Kemana Hilangnya kemampuan Saya?

Setelah postingan saya sebelumnya – tentang metabolisme saya yang melambat, sekarang saya ingin mempertanyakan kemana hilangnya kemampuan saya dalam menahan godaan untuk tidak makan dalam jumlah banyak?

Saya senang sekaligus sedih saat ini karena akhirnya saya bisa menikmati makanan apa saja yang ingin saya makan. Sedihnya, saya sadar bahwa ini tidak bagus untuk kesehatan saya.

Padahal saya sudah bilang kalo saya ingin kembali berdiet. Berat badan saya sudah naik hampir 10 kilo dalam beberapa bulan ini. Saya merasa kalau mobilitas saya jadi terganggu karena ini. Tapi pada kenyataannya, pola makan saya semakin kacau. Saya jadi makan apa saja tanpa merasa bersalah.

Kemana hilangnya kemampuan saya menakar kalori?

Saya jadi gampang lapar. Parahnya, bahkan sesaat menjelang tidurpun saya masih sempat makan besar. Padahal biasanya saya begitu “straight”, sebelum jam 8 harus makan malam dan setelahnya sudah tidak makan apa-apa  lagi.

Tapi sekarang kemampuan itu menghilang entah kemana. Dan saya dengan terpaksa harus mengucapkan selamat datang untuk angka2 yang semakin bertambah diskala alat timbang badan.

Dan saya kembali bertanya, kemana hilangnya “kecentilan” saya soal makanan ini? Saya merindukannya. Saya menginginkannya hadir kembali dalam hidup saya. Saya membutuhkannya demi kesehatan saya dimasa datang.

Saya merindukan kantong2 teh hijau saya. Saya merindukan masa2 menyeduh dan menyesapnya dengan pelan demi meningkatkan metabolisme. Saya merindukan bercangkir2 teh hijau saya yang bisa saya minum bergelas2 dalam sehari demi mem-boosting metabolisme saya.

Saya bahkan bisa menghabiskan 2-3 dos teh hijau hanya dalam waktu sebulan, tapi sekarang? satu dos saja masih banyak yang tersisa.

Kemana hilangnya masa2 rajin saya menjaga kesehatan dan bentuk tubuh saya?

Tetangga kos saya sudah bilang

“Perut kamu buncit banget…”

Saya tidak hamil kan?

Tidak. Saya hanya banyak makan. Ini hanya ekses dari kenaikan berat badan saya!

(murung- tapi kenyang – karena pagi ini saya sudah menghabiskan 2 piring spaghetti, 3 buah arem2, teknisnya 1 bungkus nasi putih dan 1 bungkus botok teri, 2 potong roti, dan belum minum segelaspun air putih atau t eh hijau – lihatlah betapa kacaunya saya – betapa tidak sehatnya saya)

Saya tahu keadaan ini mungkin membingungkan. Ketika saya mengatakan bahwa saya harus menerima diri saya apa adanya, ketika itu pula saya sedih melihat bagaimana diri saya. Apakah dengan ini saya mementahkan omongan saya sendiri?

Saya rasa tidak. Saya tahu bahwa saya tidak bisa merubah keadaan tubuh saya menjadi seperti apa yang orang lain punya. Hanya dengan determinasi dan banyak bantuan saja saya bisa melakukannya. Tapi saya tahu bagaimana kemampuan saya. Untuk itulah saya tidak berusaha merubah apa yang sudah ada.

Yang coba saya lakukan disini adalah merawat apa yang sudah ada. Dan kecerewetan saya selama ini dalam urusan makan, adalah dalam rangka merawat yang sudah ada.

Dan sekarang perawatan itu berhenti juga kacau dengan sendirinya. Saya harus mulai dari awal lagi. Dan saya sedih karena saya tahu saya tidak konsisten.

Saya rindu dengan cangkir2 teh hijau saya.

Saya kangen dengan tea time saya dan ketika saya menawarkan pada teman2 saya

“Tea, people?”

Saya kangen masa2 itu. Dan saya rasa belum terlambat untuk memperbaikinya bukan?

XOXO,

Toekang Roempi

3 thoughts on “Kemana Hilangnya kemampuan Saya?

  1. meskipun agak-agak out of topic, simaklah pengakuan seorang gadis, sebut saja DN (24) :

    “berat badan saya naik sekitar 5 kilo dalam kurun waktu 2 tahun. saya bukan diet-person sih. tapi kenaikan 5 kilo itu sungguh luar biasa drastis. baju jadi pada ngga muat. setelah dipikir2, kenaikan itu karena saya get along dengan seorang pria yang sangat saya cintai, dan dia selalu ngajakin jajan di Indomaret, makan diatas jam 7 malam, sebelum siaran KotaKita, di tengah malam, bahkan menjadikan kebab sebagai cemilan sebelum dinner. mau nolak juga sebenernya saya pengen dan doyan diajakin makan.

    and you know what? i never regret that. karena saya ngga mau jadi cewe yang cuma ‘ngorak-arik’ makanan saat makan bareng orang yang saya cintai. saya menghabiskan makanan saya, dan minta separoh porsi kalau ngga sanggup. dan sepertinya saya jadi banyak makan karena saya merasa nyaman dan bahagia.”
    🙂

  2. @ Nepih : saya rasa orang banyak makan karena dia sedang bahagia, setuju banget. Dan memang peran “seseorang” yang anda maksud ini memang cukup berpengaruh, “seseorang” dalam hidup anda dan “seseorang” dalam hidup saya. Mereka membuat kita nyaman, katanya ” saya menerima kamu apa adanya” dan akhirnya, what a hell with a gain weight! Hahahaha

  3. Hello Hello Hello. . . wah apa kata2 ku kau masukkan kedalam hatimu??. . he he cubby itu bagus loh. . . menikmati hidup cing. . . . ndud dikit gapapa asal jangan keterusan. . . halah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s