Menunda Itu Membebani

Saya merasakan hidup saya “penuh” akhir-akhir ini.  Penuh dengan beban, yang mungkin tidak terlalu berat tapi tetap saja, yang namanya beban tetaplah beban. Mencegahmu untuk berlari lebih kencang.

Saya memandang sekeliling saya.

Banyak CD yang belum diberi label. Dan saya bingung harus mulai darimana. Saya sudah membayangkan banyak hal yang harus dilakukan. Membuat label, memotong cover agar pas dengan Cd case, mendata, dan memasukkannya ke dalam “perpustakaan” musik.

Saya bingung harus mulai darimana dulu…

Lalu saya pulang dan melihat sekeliling kamar saya.

Kotor minta ampun. Debu disana sini, sedikit jamur dipojok yang ini dan pojok yang itu. Saya melihat ke atas lemari, dan saya beranggapan, ini bukan lemari, ini tempat sampah. Lalu saya membuka lemari. Kacau, berantakan lagi – berantakan lagi, tidak peduli berapa kali saya mencoba menata ulang lemari itu, tapi tetap saja, berantakan lagi.

Didepan kamar kos saya, piring2, gelas2, sendok dan garpu, kotor, dan menanti untuk dibersihkan.

Dan saya merengut lagi, saya bingung harus mulai dari yang mana dulu?

Dan itu…disana, diatas tali jemuran itu, baju2 setengah kering saya, yang tidak sempat dipanaskan kembali dibawah sinar matahari, masih menggantung disana, menunggu untuk jamuran jika tak segera diatasi.

Lalu punggung saya terasa sakit, sungguh ini adalah perasaan yang sebenarnya. Beban kerja ini, membuat saya mengalami gejala psikosomatis. Saya merasa tidak sehat.

Belum lagi harus membuat laporan2 kerjasama dengan pihak lain, membuat tagihan iklan kerjasama tersebut untuk kemudian diserahkan ke marketing, membuat saya benar-benar terbebani.

Dan ini semua karena kebiasaan buruk saya yang suka menunda.

Menunda. Ya menunda. Saya jadi benci diri saya sendiri ketika saya sudah menunda-nunda untuk mengerjakan sesuatu.

Pekerjaan, kewajiban, ibadah2 saya.

Ditunda. Dan kemudian menumpuk. Semakin menumpuk. Bertemu dengan kemalasan saya, lalu berubah menjadi beban yang tak kunjung berkurang ringan.

Saya membenci diri saya sendiri karena beban kerja ini.

Saya sedang butuh bantuan, saya merasa seperti kekurangan waktu, padahal saya sendiri yang tak pernah bisa dengan cerdas mengatur waktu saya.

Dan ironisnya, dalam sempitnya waktu dan banyaknya beban kerja siang ini saya masih sempat nge-blog!

(sigh)

Maafkan saya, saya hanya ingin buang sampah sedikit….

XOXO,

Toekang Roempi

3 thoughts on “Menunda Itu Membebani

  1. sayapun seorang procrastinator. sudah sampai kelas akut pula. udah tau kan, setiap saya siaran selalu sambil ngetik dan lari-lari. itu karena saya tukang menunda.

    coba deh bikin check list. yang manual. yang tertulis di atas kertas. setiap hari. tugas-tugas apa saja yang akan kita selesaikan hari itu. tapi dengan amount yang realistis.

    dan nikmatnya mencentang item-demi-item akan jadi sebuah autosugesti buat menyelesaikan tugas-tugas yang tertunda.

    • @JelajahiDuniaEly : Tul banget, semuanya memang berawal dari diri kita pribadi, masalahnya kadang saya ini suka kurang konsisten…hehehe…tapi mencoba lebih baik daripada cuma diam saja.

      @ Nepih : Kalo to do list, itu memang sudah jadi salah satu kebiasaan saya juga sih, cuma ya itu, masalahnya, biar kata udah di list-in, tapi tetep, ada yang kelewat satu atau lebih. Ya seperti saya bilang , kalau menunda sudah bertemu dengan kemalasan, jadinya penundaan akut yang kelamaan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s