Katanya modern, tapi kok kayak dijaman batu?

Semalam saya dan wee jalan2. ceritanya mau nyari tas buat laptop(-laptopan) saya yang baru (akhirnya pamer juga , hehehehe). Tujuan kami cuma satu, ke mall ciputra. Buat saya, tas = bodypack. Tidak ada yang lain. Dan gerai Bodypack ada disana. Karena saya ini termasuk konsumen yang memang kalau sudah cocok dengan satu merk, bisa dibilang cukup setia dengan merk tersebut. 

Saya tidak pakai banyak cingcong. Satu-satunya yang saya pertimbangkan dalam membeli tas semalam tentu saja harganya. Masalah “fitur” darii tasnya sendiri sih tidak terlalu saya pikirkan. Yang penting “sapi” saya nyaman berada didalam tas setelah dipakai untuk bekerja memeras tenaga.

 Sapi adalah sebutan saya untuk laptop saya. Dila yang kasih. Kenapa sapi? Entahlah…tanyakan saja pada yang memanggil pertama kali.

Kembali ke cerita saya, setelah saya berhasil membeli sebuah tas, yang lagi2 dipilih oleh Wee – setelah sebelumnya dia memilihkan sandal buat saya (seleranya akan barang2 kadang suka aneh, tapi untungnya jatuhnya di saya bagus kok – jadi saya senang2 saja ketika dia memilihkan sesuatu  buat saya karena saya tahu dia lebih punya gaya dibandingkan saya), kami berdua  keluar mall dengan cukup terburu-buru.

Rencana kami malam itu adalah menonton Twilight, dan berusaha mendapatkan tiketnya sebelum jam pertunjukan terakhir dimulai, cukup menegangkan. Dan lebih menegangkan lagi ketika sebuah puntung rokok yang masih menyala dibuang oleh seseorang dari dalam mobil berplat E dan hampir mengenai baju Wee.

 Untungnya masih bisa dihindarkan. Tapi kejadian itu kontan saja membuat saya kesal bukan kepalang.

Ini bukan pertama kali saya melihat kejadian dimana seseorang membuang sampah dari dalam mobil. Dengan seenaknya, dengan tanpa rasa bersalah.

 Tinggal buka jendela, julurkan tangan sedikit keluar, dan…

 “Wwwweeeeeng!”

 Persetan dengan kota yang kotor. Persetan dengan peraturan. Persetan dengan orang-orang yang diluar apakah akan terkena sampahnya atau tidak.

 Semuanya persetan, yang penting mobil sendiri tetap terlihat bersih.

 Sudah berulang kali saya menjumpai kejadian seperti ini dan kalau sudah begitu saya tidak bisa apa-apa kecuali hanya berkomentar

 “Alah…mas-mas (atau mbak-mbak – tergantung jenis kelamin pengemudinya), ganteng2 mobilnya bagus kok kelakuannya kayak gitu. Katanya modern? Tapi kelakuan kayak orang jaman purba yang belum pernah kenal apa itu tempat sampah!”

 Saya sering merasa kesal dengan tingkah laku orang2 yang tidak menghargai jerih payah orang lain. Dalam hal ini adalah mereka2 yang berusaha keras untuk menjaga kota tetap bersih. Petugas2 kebersihan, dan orang2 yang peduli dengan kebersihan.

 Saya percaya bahwa saya juga orang yang menghasilkan banyak sampah setiap harinya, tapi saya juga percaya bahwa saya berusaha untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Itulah kenapa saya merasa tidak mengerti dengan mereka2 yang seenaknya membuang sampah dengan sembarangan tanpa aturan.

 Tidak ada sulitnya untuk melakukan sebuah tindakan yang akan membuat orang akan menghargai anda sebagai manusia yang beradab.

 Salah satunya adalah membuang sampah pada tempatnya.

 Jika anda dalam perjalanan, dan terpaksa harus nyampah, simpan dulu barang sebentar sampah anda untuk kemudian anda buang ketika anda menjumpai tempat sampah.

 Jika anda bermobil, sediakan tempat sampah kecil dalam mobil anda, dan buang sampah anda disitu.

Bukankah untuk membuang sampah bekas cerna anda juga harus pada tempatnya? Kenapa sampah2 yang lain tidak?

 Saya bukannya mau sok2an peduli atau mencoba untuk ikut serta dalam isyu penyelamatan bumi dengan gerakan2 yang saat ini sedang populer di luar sana. Pegangan  awal saya cuma satu, saya ingin menghargai orang2 yang juga peduli dengan kebersihan, lepas dari karena memang itu tugas mereka atau tidak.

 Bayangkan mereka2 yang bersedia bangun pagi2 untuk membersihkan jalanan dengan sapu2 mereka. Mereka2 yang sudah berumur dan rela berjalan beratus-ratus meter untuk memastikan bahwa jalan tempat dia ditugaskan disana sudah bersih.

 Merekalah petugas2 kebersihan yang selalu ada untuk memastikan bahwa kita nyaman dengan kebersihan.

Kenapa sih kita tidak mau bekerja sama dengan mereka?

Lagipula, bukankah kebersihan itu adalah sebagian dari iman kita juga?

 XOXO,

 Toekang Roempi

One thought on “Katanya modern, tapi kok kayak dijaman batu?

  1. bener banget pak. uh sebelnya minta ampun sama orang kaya’ gitu. iya sih itu cuma tisu selembar, botol sebiji atau apapun. tapiiiiii… kalo semua kaya’ gitu kan jadi gunung sampah juga kan?

    apalagi kalo simpanglima habis ada acara.. aduh, kesian banget bapak-ibu yang pada nyapu. kotornya ampun…

    ps : kenapa dipanggil ‘sapi’? karena tipe laptopnya PiCo! inget kan drama boneka Si Komo? ada tokoh sapi namanya Piko..singkatan dari Sapi yang Kokoh.. Huhuhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s