Tatat Dan Bohai : Musim Kacau, Flu Tropis dan Kerokan

Plang…Plung…Plang..Plung…

Tatat melihat bergantian. Ke plafon kamarnya. Lalu ke ember warna merah muda dibawahnya. Bergantian. Ke atas – ke bawah – ke atas – lalu ke bawah lagi. Manyun. Lalu menarik nafas panjang.

“kamarku bocor lagi”

Begitu kalimat pesan singkat yang dia ketik di hapenya dan hendak dikirimkannya pada kekasih tercintanya, yang entah hujan-hujan begini sedang melakukan apa Tatat tidak tahu. Tapi yang pasti kali ini mereka tak bisa indehoy berdua karena hujan.

Lagi-lagi hujan!ūüėÄ sepertinya Tatat dan Bohai memang tidak pernah bisa akrab dengan hal yang satu itu. Hujan. Dan sekarang Tatat terkurung dikamarnya karena hujan kali ini memang cukup menakutkan. Semarang hujan deras disertai dengan petir dan angin kencang. Padahal menurut prediksi cuaca dari Badan Meteorologi dan geofisika Jawa Tengah – seperti yang dia dengar¬†kemarin siang di siaran radio swasta yang menyebutkan…

“Untuk cuaca kota semarang esok..cuaca akan berawan hujan dengan intensitas ringan..dengan suhu..bla..bla..bla (bagian ini tatat nggak ingat) dan kelembaban..bla..bla..bla..(apalagi ini…buat apa ngurusin kelembaban udara..satu-satunya kelembaban yang dia peduli adalah kelembaban area vitalnya yang harus terus dijaga agar tak jamuran)”

Jadi seharusnya cuaca semarang untuk hari ini berawan dengan intensitas ringan hingga sedang kan? Hujan yang sedang itu yang seperti apa sih? Yang begini ini berarti masih masuk kategori sedang? Gila aja parameter BMG? Kalo hujan angin pake petir gundala begini masih masuk kategori sedang? terus yang kategori hujan berat gimana? Yang harus pake batu es segala macam? Fffuh..

Plang..Plung..Plang…Plung…

Kok hanya suara itu? Kemana dering hape nada pesan masuk yang harusnya sudah Tatat terima dari Bohai? Kemana Bohai? Tidak biasanya dia¬†menunda membalas pesan dari kekasihnya yang tercinta ini (mode PD berlebihan : On). Ada apa dengan Bohai? Ah, jangan-jangan Bohai sudah KO dengan cuaca dingin¬†sore ini dan lebih memilih untuk berlayar ke “Pulau Kapuk”?

Sial, aku ditinggal sendirian, gerutu Tatat dalam hati.

Sementara di belahan daerah lain…

“Wuih rame banget!”

“Woi! Ada pohon tumbang!”

“Mobil sapa tuuuhh?…”

“Ih gila ye, mobil baru cyiiiiiiinnn….”

“takut akh…yuk muter…”

Bohai celingukan. Rame banget jalan Agus Salim sore ini. Suasananya kacau balau. Daun-daun berserakan disana-sini. Sementara pengendara sepeda motor membuat situasi lalu lintas jadi tambah semrawut. Mereka yang malas terjebak kemacetan dikala hujan begini lalu memilih untuk melalui jalan yang tidak macet. Tapi masa iya sih, sejak jaman kapan Jalan Agus Salim nggak semrawut?

Duh, kalau nggak ada keperluan aja ke Johar, juga nggak bakal keluar dimasa-masa seperti ini. Lagian tadi, waktu keluar rumah, nggak bakal ngira kalo hujannya sampe sebegininya.

Angin bertiup cukup kencang dan membuat jas hujan yang dipakai Bohai jadi seperti jubah Batman yang berkibar-kibar dan siap beraksi. Dia menyesal mengabaikan anjuran untuk membeli jas hujan two pieces, yang bisa dipakai seperti baju atas dan bawahan. Alasannya simple, nggak ah, nanti bodinya yang bohai jadi malah kelihatan seperti lontong. Malah jadi aneh.

Bohai berusaha menerobos kerumunan orang. Dalam keadaan kacau seperti itu dia masih sempet melihat seorang ibu muda yang kelihatan bingung dan seperti hendak menangis sambil memegangi kepalanya. Bohai mengambil kesimpulan kalau itu adalah si pemilik mobil baru yang ketimpa pohon.

“Wah, pasti belum sempet masuk asuransi…” pikir bohai usil dan sok tahu.¬†

Hujan kali ini memang cukup merata.. Hampir di seluruh area semarang dilaporkan hujan. Bervariasi. Ada yang cuma gerimis. Ada yang deras tapi bentar. Ada juga yang pake angin dan petir segala. Dan ternyata, tak hanya semarang saja tapi di beberapa kota lain juga diguyur hujan. 

Bohai berhasil keluar dari kerumunan dan melaju kembali dengan jumawa dijalanan kota semarang, pulang menuju rumahnya yang hangat.

Di dalam kamar¬†Tatat sedang mengupgrade pengetahuannya dengan membuka majalah remaja wanita (lhoh??? – tenang, ini majalah milik Bohai yang dibawanya tempo hari dengan alasan untuk jadi bahan bacaan dikamar)…

Sambil bergumam tidak jelas Tatat membaca beberapa informasi ringan seputar pemanasan Global. Dia sering mendengarkan isu ini tapi belum terlalu tertarik untuk mencari lebih jauh. Baginya, berita seleb terbaru lebih penting ketimbang daerah mana yang sedang banjir atau daerah mana yang justru sedang mengalami kekeringan parah.

Tapi sore ini hujan membuat Tatat jadi penasaran. Menurut selentingan, pemanasan global memang nyata adanya dan sudah terasa dampaknya. Hujan yang tidak seharusnya turun dibulan-bulan ini juga salah satunya. Padahal harusnya di Indonesia sekarang ini sedang terang-terangnya matahari bersinar di siang bolong dan bulan yang tersenyum indah waktu malam. Tapi kejadiannya sekarang, justru matahari tertawa terbahak-bahak disiang bolong dan bulan ngumpet entah kemana.

Tatat mulai membaca info tentang dampak Global Warming pada Indonesia. menurut artikel yang dia baca…

“Indonesia sudah mulai merasakan dampak dari pemanasan global (Global Warming) yang terbukti dari perubahan¬†iklim dan bencana alam yang terjadi. Dampak pemanasan global itu diantaranya adalah terjadinya perubahan musim dimana musim kemarau jadi¬†lebih panjang daripada yang seharusnya sehingga menyebabkan banyak¬†petani gagal panen karena kurangnya ketersediaan air…”

Tatat melihat ke atas plafon…sambil berguman “Tuh…air diatap¬†nyisa mpe ngucur¬†ke kamar…” masih dengan tampang manyunnya Tatat kembali menekuni bahan bacaannya.

“Dampak lainnya yaitu hilangnya berbagai jenis flora dan fauna khususnya di Indonesia…”

Hmm…

Lalu Tatat beralih ke artikel lain.

“penelitian dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyebutkan, Februari 2007 merupakan periode dengan intensitas curah hujan tertinggi selama 30 tahun terakhir di Indonesia. Hal ini menandakan perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global.¬†

Indonesia yang terletak di equator merupakan negara yang pertama sekali akan merasakan dampak perubahan iklim. Dampak tersebut telah dirasakan yaitu pada 1998 menjadi tahun dengan suhu udara terpanas dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya. 

Diperkirakan pada 2070 sekitar 800 ribu rumah yang berada di pesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 dari 18 ribu pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut”

HAH??? Tatat bergidik ngeri membayangkan air dalam jumlah yang masiv.

lebih lanjut sebuah artikel menggambarkan…

“Perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global telah menjadi isu besar di dunia. Mencairnya es kutub utara dan kutub selatan yang akan menyebabkan kepunahan habitat di sana merupakan bukti dari pemanasan global.

Pemanasan global disebabkan kegiatan manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dari industri, kendaraan bermotor, pembangkit listrik bahkan menggunaan listrik berlebihan.”

Tatat langsung bangkit dari posisi rebahannya. Bukannya lebay bukannya sok over reactive, tapi Tatat jadi luar biasa kaget bukan kepalang, bukan karena ramalan terjadinya bencana, tapi kaget karena selama ini dirinya termasuk yang ignore dengan isu-isu penting seperti ini.

“Duh, terlalu banyak dugem!” batin Tatat.

Dengan gaya anak kecil yang keranjingan mainan baru Tatat langsung menyambar hapenya dan menelepon kekasih tercintanya si Bohai.

Nada tunggu…

“Halo? Bohai sayang…”

“Halo Tatatku..”

“Darimana si kok smsnya gag dibalas?”

“Abis dari Johar..keujanan..”

“Oooh…eh tahu gag kalo aku bis baca info kalo ternyata hujan yang terjadi sekarang ini adalah dampak dari pemanasan global! makanya tuh, jangan buang sampah sembarangan, matikan listrik kalo nggak kepake! Kita harus ikut serta dalam mengurangi dampak pemanasan Global…!! Kita harus jadi pasangan yang Go Green!!!”

“Aduuuuh..Tatat ngomong apa sih…ntar aja deh ngomongin Green Green-nya…aku tak muntah dulu…kena flu tropis nih..”

“Muntah? Flu Tropis?”

“Masuk angin tahuuuu…bentar..Uhmmm..Hmmpphhh..dah yaaa….”

….

“HOEEEEKKKK!!!!!”…”HHOEEEEEKKK!!!!!”

dan Bohai pun sukses muntah-muntah…

SMS dari Tatat untuk Bohai

“Yank, kamu ngga papa?”

Jawaban Bohai untuk Tatat

“ga papa, ni lagi kerokan ma mbak Jah…”

Note from toekang roempi : Tidak ada kata terlambat untuk berpartisipasi dalam perlindungan bumi. Daripada tidak sama sekali? Mungkin memang sudah jauh tertinggal tapi tak ada salahnya memulai. Setidaknya sudah ikut berusaha merawat apa yang kita pakai. Selamat hari bumi semuanya. Salam dari Tatat dan Bohai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s