Bagaimana Mendeteksi Seorang Pembohong

Jujur – hancur. begitu orang (jahat) bilang. Tapi orang bijak mengatakan “Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana”. Tapi kita ini manusia biasa, bukan orang-orang terpilih, yang sesekali atau berulang kali menyelipkan kebohongan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Didunia ini, termasuk kita (mungkin) banyak pembohong-pembohong yang terlatih. Entah dengan penjabaran seperti apa tentang status “terlatih” ini. Tapi yang pasti, ada pembohong-pembohong yang memang sangat ahli menutupi kebohongannya sampai tak terbongkar.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bella DePaulo, seorang psikolog dari Universitas Virginia menyebutkan bahwa berbohong adalah sebuah kondisi normal dari manusia. Selama seminggu penuh, Bella dan koleganya melibatkan sebanyak 147 sampel manusia berusia 18-71 tahun. Selama seminggu penuh mereka diminta untuk mencatat aktifitas harian mereka, termasuk bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain, termasuk kebohongan-kebohongan yang telah mereka buat. Dari hasil penelitian tersebut, rata-rata sampel melakukan kebohongan sebanyak lebih dari 10 kali selama sehari. Hanya 7 orang yang mengaku nggak pernah bohong sama sekali selama penelitian berlangsung.

Kadang-kadang kita memang “terjebak” dalam kebohongan. Entah itu yang positif sekalipun. Seperti misalnya ketika kita ditawari untuk menikmati makanan yang sebenarnnya tidak begitu enak, tapi demi membuat perasaan orang jadi senang, kita tidak mengatakan yang sebenarnya. Inilah yang disebut sebagai bohong putih. Tapi bagaimanapun bentuk dan warnanya, kebohongan tetaplah sebuah kebohongan. Inilah yang juga terungkap dari studi Bella dan teman-temannya.

Dalam riset tersebut disebutkan pula bahwa frekwensi kebohongan antara lelaki dan perempuan sama besarnya. Hanya saja alasannya berbeda. Kalau perempuan berbohong, lebih kepada karena perasaan orang lain, tapi lelaki melakukannya demi perasaannya sendiri.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana mengetahui orang lain itu berbohong atau tidak?

Banyak orang percaya pada alat ukur deteksi kebohongan atau yang bisa disebut sebagai polygraph. Alat ini terkenal sejak 1900. Beberapa hal utama yang jadi patokan dalam pengukuran dengan polygraph adalah pengukuran tekanan darah, detak jantung, keringat dan pernafasan ketika subyek diberikan beberapa pertanyaan. Hanya saja ada 2 masalah utama yang dihadapi oleh Polygraph. dimana masalah tersebut adalah akurasi yang hanya mencapai 80% saja – menurut asosiasi polygraph. Dan lagi alat tersebut tidak portabel yang bisa dibawa kemana-mana. Sehingga penggunaannya hanya terbatas pada situasi dan kondisi tertentu.

beberapa orang mengatakan kita bisa melihat apakah seseorang berbohong atau tidak yaitu melalui gesture atau tingkahnya, tapi DePaullo tidak sepenuhnya setuju dengan hal itu karena beberapa juga didasari dari motivasi dan tipe dari kebohongan itu sendiri. Dan kedua hal tersebut bisa mempengaruhi bahasa tubuh dari si pembohong.

Tapi meski begitu, dePaullo yakin dengan beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengungkap kebohongan diantaranya adalah pembohong cenderung memberikan jawaban-jawaban pendek dan menghindari untuk menjelaskan lebih lanjut dari apa yang ditanyakan, tidak seperti orang yang jujur. Menurut penelitian DePaullo, pembohong cenderung menggunakan sedikit kata dan menghindari perbincangan lebih lanjut tentang beberapa hal yang coba diungkap oleh pihak lain.

beberapa pembohong yang sudah terbiasa sering tidak menunjukkan tanda-tanda seperti berkeringat, tapi kita bisa melihat beberapa hal lain yang menunjukkan kebohongan yang dilakukan oleh seseorang diantaranya adalah tatapan mata yang tidak fokus, nada bicara yang cenderung meninggi dan perubahan nafas yang terasa agak berat, walaupun DePaullo juga menyadari bahwa tidak semua orang dengan tanda-tanda seperti ini sedang berbohong.

Ketidak fokusan tatapan mata bisa jadi sebuah kebiasaan dari seseorang, bukan karena dia sedang berbohong. Selain itu pembohong cenderung menolak untuk mengakui bahwa mereka kehilangan beberapa hal penting saat mereka diminta untuk bercerita tentang detail. Orang jujur kebanyakan menyadari bahwa mereka melewatkan bagian-bagian penting dari cerita mereka dan mereka akan segera membenarkan kesalahan mereka,tapi pembohong tidak mau disalahkan kalau mereka ketahuan terlewat detail.

Petunjuk lain adalah bahwa pembohong sering menggunakan kata yang tidak tepat. Untuk memberikan jarak mereka dari kebohongan itu sendiri, pembohong sering menggunakan kata “kita”, “mereka” dan “kamu”. Pembohong juga sering meminta pertanyaan untuk diulangi dan mereka akan mulai menjawab dengan “sejujurnya nih..” atau “sebenarnya nih…”

Orang yang jujur akan menggerakkan tangannya sesuai dengan apa yang dikatakannya. Gerakan tangan menekankan frase.

Sebuah studi juga menemukan bahwa pembohong senang menggunakan telepon dibanding harus face to face. Mode komunikasi yang lain adalah melalui email maupun messanger.

Dan kemudian apakah kita akan benar-benar bersih dari kebohongan? Well, mungkin memang agak susah. Dan semoga kita tidak jadi korban kebohongan ya?

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s