Susahnya Menahan Amarah

Katanya sih wajar, kalau darah muda masih sering bergolak. sering lupa sama yang namanya akal sehat. Sering tidak bisa untuk mengendalikan diri. Dan sering lupa bahwa seharusnya usia yang bertambah, harus seiring dengan kedewasaan.

(tertawa sinis) namanya juga manusia. Tempatnya khilaf.

Tapi memang saya merasa, untuk yang satu ini, saya memang bukan ahlinya. Apalagi untuk hal-hal yang terjadi diluar dari rancangan. Ya, lebih tepatnya sih saya kurang bisa fleksibel bereaksi dan bersikap, seandainya terjadi sesuatu yang diluar dari apa yang saya kehendaki.

Tapi, siapa sih yang tidak kesal, jika mengalami sebuah kejadian yang tidak diharapkan? reaksi normal sebagai manusia, jika kemudian marah,mengumpat,  kecewa, dan kesal berkepanjangan. Walaupun ujung-ujungnya reda dan bisa menerima kenyataan, tapi saya yakin reaksi awal sebagai manusia biasa semuanya sama. Kecewa, kesal, marah, bahkan tak jarang menghujat.

Seperti malam ini, ketika tiba-tiba saya dan Mom mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Sebuah mobil yang dengan tiba2 berhenti di samping saya dan mom yang sedang jalan kaki, dan roda kirinya masuk ke dalam lubang berair yang kemudian, air dalam lubang itu muncrat mengenai saya dan mom.

Mom yang pakai baju putih jadi kotor semua, kerudungnya juga. Kalau baju saya tidak kelihatan kena kotor, tapi wajah saya jadi kecipratan air kubangan yang sudah bau itu.

Reaksi pertama saya adalah berteriak “Anjrit!!!!”

Lalu saya berhenti disamping pintu mobil itu dengan tampang marah dan kemudian keluarlah seorang ibu2 dengan anak kecil, dan seorang pria berkacamata dari pintu supir. saya menunggu reaksi dari kedua orang itu, tapi yang terjadi kemudian adalah mereka berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Dasar kampung!” begitu umpat saya kemudian.

Saya tahu ini kasar, tapi saya tidak mau menutupi kekesalan saya pada Anda. saya tahu itu adalah sebuah kecelakaan, sebut saya dan Mom sedang apes, tapi saya rasa sikap kedua orang itu juga tidak bisa dibenarkan. Apakah mereka tidak tahu kalau ban mobil mereka mengenai air kubangan yang muncrat ke saya dan Mom? Ah, emang kampung kalo begitu. Apa saya kurang ribut dengan mengatakan “gimana sih pak? ada lubang berair nggak liat-liat? Bisa nyetir nggak sih?”

Tadinya saya mau menendang pintu mobilnya, tapi nggak jadi begitu yang keluar ibu2 dengan anak kecil. Tapi sumpah, saya kesal sekali melihat si supir, yang cuma plonga-plongo begitu turun dari mobil.

Oh ya, sekedar informasi saja, selain saya, ada 2 korban lagi yang kena cipratan air kubangan itu, yaitu 2 orang pemuda tanggung yang sedang duduk-duduk di depan sebuah toko. Bayangkan seberapa kerasnya air kubangan itu muncrat kalo 2 pemuda tadi duduk agak jauh dari saya, dan tahukah anda bahwa mereka juga berteriak “ASU!!!” ketika air kubangan itu muncrat ke arah mereka?

Ya, saya sama dengan pemuda tanggung tadi. Mungkin sama-sama kurang dewasa dalam menyikapi kejadian sial yang menimpa kami.

Memang butuh kesabaran dan kedewasaan tingkat tinggi untuk langsung bisa menyesuaikan diri dengan peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita. Orang bisa bilang “sabar..sabar…” karena mereka tidak mengalaminya sendiri, tapi coba tutup mata sejenak, kemudian bayangkan kejadian ini…

“anda sedang ngobrol enak dengan ibu anda, sedang tertawa-tawa, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti mendadak dan bagian depannya melewati lubang berair yang sudah bau, dan airnya muncrat ke wajah anda dan  ke baju anda”

saya ragu seratus persen jika anda masih terus ngobrol, berlalu, dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan saya yakin seratus persen jika yang terjadi adalah anda sedikit marah-marah, anda akan mengatakan sesuatu pada supir mobil itu, entah apa  yang hendak anda katakan saya tidak tahu, tapi saya yakin, itulah rekasi pertama anda.

Berlatih kesabaran itu butuh proses yang panjang. Dan seringnya memang harus datang dari hal-hal yang membuat kita menderita. Mungkin akan sangat jarang jika kita berlatih kesabaran dari kondisi yang baik-baik saja, kondisi yang menyenangkan dan nyaman, yang bisa membuat kita tertawa. Karena seringnya, kesabaran itu terlatih memang dari peristiwa yang kurang menyenangkan, yang membuat kita bersedih atau marah. Dan proses itu seringnya memang susah untuk dilalui.

Saya akui itu.

Tapi apakah kita tidak boleh bereaksi negatif? Boleh saja menurut saya. Karena wajar jika reaksi kita umumnya negatif saat mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Hanya saja, seberapa lama kita akan bertahan dengan reaksi negatif tersebut? Apakah akan terus bertahan lama? atau tidak butuh waktu lama untuk melihatnya dari kacamata dan sudut pandang yang lain? dan bagaimana sikap kita setelah memulihkan diri dari perasaan kecewa. itu yang penting.

Karena biasanya justru proses melatih kesabaran itu dimulai dari fase ini. Tidak bisa dari awal, karena saya yakin akan sangat susah. Kalau sudah mempunyai kemampuan setingkat Nabi atau kyai yang ilmunya sudah  tinggi, baru bisa. Kecipratan air bau, hanya senyum2 dan berlalu tanpa marah dan mengumpat. Jadi ingat ketika Nabi dilempar kotoran manusia saat sedang bersyiar, dan konon kabarnya Beliau hanya diam dan tersenyum. Luar biasa…

Mungkin memang perlu belajar untuk bereaksi positif kali ya? Alih-alih saya berteriak ‘anjrit’, saya bisa bilang ‘Innalillahi’? atau ‘Astaghfirullah’? Ya, tapi memang itu butuh proses yang lama. saya tahu itu dan siapa tahu memang malam ini saya dan Mom sedang dilatih untuk itu.

Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan keadaan marah-marah seperti itu, tapi saya tidak bisa menghindarinya. jadi saya biarkan saja prosesnya. Yang tidak akan Saya biarkan adalah merasakan amarah ini berlama-lama. Mungkin dari situ saya bisa selangkah demi selangkah untuk tidak bereaksi negatif atau terlalu negatif, ketika saya mengalami kesulitan.

Yakh, semoga saja anda termasuk tipe yang bisa menahan amarah dengan baik. Tapi hati2 juga, menahan amarah juga harus disertai dengan keikhlasan tingkat tinggi lho? salah-salah bisa kena serangan darah tinggi, jantung bahkan stroke. Menekan marah yang tidak disertai dengan keikhlasan bisa berdampak jelek bagi kesehatan. Serius!

semoga malam ini saya bisa semakin belajar, walau saya tahu, proses ini masih akan memakan waktu lama….

XOXO,

Toekang Roempi

 

2 thoughts on “Susahnya Menahan Amarah

  1. wah pernah tuh saya kecipratan air kubangan gitu, waktu mo berangkat skul emang cuaca waktu itu hujan deres bgt, seperti biasa saya nunggu angkot ditempat favorit trus tanpa di duga ada mobil jlnnya kenceng bgt dan walhasil saya yg waktu itu pake baju seragam putih2 pun menjadi basah kuyup.
    Klo menurut saya ga ada salahnya menegur karena yah sisopirnya sudah mengendarai mobilnya dengan tidak baik tapi rasanya tidak perlu kita mengeluarkan amarah karena nantinya masalah yang harus tidak seberapa malah menjadi lebih besar. i
    Itu kalau menurut saya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s