Susahnya Jadi Pengkhotbah

Siang ini saya melaksanakan sholat jumat di masjid dekat kantor. senangnya nggak usah jauh2 pergi. BTW, kali ini yang jadi pengkhotbah adalah bapak kyai yang satu itu (siapa juga anda pasti juga nggak kenal, wong saya juga nggak). Yang pasti bapak yang satu ini – bisa dibilang bukan salah satu yang jadi favorit saya. Soalnya…Uhmmm…sorry to say sih, gaya khotbahnya tidak menarik, kurang fokus dan saya sering bertanya dalam hati – ” benarnya nih topiknya apa siiih pak?” Hehehehe..maafkan saya,mungkin salah saya juga sih yang ngantuk di tengah khotbah, tapi kayaknya siang ini saya nggak ngantuk deh, tapi tetep aja saya nggak paham bapaknya ini mengambil tema apa. TAdi sih bilangnya mau ngambil tema tentang sejarah maulid nabi, tapi kok kemudian membahas tentang ciri-ciri orang alim? Padahal saya udah nunggu lho pak?

Udah gitu bapaknya ini membaca dari awal sampai akhir, sehingga saya merasa tidak “intim” dengan beliau…alah! Ya, tapi penting sekali untuk merasa bisa terkoneksi, tidak hanya sekedar mendengarkan saja. Menurut saya sih begitu. Bukan apa-apa, tapi tiap kali beliau yang khotbah, saya kok susah nangkep ya? tidak seperti beberapa pengkhotbah di masjid yang sama, yang kadang sih simple tapi bisa dinikmati.

Saya jadi ingat dengan salah satu kyai di tempat saya dulu. Namanya Pak Mahmud. beliau ini kyai yang terkenal, sampai kemudian pamornya turun karena tertarik dengan batu2 ajaib bertuah (layaknya ponari) dan menyebut dirinya sebagai “Gus”, hahahaha….(ini sih nggak ada salahnya) tapi memang makin kesini, pamor beliau sebagai seorang penceramah yang oke luntur pelan2 – walau kadang masih terdengar juga suaranya dimasjid jami’ comal.

Yang saya akui, gaya beliau dalam berkotbah jumat atau yang lain ini begitu dekat dengan pendengarnya, diselingi dengan humor yang nggak bikin ngantuk jamaahnya, kyai mahmud bisa menarik perhatian, dan memang para jamaah senang jika beliau yang berkhotbah.

Tapi memang, menjadi seorang penceramah itu nggak gampang. Diperlukan seseorang yang bisa mengatur pokok bahasan, mengembangkannya dengan taktis dan tetap bisa mengatur diri sebagai pusat perhatian. Terus terang saya tidak bisa, jangankan untuk menjadi penceramah, berbicara di depan publik saja saya belum tentu bisa. Masalah terbesar adalah karena saya punya kesulitan dalam meruntutkan subyek pembicaraan. Saya ini tidak bagus dalam urusan fokus. kadang bahasannya suka melebar kemana-mana dan loncat-loncat. ini sangat berbahaya bagi seorang pembicara, karena pendengar jadi susah untuk mengikuti alur dari subyek yang dibicarakan.

Yang pasti, saya jadi hapal, siapa-siapa yang berkhotbah di masjid dekat kantor. Beberapa jadi favorit saya, beberapa tidak. Ada yang bilang jangan melihat siapa yang bicara tapi dengar apa yang dibicarakan.

Tapi susah juga ya mendengarkan topiknya kalo udah nggak suka sama orangnya?

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s