Tatat Dan Bohai : Tentang Mocking Dan Jadi Orang Baik

Tatat melihat seorang cowok yang masih terhitung brondong , yang berdiri tak jauh dari hadapannya sekarang. Sementara Bohai justru melihat ekspresi Tatat yang sebentar manyun sebentar tersenyum. Bohai jadi curiga, jangan-jangan Tatat…

“Heh!” Bohai menghardik Tatat dengan mencolek lengannya. Tatat kaget dan melihat ke arah kekasihnya sambil tersenyum. Lalu dia berkomentar,

“Kalau dia naik mobil itu,” ujar Tatat sambil menunjuk ke sebuah Kijang yang ada disamping brondong itu berdiri. “..berarti an***t banget!” Bohai lalu celingkukan, ke arah brondong ceking jerawatan yang sepertinya habis berolahraga dan kelihatan sedang kelaparan, lalu ke arah mobil kijang warna coklat dan ke muka Tatat. Bingung tapi kemudian paham apa maksud pernyataannya barusan.

“Oh, Tatat iri…brondong yang tak lebih cakep darinya itu bisa naik mobil sedangkan dirinya baru bisa naik motor…” begitu kata Bohai dalam hati. Bohai tersenyum. “Aduh Tat, ga perlu iri kali, biar kata kamu jalan kaki, aku juga nggak akan berpindah ke lain hati, aku akan selalu setia menemani..” begitu kata Bohai, masih dalam hati.

Untungnya si brondong itu naik motor, Tatat nggak jadi marah-marah. Dia malah menahan tawa ketika melihat tingkah anak itu bersama dengan temannya yang nggak tahu kenapa ogah dibayarin beli jajan. Jadi ceritanya si Brondong ini mau traktir temannya tapi si teman menolak, dan akhirnya terjadilah adegan kasih-tolak-kasih-tolak. Teman ngasih duit, brondong menolak. Teman menolak dibayarin, brondong memaksa ngebayarin. Akhirnya si mas penjual makanan langsung berseru :

“Mas, kalau ndak mau sini buat saya ajah!”

Hu, dasar masnya mata duitan!😀

Kembali ke Tatat. ketika dia sadar bahwa si Brondong naik motor – yang sama bututnya seperti motor si Tatat, dia lalu menampar-nampar mulutnya sendiri. Sambil bergumam dia bilang “stop it! Stop it!”

Bohai paham maksudnya tanpa Tatat jelaskan. Tapi Tatat berusaha menjelaskan pada kekasihnya itu bahwa dia sedang dalam proses merubah diri menjadi orang yang lebih sabar dan bisa menahan diri. (pantesan aja Tatat sholat isyanya lama bener…udah sadar dan tobat kali ya?😀 )

Tatat bilang kalau sekarang dia nggak mau lagi “mocking” orang dan mau jadi orang yang baik. Yang kurang lebihnya bisa mengerti orang lain dan melihat semuanya dari sudut pandang orang lain.

Tapi beberapa menit kemudian…

“An***t!! Lambatnyaaaa….!!” (mocking untuk mobil yang berjalan dengan kecepatan lambat di depan motor Tatat.)

“Hooooo!!! dasar!! bisa nyetir nggak sih??” (mocking untuk mobil lain yang tiba-tiba aja nyelip dan mengagetkan Tatat)

Sementara itu dibelakangnya Bohai cuma bisa senyum-senyum. Tatat yang katanya mau jadi orang baik barusan kemana ya? Kok udah ilang?

Keduanya sadar bahwa selama ini mereka berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Maklum, walaupun usia (secara numerik) masih muda, terhitung muda lah kalau nggak mau dibilang nggak sadar diri – tapi pemikiran sudah mulai maju selangkah demi selangkah menuju ke arah kedewasaan. Dan mereka juga sadar kalau prosesnya ternyata lebih susah dari yang dikira.

"mocking"

"mocking"

Mocking- atau mencela (menurut kamus.net) adalah sebuah ekpresi kemarahan, ketidaksetujuan, ketidakpuasan atas sesuatu, yang ditujukan kepada pihak-pihak tertentu untuk menunjukkan bahwa ada beberapa hal dalam diri pihak itu yang mengecewakan orang lain. Dengan sengaja atau tidak sengaja tentunya. Karena ada juga orang yang mencela pihak-pihak yang sebenarnya tidak bersalah, tapi membuat si pencela marah. Biasanya yang begini ini diawali karena rasa iri dan dengki dan dilakukan untuk memuaskan hasrat kekecewaan dari si pencela- alah!

Dan kasus yang menimpa Tatat ini karena didasari karena iri. Bagaimana bisa si Brondong yang tak lebih ganteng dari dia bisa naik mobil? Nah, begitu.

Menjadi orang baik bagi Tatat dan Bohai adalah sebuah impian yang “desperately wanted to be true!” Mereka berdua benar-benar ingin menjadi orang baik. Baik bagi dirinya sendiri. Baik bagi orang-orang disekitarnya. Baik pada semuanya. Tapi nyatanya proses itu begitu susah.

Salah lagi. Salah lagi. Jahat lagi. Jahat lagi.

Dan Bohai pun sudah mulai putus asa pada suatu waktu ketika dia merasa tidak bisa melakukan sesuatu hal yang baik dalam hidupnya. Karena setiap kali berniat – godaan selalu datang. Tampaknya determinasi soal “jadi orang baik” ini kurang jelas dan kurang kuat.

Entah dengan Tatat. Walaupun Bohai tahu Tatat berwatak keras, tapi Bohai yakin dia bisa jadi orang baik.

Orang baik bukannya orang yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Tapi orang baik adalah orang yang menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya sembari mempertahankan diri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Orang baik adalah orang dengan wujud bahwa hari ini lebih bagus dari hari kemarin. Dan setiap hari selalu saja ada hal baik yang dilakukan untuk menebus semua kesalahan di masa lalu.

Ketika dalam perjalanan pulang inilah Bohai merenung…

“selama ini aku nggak pernah jadi orang baik dunk? nyatanya sekarang aja aku nggak sadar kalau aku sudah banyak ngelakuin kesalahan…” hikz…Bohai tertunduk lesu dan diam sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya bersama Tatat.

note from toekang roempi : Tatat dan Bohai adalah tokoh fiksi yang mungkin saja ada diluar sana. Sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Sama-sama doyan makan,ngakunya senang wisata kuliner, tapi ujung-ujungnya selalu makan yang itu-itu aja dengan alasan sudah tahu harganya😀 Mereka akan muncul sebagai tokoh dalam cerita-cerita pendek saya seterusnya di blog ini.

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s