Tatat Dan Bohai : Mahasiswa dan Intelektualitas

Bohai selalu bermimpi jadi mahasiswa. Dia selalu ingin bisa hadir di ruang kuliah dengan segudang buku dimejanya dan kesana-kemari mengumpulkan bahan untuk tugas kuliahnya. Nongkrong dikampus, ngumpul bareng sama temen-temen sesama mahasiswa baik dengan alasan tugas atau just for fun dengan kamuflase sedang melakukan diskusi.

Tapi Bohai hampir bisa dipastikan tak pernah bisa jadi mahasiswa. Sejak lulus sekolah menengah atas, tawaran pekerjaan sudah mampir. Bukan kerja yang menghasilkan banyak uang, tapi masih terhitung lumayan untuk seseorang yang hampir bisa dipastikan tak pernah punya uang sendiri kecuali nodong sama orang tua. Ditambah dengan kondisi keuangan keluarga yang tidak memungkinkan untuk mengirim Bohai ke bangku kuliahan, membuat dia mau tidak mau harus menerima tawaran kerja itu.

Keluarganya maklum,buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo nantinya cuma ngurusin keluarga? (pemikiran yang sangat tidak maju, tapi memang masih ada yang punya pikiran seperti itu)

Tapi jauh didalam hati, Bohai  masih menyimpan hasrat untuk kembali mengenyam pendidikan di tingkat yang lebih tinggi. Walau sudah sangat terlambat ,tapi keinginan untuk menjadi kaum intelektual indonesia masih cukup membara. Hasilnya, hobi nongkrong dikampus pun UNDIP pun menjadi salah satu agenda (hampir) rutinnya.

Bersama dengan teman satu kantor yang masih jadi mahasiswa, atau bareng sama Tatat, yang selalu saja ngerasa aneh setiap kali Bohai minta ditemenin nongkrong di kampus.

“ati-ati lho say, lama-lama kamu bisa stress, bis itu gila gara-gara kepingin jadi mahasiswa tapi ndak isa..” begitu kata Tatat.

Bohai menjelaskan pada Tatat bahwa dia tidak perlu khawatir. Ini bukan obsesi yang berlebihan, sebenarnya. Semuanya masih dalam tahap wajar. Lagipula, kegiatan di kampus hanya nongkrong, makan dan memperhatikan tingkah laku orang-orang disekitarnya.

Bohai pernah nanya sama WullWull, temannya

“Sebenarnya anak-anak itu pada ngapain sih Wull?”

“Ya sama seperti yang kamu lakuin sekarang ma aku Bo. Nongkrong. Makan rujak. Beli cimol. Ha Ha Hi Hi ma temen-temen…(membuka mulut lebar-lebar dan mempersilakan sepotong bengkuang bersambal gula jawa masuk)”

“Terus mereka tuh ngga ada kuliah, gitu?”

“Ya udahlah… dari tadi” (kali ini sepotong jambu biji dengan sambal gula jawa yang sama menjadi “korban” keganasan WullWull siang itu)

Bohai mangut mangut…

Dan kembali siang ini Bohai mengajak Tatatnya tersayang untuk menghabiskan waktu sore hari sepulang kerja untuk melihat-lihat keramaian yang ada. Seperti biasa Bohai merayu Tatat dengan menjabarkan apa-apa saja yang bisa Tatat dapat kalau mau menemaninya nongkrong.

“Kamu bisa makan bareng sama aku dan di Undip banyak Eye candy yang bisa kamu nikmati sore-sore lhooo…”

Dan mereka berdua pun capcus nongkrong di Undip pleburan.

Suasana sebuah “cafe” – yang sebenarnya adalah sebuah rumah makan terbuka yang jadi tempat nongkrong mahasiswa menjadi tujuan Tatat dan Bohai. Tidak ada tujuan lain selain melihat aktifitas mahasiswa di sore hari.

Ada yang bergerombol disebuah titik sambil tertawa-tawa. Ada yang cuma duduk sendirian sambil sesekali melihat jam tangannya. Mungkin sedang menunggu jemputan. Ada yang sedang sibuk sms-an sambil nunggu jamur krispinya matang, ada juga yang sibuk baca buku sambil komat-kamit.

Daerah satu ini memang salah satu spot yang hampir tak pernah sepi. Dari pagi buta sampai pagi lagi dan seterusnya, wilayah kampus menjadi salah satu tujuan “kunjungan” rewo-rewo. Mau kuliah sambil nongkrong? disini aja. Mau makanan apa saja tersedia. Dari nasi sampai mie, dari empek-empek sampai cireng, dari air putih sampai jus, semuanya ada.

Bahkan Bohai sempat berpikir, kampus ini jadi seperti foodcourt, bahkan beberapa dari orang-orang ini tidak jauh beda dengan anak-anak SD yang suka jajan diluar pagar sekolah.😀

Sembari menikmati nasi tahu gongso dan jus jambu, Tatat dan Bohai menikmati sore ini dengan ber-eye candy bersama. Tapi sejak kejadian di beberapa malam lalu ketika mereka membahas soal eye candy, mereka jadi sama-sama nggak komentar tentang apa yang mereka lihat.

Cafe itu tidak terlalu ramai. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi makanan ditempat ini lumayan enak. Bohai tahu tempat ini juga dari Tatat, yang juga tahu dari temannya yang kuliah di Undip.

Disalah satu sudut, terdapat TV 14 inchi berwarna dengan tampilan yang sudah seadanya. Sedang tune in disalah satu stasiun TV swasta yang sedang menayangkan informasi sore, dimana salah satu “anchor”nya adalah teman SMP Bohai (Bohai selalu berkomentar “itu temen smpku lho…” setiap kali orang ini muncul – Bohai lupa kalau semua itu tidak ada urusannya, mau temen smp atau mantannya semasa SMP juga nggak ada yang peduli, dan sudah dipastikan si “anchor” juga sama nggak pedulinya dengan orang lain).

tawuran1

Lalu muncul info itu..tentang tawuran mahasiswa 2 universitas di Jakarta yang dipicu dari isu penodongan mahasiswa salah satu universitas tersebut yang diduga dilakukan oleh mahasiswa universitas satunya. Disebutkan bahwa tawuran 2 universitas ini sudah kerap  kali terjadi dan selalu saja terjadi hanya karena hal-hal kecil.

“Ih, negara kita mau dipegang ama orang-orang seperti ini?” komentar Bohai sambil mengunyah makanannya.

Keduanya terpaku pada gambar-gambar bergerak itu. Orang-orang itu saling melempar batu dan apa saja yang bisa dilempar. Pemandangan yang sangat mengganggu ketika terlihat seseorang yang sedang dikuasai emosi mengacung-acungkan senjata berupa celurit…

“Duh itu mahasiswa kok sempet-sempetnya bawa celurit ke kampus ya?”

“Eh, sapa bilang itu mahasiswa? siapa tahu bukan?”

“Ya nggak tahu juga lah…katanya yang tawuran itu mahasiswa? Ya kita yang ngelihat taunya ya mereka itu mahasiswa”

Tatat diem dan tampak menikmati suapan berikutnya dari seporsi nasi tahu gongso.

“Duh…nganeh-anehi…”

Ditayangan yang berikutnya muncul sebuah footage dari banyaknya tawuran-tawuran yang terjadi antar mahasiswa. Di jakarta. Di Makasar. Di beberapa tempat di Indonesia. Dan kemudian ada sebuah line  yang menyebutkan

“…apakah seperti ini cermin dari kaum intelektual muda kita?….”

Bohai langsung nyamber

“Tuh! apakah seperti itu cermin dari kaum intelektual? yang harusnya bisa lebih bisa melakukan langkah-langkah yang mencerminkan bahwa mereka ini adalah kaum terdidik daripada menggunakan otot?”

“Duh Bohaiku…aku ndak tahu ah…”

Lalu Bohai ngomyang sendiri nggak jelas.

“Mbok mending duitnya dikasih ke aku aja sini…buat aku kuliah, daripada kuliah cuma buat begituan doang…”

“Yee…ngarep!” ujar Tatat “udah ah, dimakan tuh nasinya…”

Pemandangan yang sangat miris memang melihat kaum intelektual muda kita melakukan tindakan-tindakan anarkis seperti itu. Orang-orang itu  harusnya bisa jadi contoh bahwa otak harusnya bisa dipakai daripada otot,

Memang tidak semuanya seperti itu, tapi demi melihat yang segelintir itu, mau tidak mau kita juga jadi berkomentar

“ternyata memang benar ya, IQ itu tidak lebih penting dari EQ?”

Banyak orang yang IQ-nya mungkin terhitung tinggi tapi tidak disertai dengan EQ yang tinggi juga. Makanya ada yang bilang orang pinter tapi keblinger.😀

Makanya si Bohai geregetan…apa jadinya negara kita kalau calon-calon pemimpinnya begitu itu? Jangan-jangan nanti gedung DPR akan dipenuhi dengan adegan baku hantam seperti di parlemen Taiwan? Ah, Bohai terlalu jauh membayangkan kondisi ini…semoga saja tidak terjadi.

Lamunan Bohai buyar ketika terdengar suara ibu-ibu yang berkomentar cukup keras..

“Whoooo dasar cah-cah jaman saiki ra ngerti nek golek duwit angele koyok ngono, disekolahke ko mung kanggo gelut!!”

tawuran2

Bohai menarik nafas dalam dan lega…

Ternyata masih ada yang sependapat dengannya.

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s