Tatat Dan Bohai : Antara Gelandangan Dan Ahli Komputer

spa ikanAh, sudah lama Bohai ingin melakukan ini. Mencelupkan kaki ke dalam sebuah kolam ikan. Mendinginkan kedua belah telapak kaki dan berharap ikan-ikan akan mengerubunginya. Seperti layaknya spa ikan yang harganya puluhan ribu rupiah itu, dan berharap ikan-ikan kecil pemakan kulit mati karena kurap dan kutu air a.k.a rangen akan menyembuhkan penyakit kulitnya. Tapi tidak ada yang terjadi. Kolam ikan itu sepi. Tidak ada ikan-ikan kecil yang datang mengerubungi. Yang ada hanya lumut kecil yang mengapung disana-sini seperti kotoran kuda. Tapi dasar Bohai, dirinya cuek saja. Mengelilingi taman hiburan ini memang bikin kaki rada “gempor”.

Kolam ikan itu terletak di tengah-tengah taman hiburan keluarga yang siang itu tidak begitu ramai. Walau hari libur, tapi tampaknya taman hiburan keluarga ini tidak menjadi tujuan utama untuk menghabiskan waktu. Mereka lebih suka jalan-jalan keluar kota, atau paling banter ke mall.

Tapi Bohai dan kekasihnya Tatat memang bukan tipe pasangan yang menyukai keramaian kota. (jieee!!). Mereka berdua lebih suka jalan-jalan ke daerah pinggiran, mencari suasana baru, dan ke tempat yang tidak terlalu ramai dengan orang. Bukan bermaksud mencari-cari kesempatan untuk berbuat mesum, tapi buat mereka, berpacaran memang membutuhkan “kekhusyukan” tersendiri. 🙂

Tatat duduk di seberang Bohai. Dia juga mencelupkan kedua kakinya ke dalam kolam.

“mana ikannya? rangenmu dimakan ikan nggak? kok ikannya nggak ada?”

Bohai bersungut ketika Tatat menyinggung soal rangen.

“Enak aja rangen! Nggak yooo? wong kaki mulus-mulus begini kok dibilang rangen…”

Tatat tertawa

“Kolamnya diisi piranha aja yuk Tat? Jadi kalo ada yang nyelupin kaki kesini pas diangkat, whoaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!” Bohai tertawa terbahak-bahak.

“kamu tuh sadis kok Yank, emang deh…wong kolam ikan umum kok mau diisi piranha..”

keduanya terdiam. Sementara kecipak air kolam masih terdengar pelan saat kaki kedua pasangan yang sedang indehoy itu bergerak-gerak di dalam kolam.

Bohai mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Koran.baca koran

“Walah Sayangkuuu…hari minggu, piknik, kok bawa koran?” protes Tatat.

“Eh..jangan salah…biar kata hari minggu, liburan, tapi update informasi kudu jalan terus to ya?”

Bohai membuka-buka halaman surat kabar harian yang jadi langganannya.

“Wuih…usianya masih 26 tahun. Programmer komputer handal…game bikinannya udah tampil di Yahoo! liat deh…”

Bohai memberikan surat kabar yang dipegangnya itu pada Tatat. Tatat hanya melihatnya sekilas dan mengembalikan surat kabar itu pada kekasihnya.

“status…menikah…” guman Bohai. “Ih, kebayang nggak sih kayak gimana kehidupan suami istri mereka?”

“maksudnya?”

“Nggak tau ya Tat, sering aku nanya dalam hati, kalo ada progamer komputer yang kerjaannya kukuuuut ama yang namanya komputer, terus pasangan mereka kayak gimana ya Tat? kata temenku to, dia itu kan punya temen yang katanya twenty four seven kerjanya didepan komputeeeer melulu. Opo yo gak pegel to?”

“ya namanya juga udah hobi yang jadi pekerjaan si Yank? Kamu kan nggak tahu aja seperti apa mereka sebisa mungkin ngatur ritme hidup mereka sendiri”

“Ya makanya aku nggak tahu sih tat? makanya jadi penasaran. Lha wong kamu aja kalo udah sibuk ama hapemu, aku merasa dianggurin. Apalagi kamu jadi programmer komputer yang 24 jam melototin komputer, iso sawangen aku!” Bohai tertawa… “Aku bersyukur kamu nggak terlalu disibukkan dengan kerjaan ya Tat?”

Tatat tersenyum.

“Ya..kadang-kadang, memang kita nggak bisa mengerjakan semuanya. Harus ada yang paling enggak dikorbankan. Sekuat apa keinginan kita buat berbuat adil tapi kadang masih ada yang kurang puas juga. Iya kan? Tapi aku yakin kehidupan keluarga orang yang dikoran itu baik-baik saja lah…nggak mungkin kalo nggak mesra. Si istri juga udah paham kali, kehidupan suaminya. Kalo nggak paham, mana mau dinikahi? Ya nggak?”

Bohai mengangguk pelan sambil berguman “Iya sih…”

Lalu Bohai membalik halaman lain.

“Seorang istri menjadi dalang pembunuhan suaminya dengan motif perselingkuhan…”

“Nah!!!..lihat deh!!!” Bohai berseru pada Tatat.

“…si wanita mengaku kalau suaminya sudah tidak lagi memberikan nafkah batin..sehingga si istri berselingkuh…dan keduanya merencanakan pembunuhan…Ih, jahat banget sih??!!”

Tatat hanya tersenyum.

“Duuuh..hidup…hidup…ada-ada aja…banyak masalahnya ya?”

“Ya kalo nggak mau bermasalah ya jangan hidup, begitu kata orang bijak.”

“Yakh…darimana bijaknya? wong malah nyuruh mati kok bijak.”

Tatat tertawa. “Ya habis gimana? mungkin mereka juga kesal dengan keluhan-keluhan tentang hidup si Say? Mungkin akhirnya mereka bilang begitu. Kalau nggak mau ngerasain masalah ya jangan hidup sekalian. Kalau masih pengin hidup ya berarti harus siap dengan permasalahannya. Sama juga kan dengan pilihan yang mungkin diambil sama istri si programmer komputer tadi. Kalau dia pengin menghindari masalah, ya mending dia nggak usah nikah aja ama itu mas-mas. Tapi karena cinta dan sudah sadar konsekuensi yang harus diambil, ya wis..jalan terus.”

Bohai terdiam memperhatikan Tatat sambil terus bermain-main dengan air.

“Iya juga sih tat. Jadi kangen sama masa kecil dulu ya? kayaknya hidup jaman kita kecil dulu enak banget ya? Nggak ada masalah..”

“Siapa bilang? Banyak kali masalahnya? cuma kan karena kita masih kecil, jadi kita mah cuek-cuek aja, karena semuanya masih jadi tanggungan orang tua kita. Giliran sekarang, ya sudah saatnya mikirin..”

“hehehehe…eh, tapi Tat, menurutmu, gelandangan itu sama-sama punya beban masalah nggak ya?”

“Ya sama dong? mereka juga punya beban pikiran, kira-kira besok makan apa? ntar mau tidur dimana? habis ini mau ngapain aja? biar tetep bisa hidup sampai besok pagi dan seterusnya…”

“Oalah..aku pikir yang namanya orang gila dan gelandangan itu udah bebas dari masalah hidup Tat?”

life is a problem“Ya nggak tahu juga sih, karena kan kita melihat semuanya dari kacamata kita. Bukan dari kacamata mereka. Dan kita juga nggak pernah tau apa yang ada dipikiran mereka kan? ya intinya, hidup itu emang penuh masalah. Cuma memang kita kudu tahu kalo Tuhan juga masih Maha Adil, ngasih masalah tapi juga ngasih jalan keluar buat kita…”

“Ih Tatat bijak sekali siang ini…” Bohai tersenyum pada kekasihnya.

“Ah..perezz…”

Bohai monyong. Seketika mimik mukanya berubah terkejut.

“Kenapa sayangku?”

“Kakiku ada yang nyenggol-nyenggol…” Bohai segera mengangkat kedua kakinya dari dalam kolam.

“Ada yang nyenggol-nyenggol…”

“Piranha kali?”

“Tatat!”

Tatat tertawa ringan sambil mengangkat kedua kakinya dan menurunkan gulungan celana jins-nya. Bohai berjongkok untuk mellihat ke dalam kolam. Bohai melihat ada yang bergerak-gerak didalam sana…raut mukanya seketika berubah.

“Ya Allllooooohhh…..KOOOODOKKKK!!!”

Bohai berjenggit jijik. Dia tidak suka kodok! Seketika itu dia lari terbirit-birit menjauh dari kolam…

Sementara Tatat hanya tertawa terbahak-bahak.

PS : tertawa, sedikit bisa meringankan masalah. Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang…

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s