Tatat Dan Bohai : Legenda Manok Hara (Bag.2)

lalu Om Tatat kembali bercerita…

Putri Manok Hara tumbuh menjadi gadis yang cantik. Dia sangat menyayangi ibu dan kakaknya. Begitu juga mereka berdua sangat menyayangi Manok hara. Manok dan Ya’nita sering bermain-main bersama. Kegemaran mereka adalah main petak umpet bersama dengan teman-temannya. Karena petak umpet itulah mereka akhirnya senang menciptakan bahasa-bahasa isyarat dan bunyi-bunyian yang hanya mereka berdua yang tahu apa artinya.

Seperti contohnya kalau misal garuk-garuk kepala sambil bilang UU-AA-UU-AA itu artinya “tolong saya”…kalau misalnya garuk-garuk kepala sambil meringis itu artinya “saya senang sekali…” begitu…

Nah, singkat kata singkat cerita, putri Manok Hara bertemu dengan seorang pangeran yang ganteng dan kaya raya dari negeri seberang yang bernama Negeri Kelapa Santan. Sebuah negeri yang kaya akan pohon kelapa dan penghasil santan instan yang terbesar di dunia. Hasil ekspor santan instannya saja bisa sampai ke kutub  utara. Karena disana pohon kelapa tidak tumbuh, sehingga santan menjadi barang yang sangat berharga. Itulah kenapa negari Kelapa Santan begitu makmur hidupnya.

Pangeran tersebut bernama Tungku Patri. Dia jatuh cinta dengan Putri Manok Hara. Begitu juga dengan putri dan ibunya. Terlebih ibunya. Sepeninggal suaminya yang entah pergi kemana, si Ibu merasa bahwa sekaranglah saatnya keluar dari jurang kehampir-miskinan. Apalagi sang pangeran berjanji akan memberikan kondominium dan mobil mewah kepada ibu dari Putri Manokhara. Dan sang pangeran juga akan membelikan kawat gigi bertahtakan berlian 24 karat untuk kakak manok hara, Ya’nita Hara.

Pangeran bilang “jangan kalah sama penyanyi dangdut dari negeri sebrang, yang kawat giginya saja bertahta berlian”

tentu saja keluarga Di’isi sangat senang! Maka diperbolehkannya Putri Manok Hara berpacaran dengan Pangeran Tungku Patri. Pangeran ingin menikahi putri tapi ibu Di’isi bilang

“belum cukup umur…nanti saja…kalau sudah diatas 17 tahun. Film begituan aja khusus 17 tahun keatas, Pangeran…”

Tatat berhenti…lalu dia berkata..

“Nah…buat kalian, masih kecil jangan pacar-pacaran. kalo belum dewasa dan belum tujuh belas tahun, jangan suka melihat film-film yang khusus buat orang dewasa ya? kalian nontonnya Dora The Warrior Princess saja…”

(entah cerita apa yang diberikan oleh tatat kepada anak-anak ini…tapi yang pasti anak-anak tadi hanya manggut-manggut..dan ya, ditahun 2018, si Dora telah berubah status dari Dora The Explorer menjadi Dora The Warrior Princess, semuanya karena kontrak Lucy Lawless sebagai Xena, tidak diperpanjang)

Lalu Tatat melanjutkan ceritanya…

Suatu malam, Putri Manok Hara pulang dalam keadaan menangis. Tentu saja ibunya sangat khawatir…lalu dia bertanya

“Ada apa hai anakku sayang…?”

Lalu Manok Hara menjawab…

“Aku ternoda ibu….” lalu si ibu bertanya lagi.

“Mana yang ternoda? Sini ibu bersihkan…deterjen penghilang noda milik ibu memang sudah habis, nanti ibu bisa minta sama tetangga”

Manohara berhenti menangis dan bilang

“Ih, bunda..males deh…”

Lalu si Ibu bilang

“Eh,,,jangan males..nanti nggak naik kelas lho?”

Tatat berhenti sejenak.

“Nah, anak-anak..jadi orang itu jangan males. Belajar yang rajin. Sekolah yang rajin. Biar bisa naik kelas dan bikin orang tua bangga. Ya?”

Serempak mereka menjawab

“Ya Oooooommm….”

“Bagus…Om tatat lanjutin lagi ya ceritanya?”

Singkat kata, gaya pacaran Putri Manok Hara dan Pangeran Tungku Patri memang sudah kelewat batas. Tapi pangeran adalah orang yang bertanggung jawab. Dia akan menikahi Manok Hara. Dan benar saja, diboyonglah Manok ke negeri Kelapa Santan untuk dijadikan ratu.

“Apakah ceritnya sudah selesai? Oh, belum anak-anak…”

Pesta pernikahan itu diadakan dengan sangat mewah. Pesta 7 hari 7 malam. Undangan makan disana-sini. Gaun-gaun indah. Pangeran-pangeran tampan dan putri-putri cantik hadir disana dengan baju terbaik mereka.

Begitu juga dengan ibunda Manok Hara dan Kakaknya, Ya’nita Hara. Keduanya hadir dalam pesta itu. Tapi mereka mengaku bahwa mereka pergi ke negeri Kelapa Santan dengan uang sendiri, baju yang mereka pakai juga disewa dengan duit sendiri.

Tapi Ibunda Di’isi dan Ya’nita Hara ikhlas seikhlas-ikhlasnya demi putri dan adik mereka yang sangat mereka cintai. Apalagi setelah tahu bahwa Ibunda Di’isi dan Ya’nita Hara bermodal sendiri datang ke negeri Kelapa Santan, sang pangeran berjanji untuk mengadakan pesta perkawinan di tanah indonezee 7 hari 7 malam juga.ini atas permintaan Ibunda Manok Hara dengan alasan tidak mau kalah dengan artis dari negara tetangga, si Buncit Nan Lestari yang menikah dengan Kasep Singkir, artis ganteng tapi kurang begitu laku di negaranya sendiri, sampai-sampai harus hijrah ke negara orang untuk mencari pekerjaan. Dan pangeran setuju.

Pesta pernikahan di negeri Kelapa Santan digelar dengan mewah dan akhirnya Putri Manokhara pun menjadi ratu di negeri Kelapa Santan.

Setelah beberapa tahun kemudian…pernikahan keduanya pun belum kunjung dianugerahi oleh Tuhan seorang anakpun. Padahal sang pengeran sudah ngebet pengin punya anak, dan ayah sang pangeran, pengin jadi kakek. Tapi Manok Hara belum kunjung hamil.

Maka, sang pangeran pun pergi ke tabib negeri yang menyarankan untuk melakukan terapi kehamilan pada Manok Hara. Dan pangeran Tungku Patri pun melakukan terapi pada istrinya dengan “menggelonggong” Manok Hara (begitu  istilah Manok Hara kelak) dengan ramuan-ramuan penyubur. Bahkan diapun mengaku disuntik biar sehat dan bisa punya anak.

“Emangnya saya sapi?” begitu protes Manok Hara. Dan sang pangeran berkata “Kamu memang bukan sapi, tapi kamu adalah properti saya! Huahahaha!”

dan Manok Hara pun geram..

“Rumaaaaaahhh…kali ah Properti?”

Dan sejak saat itu kehidupan Rumah tangga pangeran Tungku Patri dan Putri Manok Hara guncang gemuncang. Manok hara mengaku tidak betah lagi menjadi istrinya. Dan beberapa kali dia minta dipulangkan.

“Pulangkan saja…aku pada ibuku atau ayahkuuu..huo..huo…” begitulah lagu yang selalu saja dinyanyikan Manok Hara tiap kali keluarga besar Putra Negeri Kelapa Santan berkumpul dan berkaraoke. Inilah kode bagi Tungku Patri untuk menceraikan Manok Hara. Tapi pangeran menolak dengan alasan masih cinta sekali dengan istrinya.

Sementara itu, dinegeri antah berantah Indonezee, ibunda Manok Hara melakukan langkah-langkah demi kebebasan Manok Hara. Beliau memanggil kuli tinta dan nyamuk-nyamuk pers, untuk membeberkan situasi putrinya.

“Saya ini adalah seorang ibu yang minta tolong. Toloooong…bebaskan anak saya..”

Lalu sang ibupun jatuh pingsan, itulah kenapa pada jumpa pers selanjutnya, tidak hanya kuli tinta yang diundang, tapi kuli panggul pelabuhan juga diundang untuk berjaga-jaga, seandainya Ibunda Di’isi jatuh pingsan lagi.

Sementara itu, rumor terus berkembang yang menyebutkan bahwa Putri Manok Hara mengalami penyiksaan secara seksual maupun transeksual…

Tatat berhenti bercerita..dia kebingungan..

“Ehmmm..maksud Om bukan transeksual..tapi ehm…”

Lalu seorang anak nyeletuk

“Om, transeksual itu apaan sih?”

Tatat terkejut. tapi dengan cepat dia bisa menguasai keadaan.

“Eh..maksud Om, secara verbal..yaitu secara kata-kata, begitu…”

Anak-anak bau kencur itu manggut-manggut tanda bingung.

Tatat melanjutkan lagi ceritanya.

Nah, ditengah berkembangnya gosip yang menyebutkan bahwa Putri Manok Hara disiksa, akhirnya pangeran Negeri Kelapa Santan mengajak istrinya untuk menonton pertandingan bola. Pertandingan ini pun diliput oleh media televisi dan dalam kesempatan itu akhirnya Putri Manok Hara mengeluarkan kode yang hanya dia dan kakaknya yang tahu.

Dia menggaruk-garuk kepalanya dan mengeluarkan suara “UU-AA-UU-AA”

dan segera saja kode itu menyebar ke seluruh jagat. Putri Manok Hara minta tolong!

Dan segera saja laskar pembebasan Manok Hara pun dibentuk. Mulai dari laskar hitam putih sampai laskar berwarna pelangi semuanya berteriak

‘Bebaskan Manok Hara…bebaskan Manok Hara!!!”

Singkat kata, perjuangan untuk membebaskan sang Putri pun terus dilakukan. Sampai pada akhirnya, ketika sang pangeran encoknya kambuh dan harus dibawa ke negara tetangga supaya cepat sembuh, akhirnya putri manok Hara berhasil melarikan diri atas bantuan dari orang terdekat dari sang pangeran.

Putri Manok Hara kembali ke pangkuan ibunda dan kakak tercinta.

Sekembalinya ke negeri antah berantah Indonezee, Manok Hara pun segera menjadi selebriti. Niat awalnya untuk memberikan hasil autopsi penyiksaan yang dilakukan oleh suaminya pun jadi “sedikit terlupakan”. Manok Hara dan ibunya lebih senang melakukan wawancara di tivi-tivi, menyanyi di acara talk show yang sebenarnya nggak lucu tapi karena floor managernya bilang “ayo ketawa!! ayo tepok tangaaan!!!” maka acara itupun menjadi terlihat lucu dan ramai. Maklum, produser acaranya bilang “yang nggak ketawa dan nggak tepok tangan pulang nggak bawa duit” dan akhirnya mereka pun bertepuk tangan dan tertawa.

saking sibuknya, putri Manok Hara pun jadi jatuh sakit. Jadwal periksa jadi molor lagi. Semua orang sudah mulai meragukan kebenaran cerita dari ibu Di’isi dan putrinya. Apakah benar apa yang dikatakan mereka itu benar?

Lalu Tatat berkata “Wallohu’alam…”

‘Jadi anak-anak…dari cerita ini bisa diambil kesimpulan..:”

Yang pertama : Jangan menikah muda kalo emang masih pengin seneng-seneng dan foya-foya.

kedua : cari jodoh itu jangan cuma lihat hartanya saja, tapi lihat juga hatinya. Jadi orang itu jangan matre.

Ketiga : Tidak selamanya cerita tentang putri itu selalu berakhir dengan hepi ending, akhir yang membahagiakan, nyatanya? putri Manok Hara pun akhirnya dikejar-kejar pihak yang berwajib, dituntut sana-sini gara-gara dituduh memfitnah pihak lain. Akhirnya, terjadilah huru-hara antar kedua negeri antah berantah, Negeri Indonezee dan Negeri Kelapa Santan. Persis seperti yang dibilang oleh kekasih pangeran dari negeri seberang yang mengutuk bahwa putri Nona Di’isi akan membuat huru-hara.

yang keempat : Kalo mau jadi selebriti, pake cara yang aman dan halal saja. Pake cara yang normal-normal aja, nggak usah cari sensasi, soalnya, kalau gagal, bisa bikin malu diri sendiri.

Lalu anak-anak pun angguk-angguk.

“Oke…cerita sudah selesai…hari sudah semakin gelap. Sepertinya ibu-ibu kalian juga sudah selesai bergosip. Om Tatat juga udah laper, Om Tatat mau lihat apakah mendoannya masih sisa apa enggak ya? Oke?”

“Oke Oooommm…makasih ceritanya ya Oooommm”

“‘Sama-sama anak-anak maniiiisss….”

Whoaaa!!! gerombolan korea-korea kecil itupun serabutan membubarkan diri. Beberapa diantara mereka mengeluh kesemutan karena duduk bersila terlalu lama, beberapa yang lain mengaku udah kebelet pipis.

Para ibu pun sudah selesai dengan acaranya sendiri.

“Jadi next time kita di rumah jeng Fifi yaaaa…Awkaaaayyyy?’

“Hyyyyuuukk!!”

Para ibupun sibuk dengan anak-anaknya. Mereka telah berkumpul kembali. Sementara Bohai hanya tersenyum melihat mereka berlalu satu persatu.

Sementara dia masih sempat mendengar salah seorang ibu bertanya pada putri kecilnya

“Tadi Om Tatat cerita apa sayang?”

dan si putri kecil pun menggeleng “Nggak tahu…cerita om Tatat aneh…Salwa nggak paham…”

dan si ibu hanya mengelus rambut anaknya dan berkata “Ooohh…”

Bohai berpaling pada Tatat yang sedang berada di dekat meja makanan. Tatat juga melihatnya dan dia tersenyum. Dari jauh mereka saling melemparkan kode yang berarti

“I Love You”

the end

XOXO,

Toekang Roempi

Note : cerita diatas hanya fiktif, nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka, jika ada yang merasa tersinggung, well, itu urusan anda sendiri. Saya tidak cari gara-gara, kalau anda mau cari gara-gara, cari saja ditempat lain, jangan sama saya. Peace and love.

2 thoughts on “Tatat Dan Bohai : Legenda Manok Hara (Bag.2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s