Hidup Saya Sebagai Manusia

Sekali lagi, hujan memang “cukup menyebalkan” tapi membawa inspirasi.

Saya masih tertahan ditempat ini. Sejak dari tadi pagi saya disini. Hampir sendiri dan tidak melakukan apapun. Hanya sedikit yang bisa saya selesaikan hari ini. Meski masih berusaha menambah kredit saya, tapi perasaan malas masih saja ada.

Ah, mungkin ini karena hujan.

Dan mungkin juga karena hujan, mendadak saya jadi sentimentil begini.

Saya sayang “SAPI” saya, itulah satu2nya alasan kenapa saya masih menahan diri untuk tidak pulang. Soal basah, saya bisa tangani, tapi kalau sudah menyangkut si SAPI? Saya mengalah. Saya tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mencari selamat disini dan membiarkan SAPI saya tetap kering, agar dia tidak “ngambek” dikemudian hari.

Biarlah.

Alih-alih saya menggerutu, saya mencoba untuk berdiam diri dan mencari sesuatu. Kira-kira…apa yang bisa saya temukan?

Hmmm…saya tidak menemukan sesuatu…disini…disana…tidak ada apa-apa. Kosong.

Wait a second, i think i see something…wait…Uhmmm…i’m not sure…but i think i saw it…

(sigh) nothing….but me.

Ya. Diri saya. Saya melihat diri saya.

Sejenak saya “lepas” dan melihat diri saya dari jarak dekat. sedekat yang orang bisa kira. Tapi tetap saja, semuanya tidak jelas. Semakin dekat, justru semakin kabur. Saya hampir tidak bisa melihatnya.

Bahkan diri saya sendiri pun bingung. Apa sebenarnya dan siapa sebenarnya yang sedang saya coba observasi ini?

Itu adalah diri saya.

Naik turun. Hidup saya naik turun. Baik dan Tidak baik. Kadang-kadang bisa sedemikian cepat berubah. Sadar dan seperti kesurupan – lupa dan hilang ingatan. Amnesia. bebal. Dan tak beradab.

(sigh)

Sampai kapan kiranya saya harus belajar?

Mungkin memang tak akan pernah ada batas waktu untuk belajar. Selama saya masih bernafas, selama itu pula saya masih harus melihat diri saya dengan jelas. Dan belajar. Tidak bisa berhenti. Agar saya tidak kalah dengan kera (ah, ini hanya sekedar mereview postingan saya sebelumnya)

Hari ini saya tertawa-tawa. kemarin saya terdiam dan tidak ingin bicara. Hari ini saya melaju dengan kesepatan tinggi dan menabrak hampir semua yang bahkan tidak boleh disentuh. Hari ini saya memaksa mesin saya untuk bekerja lebih keras, melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak saya kerjakan. sementara kemarin saya mengistirahatkan mesin itu.

dan saya begitu damai, ketika mesin itu beristirahat.

(saya menarik nafas lebar disela-sela saya menguap)

Otak saya memang sudah sedikit lelah. Otot saya juga. Fisik saya iya, mental juga iya.

Semakin sore, semakin basah, dan moodpun semakin jatuh.

Itulah hidup saya sebagai manusia.

Dan mungkin hidup anda juga seperti itu.

Life is a roller coaster. Sebentar pelan, sebentar melaju. Sebentar lurus, lalu berulang alik. Kadang bikin senang, tapi tak jarang juga bikin perut mual.

Lalu berhenti. Dan kita tertawa kegirangan, atau bahkan menangis.

Yang lain ingin mengalaminya lagi, sementara yang lain bersumpah tak akan pernah mencobanya lagi.

hidup yang penuh ulang alik. Itulah hidup saya.

Dan mungkin juga hidup anda.

Saya senang , cukup senang – kalau tidak boleh dibilang sangat senang – jika saya sedang merasa sentimentil begini. Saya jadi bisa melakukan refleksi – bukan pijat tapi melihat. Melihat kembali apa dan siapa diri saya. Apa yang sudah saya lakukan. apa yang sudah saya alami dan apa yang akan saya lakukan di kemudian hari.

hujan. muram. gelap. tapi terang cahaya aneh membuat saya mampu melihat pantulan diri saya sendiri. Sore ini. di ruangan ini. Hanya saya dan diri saya. Juga Tuhan. Dan mungkin bangsa lelembut yang menghuni ruangan ini.

Entahlah.Saya tidak tahu.

27 tahun dan saya masih merasa kosong.

saya pikir saya bisa mendapatkan segala sesuatu yang jadi keinginan saya. Saya pikir saya bisa membeli ini itu dengan uang saya. Saya pikir saya bisa bahagia dengan melakukan sesuatu yang saya ingin.

Tapi entah kenapa nyatanya tidak

sebagian diri saya menyatakan, bukan ini yang saya ingin. Bukan ini.

Lalu apa yang saya ingin.

apa yang saya ingin…

apa…

Hmmmm….

Saya ingin….apa ya? Uhmmmm…

Ah, saya hanya ingin hal yang sederhana. Ya saya menginginkan itu. Ketika saya mampu berbicara dengan jujur padanya, saya ingin dia melakukan ini pada saya. Saya hanya mengingkan itu. Agar saya tidak menjadi saya yang palsu. Saya tidak mau ini berlarut-larut, karena saya yakin saya sudah lelah.

Saya rasa saya sudah tidak mampu. Dan ketika saya kehilangan tenaga, saya ingin mengalami hal yang satu ini. Karena bagi saya, ini merupakan pengharapan yang hampir sama mustahilnya dengan menginginkan seluruh dunia bisa saya miliki.

Saya benar-benar menginginkan ini.

Saya ingin…

Ibu saya memeluk saya dengan erat dan berkata

“semuanya akan baik-baik saja”

XOXO,

Toekang Roempi

One thought on “Hidup Saya Sebagai Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s