Radio Lokal Dan Nasibnya

Tahun 2009 konon kabarnya adalah  tahun yang berat bagi dunia. dengan krisis ekonomi yang mendera, berbagai bisnis rontok satu-satu. Tidak terkecuali bisnis media. Dari sebuah blog saya kutip “Para penerbit yang tergabung dalam Serikat Penerbit suratkabar menyadari bahwa bisnis media cetak semakin berat” lebih lanjut juga disebutkan “…Mulai dari bangkrutnya Chicago Tribune, Los Angeles Time, sampai ditutupnya The Rocky Mountain News…” – from http://www.ridloeisy.blogspot.com .

Sementara dari blog lain di http://www.duniaradio.blogspot.com sedikit digambarkan bahwa dunia radio di tahun ini juga mengalami tantangan yang cukup luar biasa. Dengan terimbasnya produsen karena krisis ekonomi, semakin berkuranglah porsi iklan yang mereka punya, dan akhirnya, berkurang juga porsi iklan untuk radio.

krisis ekonomi, bukan pertama kali dihadapi. seingat saya, waktu dulu jaman reformasi, ketika dampaknya begitu “massive”, semuanya juga terkena imbas dari morat-maritnya tatanan ekonomi di negeri ini. Termasuk dunia radio. Memang sih jaman itu, kue iklan juga sedikit, dan kalau nggak salah, radio tempat saya bekerja dulu juga terkena imbasnya dan salah satu cara untuk tetap bisa bertahan adalah dengan mengurangi gaji karyawannya sebanyak hampi 40% banyaknya. Berjalan selama setahun sampai kemudian semuanya terasa biasa saja dan kembali berjalan normal.

(beruntung ketika saya memulai karir saya sebagai Toekang Roempi – saya terhindar dari pemotongan gaji tersebut karena begitu saya masuk, keadaan sudah normal kembali)

Ya, ketika krisis ekonomi, teman-teman saya kehilangan pekerjaan karena pabrik tempat mereka bekerja rontok satu persatu karena berkurangnya order, tempat saya bekerja masih berjalan seperti biasa. On air jam 5 selesai jam 2. Begitu seterusnya. Gaji juga dibayarkan normal sesuai jam kerja, walau masih terasa di bawah UMK – itu dulu, waktu masih di pekalongan, tapi setelah saya di semarang, gaji sudah lumayan kok. Walaupun sekarang krisis kembali menghantam. Tidak hanya sekedar lingkup lokal, tapi sudah mengglobal. saya kemudian bertanya-tanya, akankah bisnis radio masih bisa tetap bertahan seperti dulu?

Bukan apa-apa, karena entah kenapa saya merasa, bisnis dunia hiburan ini adalah salah satu jenis bisnis yang bisa bertahan disaat-saat susah. bagaimana tidak? ketika banyak orang pusing mikirin besok mau makan apa, masih sempet-sempetnya nonton acara gosip atau dengerin acara musik di radio. Mungkin polanya berubah, ketika dulu mudah sekali masuk klub untuk ajojing, barangkali dimasa krisis sekarang, cukup nikmati musik dirumah atau denger radio, dirumah juga. hehehehe.

Dan pagi ini saya mendengarkan sebuah siaran radio lokal – namanya Pantura FM. Mom lebih tepatnya, yang mendengarkan. Dan mau nggak mau saya juga ikut mendengarkan. Dan saya begitu amazed! ketika dengan fasih beliau menyebutkan siapa-siapa saja yang siaran, dan seperti apa gaya siaran mereka. Dan saya bilang “Ya ampuuuuun mi? kok iso nganti apal tho mi?”

Dan beliau bilang “lha terus piye? wong dirungoke ben dino, yo mesti apal yo? soale ki radione ra ono iklane, ra kakean ngomong, lagune nostalgia,..”

Hmmm…sebuah formula yang ampuh dari sebuah radio untuk bisa menjaring pendengarnya. Banyak lagu, sedikit iklan, sedikit bicara tapi informatif, dan mempunyai ciri khas yang cukup baik dari semua aspek siarannya, sehingga dengan sangat mudah dikenali oleh pendengar.

hanya saja jadi bertanya-tanya juga, akankah mereka bisa bertahan lama jika tanpa iklan? Karena operasional juga pasti akan butuh banyak biaya? Apalagi di tempat saya banyak sekali radio-radio lokal yang memang kesannya hanya sekedar sebagai tempat aktualisasi diri penduduk sekitarnya. Yaaa..bolehlah disebut sebagai ajang senang-senang.

Sekali lagi memang, radio terbukti sebagai media yang cukup ampuh dalam menghadapi dampak krisis ekonomi, karena radio masih menjadi satu-satunya hiburan yang paling murah untuk masyarakat kelas bawah sekalipun. Anda tak harus mempunyai receiver yang bermerk dan berharga mahal dengan suara bass dan stereo yang luar biasa, untuk bisa mendengarkan lagu-lagu favorit anda atau celoteh suara penyiarnya.

Mungkin karena itulah – karena tahu potensi pasar yang masih besar, pihak radio tidak perlu khawatir dengan keberadaannya, asal bisa kreatif dan tahu bagaimana selera pasar saat ini, krisis ekonomi bukanlah hal yang menakutkan dan justru sebagai tantangan untuk mendapatkan kue iklan yang semakin kecil.

Yakh, semoga saja radio2 lokal ini mampu bertahan lama, mengingat sejelek2nya kualitas audio mereka atau penyiarnya, toh masih ada yang mendengarkan. Contohnya mom, yang menikmati pemanjaan diri dengan lagu2 nostalgia yang diputar.

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s