Tatat Dan Bohai : A Thing Called Memory

Bohai berpikir…sekecil apapun itu, sesingkat apapun itu, semuanya selalu bisa menjadi kenangan…Tidak perlu hal yang luar biasa untuk menjadi sesuatu yang mudah diingat. Tidak perlu berlebihan untuk bisa dikenang. Hal-hal yang terlihat biasa oleh seseorang, bisa menjadi hal yang luar biasa untuk yang lain.

“kalo lihat ini..jadi inget dia. Kalo lihat itu…duh, inget dia. Kok susah sekali ya melupakan dia? padahal aku dah benci banget sama dia…” begitu komentar teman Bohai, disuatu malam ketika mereka makan bersama.

Lalu Bohai manggut-manggut

“Salah nggak sih kalo sesekali masih ingat dia?” tanya temannya yang lain.

Dan Bohai hanya menjawab dengan senyum. Nggak tahu musti jawab apa. Antara ingin mengatakan tidak apa apa-apa…tapi terlalu takut untuk memberikan komentar yang salah. Dan si teman hanya bilang

“Halllloooo???!! ditanya kok ogah njawab. mending nanya ama sandal sekalian…”

dan dia benar-benar ngobrol sama sandalnya…”eh..salah nggak sih..bla..bla..bla…”

Bohai jadi ingat dengan salah satu temannya yang ada di  luar jawa. Dia sering bercerita betapa kangennya dia dengan ayahnya. Hanya sayang, kesempatan untuk melepas kangen itu sudah tidak ada lagi karena ayahnya sudah meninggal. Bohai beruntung masih punya keduanya. Jadi dia masih bisa melepas kangen kapan saja dia mau.

Temannya mengaku bahwa dia memang tidak terlalu dekat dengan ayahnya semasa beliau hidup. Entah apa penyebabnya Bohai tidak pernah ingin tahu lebih lanjut karena selalu saja ketika ditanya, sang teman  hanya tersenyum tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.

“Ada lah…” begitu dia bilang.

“Sekarang baru tahu kalau sebenarnya aku menyesal tidak begitu dekat dengannya…baru-baru menjelang belau sakit saja aku baru bisa mencoba untuk melakukan sesuatu…”

Lalu dia melihat ke sebuah sepeda usang yang teronggok disebuah sudut.

“Kalau lihat sepeda itu jadi ingat beliau. Jadi ingat kalau ternyata sepeda itu bisa sampai kesini juga penuh dengan perjuangan…jadi inget waktu terakhir kali melihat beliau berjalan…he look so old…”

Dan teman itu menangis. Bohai hanya bisa mengusap-usap lengannya.

..

Walaupun singkat, tapi seseorang bisa mempunyai banyak kenangan dengan seseorang.

..

menciptakan kenangan memang tidak butuh waktu lama. Hanya ala kadarnya saja…tidak perlu disengaja untuk diciptakan, biarkan saja mengalir hingga kenangan itu tercipta sendiri.

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s