Ketika Saya Diam Sejenak

Berhenti sejenak…

untuk itulah fungsi tombol “pause”…supaya kita bisa menghentikan sejenak lagu yang sedang kita dengar. Supaya kita bisa menghentikan sejenak film yang sedang kita tonton.

Dan saya punya semacam tombol pause dalam hidup saya

Saya sedang ingin memencetnya sebentar dan berhenti sejenak. Ah, saya jadi pengin melihat-lihat. Ada kejadian apa saja disana?

Hmmmm…teman saya. Sedang bermasalah dengan temannya. Menjadi sampah dan disalahkan. Begitu dia merasa. Tidak terima tapi tak juga bisa melakukan apa-apa. Kenapa harus ada ucapan seperti itu? Dia juga tak tahu.

Ah, saya juga pernah merasa seperti itu…

Sementara yang lainnya sedang terlibat sebuah diskusi yang “seru”. Menguras tenaga dan pikiran. seperti masalah yang tak berkesudahan. Hilang satu muncul yang baru. Dibahas tapi seperti membentur dinding buntu yang sama.

Hmmm…saya berharap semuanya akan berakhir baik-baik saja.

Dan dia…Dia sedang sedih. Kondisi ini, rasa bersalah ini, membunuhnya perlahan. Saya sedih ketika harga dirinya terluka. Saya ingin melakukan sesuatu tapi tampaknya saya punya banyak sekali keterbatasan untuk melakukan sesuatu. Saya jadi ikut sedih. Apa lagi yang bisa saya bantu? Saya benar-benar ingin tidak hanya sekedar bicara dan memberikan semangat, tapi saya ingin melakukan sesuatu yang lebih nyata. Memberikan bantuan untuk apa yang ia butuhkan. Tapi tampaknya Tuhan menggariskan bahwa saya hanya boleh membantu sekedarnya. Hanya seperti ini bentuknya.

Tapi saya merasa beruntung masih bisa punya keinginan untuk membantunya keluar dari semua masalah ini…

Dan ketika saya mem-pause rotor kehidupan saya sejenak, mungkin diluar sana ada banyak orang yang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan bisa jadi saya sendiri juga termasuk didalamnya? Well, saya tidak tahu.

Yang pasti memang cukup susah jika melihat ke dalam diri sendiri tanpa melihat apa yang terjadi disekitar saya. Bukan ingin membandingkan, tapi saya menyebutnya sebagai proses belajar. Saya belajar dari orang-orang disekitar saya, dengan masalah-masalah mereka, karena saya juga mungkin akan mengalami masalah yang sama. saya akan belajar dari bagaimana mereka menghadapi masalah mereka. Saya akan belajar dari bagaimana mereka mendapatkan solusi dari apa yang sedang mereka alami.

itulah kenapa saya menekan tombol pause pada diri saya…

Bercermin bahwa hidup saya tak boleh selamanya “terlalu”

Terlalu merasa baik-baik saja dan kemudian terlalu senang akan keadaan ini juga tidak bagus. Karena diluar sana juga masih banyak yang terlalu. Dan siapa tahu saya juga akan mengalaminya, walau saya berharap juga nggak pakai embel-embel “terlalu”.

Menekan tombol pause, penting untuk saya.

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s