan ini saya menuliskan “Kalo bisa ikhlas memberikan antrian pada situasi tertentu…” itu yang saya maksud. Sepertinya memang kita perlu belajar banyak dari peradaban dunia luar. Lepas dari itu, kembali lagi ke pada diri kita masing2 juga sih. Percuma aja ditatar tentang peradaban yang maju kalo kita nya sendiri masih “purba”. Hehehehhe…btw, saya ini kalo sudah kesal memang suka rada “absurd”. Peace! ya, basically saya ini memang pecinta damai kok…:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s