Tatat Dan Bohai : Legenda Manok Hara

Ceritanya, sekarang tahun 2018 – tahun dimana manusia hampir saja tergusur oleh eksistensi mesin (katanya). Dipelopori oleh Sky Net, mereka hendak menggantikan peran manusia dimuka bumi ini. Untung John Connor dan teman-temannya gigih berjuang demi kemaslahatan umat, and whoala! he did it well!! Thanks buat penulis film terminator yang super imajinatif, yang cukup berhasil menggambarkan sangarnya T-800 membanting jagoan kita kesana kemari, tapi langsung mati gara-gara sengatan listrik.

Ya, untung saja itu hanya cerita, karena pada kenyataannya (mungkin) ditahun itu robot masih menjadi side kick manusia beneran. Ya, walaupun untuk beberapa lini usaha, termasuk industri-industri yang menghasilkan produk secara “massive” sudah mulai mengurangi penggunaan tenaga manusia dan menggantinya dengan mesin. Protes terjadi disana-sini oleh manusia yang bagaimanapun tetap butuh income dari pekerjaan yang mereka lakukan. jaman semakin sulit dan pengusaha dituntut untuk lebih peduli dengan masyarakat. Tapi tentu saja, dalih ekonomisasi (bener apa enggak istilahnya saya juga nggak peduli), para pengusaha menggunakan tenaga mesin – yang bukan disuplai oleh perusahaan bernama Sky Net untuk mengerjakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Kata mereka, kerjaan robot lebih cepet dan efeisien ketimbang manusia. Is It?

Ya, ditahun 2018 – apa yang digambarkan oleh film-film itu tidak sepenuhnya terbukti. Suasanan masih aman-aman saja, masih kondusif seperti 9 tahun yang lalu, walau keadaan ekonomi- sekali lagi masih tetap sama. Tapi modernisasi memang berkembang dengan pesat. Kita harus mengakui itu. Dan Tatat serta kekasihnya Bohai juga merasakan dampak perkembangan jaman yang serba cepat ditengah-tengah kesulitan ekonomi global – yang untungnya tidak lebih buruk dari resesi di tahun 1920-an.

Di tahun modern ini Tatat dan Bohai sudah hidup sebagai sepasang kekasih yang resmi. baik lewat catatan sipil maupun agama. Mereka sudah tidak percaya lagi dengan apa yang disebut nikah siri. Perkembangan jaman juga membuat pikiran mereka berkembang. Nikah siri hanya akan merugikan salah satu pihak, dan Tatat tahu dia tidak akan merugikan Bohai hanya demi alasan seksual saja. Makanya dia menikahi Bohai lewat jalur resmi. Lagian, ngapain nikah siri. PNS yang sudah punya istri dan pengin nikah lagi? bukan. Selebritis yang ingin menyembunyikan status demi popularitas? Bukan juga. Jadi ngapain pake acara sembunyi-sembunyi? kalau memang sudah cinta, biarkan saja semua orang didunia tahu kalau tatat  dan Bohai memang sudah menikah. Ya tho?

Bicara soal tahun 2009 dan selebritis, suatu sore yang sangat santai, saat kebiasaan minum teh disore hari sudah mulai banyak diadopsi dari kebiasaan ratu Inggris dan keluarganya oleh banyak orang termasuk Bohai. Walaupun mungkin cemilannya saja yang berbeda. Kalau konon kabarnya cemilan minum teh di Inggris sana bisa berupa crackers atau cup cake a.k.a kue mangkok, tapi kalo disini Bohai menyediakan singkong goreng, pisang goreng, tape goreng, kadang juga mendoan ala purwokerto yang memang jadi favorit Tatat, bahkan sampai cireng cocol saos ABC super pedas, yang selalu jadi makanan kesukaan Bohai sejak jaman masih jomblo dulu.

Sore ini rencananya Bohai akan kedatangan tamu dari tetangga-tetangga sebelah yang seperti biasa – selalu nggerecokin saat santai Bohai bersama dengan Tatatnya tercinta dengan obrolan-obrolan seputar gosip artis-artis jaman dulu dan sekarang. Tahun 2009 dan 2018. Sementara anak-anak mereka yang masih kecil selalu saja minta dibacakan cerita oleh Tatat, sementara si Bohai bergosip dengan ibu-ibunya.

kali ini semua sudah siap. Tehnya sudah siap seteko bagong. Mendoan goreng dan Bakwan jagung juga sudah siap senampan gede lengkap dengan Saos yang kali ini nggak pake saos ABC tapi Sasa Super pedes juga. Tatat juga sudah menyiapkan satu spot khusus untuk menyibukkan diri bersama dengan para “korea-korea” yang untungnya masih tahu diri dengan selalu mengucapkan terima kasih setiap kali Om tatat berbagi cerita seru tentang putri-putri dijaman kerajaan masa lampau.

Ada putri salju, ada putri cinderella, si putri tidur yang malesnya minta ampun-sampai sampai tak mau bangun hanya gara-gara nggak dicium pangeran ganteng, atau yang produk lokal, putri timun mas, dan cerita populer yang selalu menjadi ilham sinetron-sinetron jaman sekarang – Bawang Merah Bawang Putih. Ya gimana nggak jadi ilham, kalau dalam sinetron selalu saja ada gadis yang dianiaya oleh gadis lain dengan dalih iri hati….

Sore ini om tatat sudah siap dengan ceritanya, yaitu Legenda Putri Manok Hara.

Tidak berapa lama tetangga-tetangga itupun berdatangan. Ada yang satu-satu, ada pula yang berombongan dengan alasan malu jalan kaki sendiri. Duh. Kemeriahan segera saja terjadi.

Like an old time, istilah-istilah yang dipake pada jaman 2009 lalu juga masih santer terdengar dari mulut para ibu-ibu itu.

“Hai Cyiiiiiiiinnnnnn!!!” dengan lengkingan khasnya dan lambaian tangan ala bencong taman KB selalu jadi identitas ibu-ibu gaul dimasa 2018.

“melestarikan kejayaan masa lalu,” katanya.

Tapi ada juga kok yang penuh dengan rasa sopan santun terjaga. Menyapa dengan sapaan yang penuh doa

“Assalamu’alaikum warohmatullohiwabarakatuh….”

dan semuanya menjawab wa’alaikum salam….Lalu si ibu yang tadi mengucapkan salam, langsung bergabung dan siap untuk bergosip. Ya, semoga acara gosip ibu-ibu sore ini diberkahi Tuhan, amien.

Sementara Tatat sudah mulai dikerumuni oleh anak-anak dari berbagai jenis kelamin, yang untungnya karena masih kecil, jenisnya masih terlihat jelas. Kalau nggak cowok ya cewek, belum terlihat adanya anak yang berada ditengah-tengah keduanya dengan perasaan bimbang.

Mereka semua duduk dengan rapi dan Om tatat mulai bercerita…

(begini ceritanya)

Suatu hari disebuah tempat antah berantah bernama Indonezee hiduplah seorang wanita yang sangat susah hidupnya. Saking susahnya, untuk makan saja dia harus selalu bekerja keras – tidak mengumpulkan kayu bakar dihutan sih seperti orang miskin dicerita-cerita jaman dulu, tapi dia bekerja keras membanting tulang dari pagi sampai malam hari. Paginya bekerja jadi buruh cuci, sementara malamnya dia bekerja sebagai pelayan di sebuah klub malam.

Lalu ada seorang anak bertanya

“Kleb malam itu apa Om Tatat..”

Setelah kebingungan untuk sesaat Lalu Om Tatat menjawab

“Kleb malam itu seperti warung tegal punya mama, tapi pintunya ditutup terus, bukanya cuma malam, dan ada lampu warna-warninya sayang…”

Sianak yang tadi bertanya manggut-manggut. Dia ini memang anak dari pengusaha warung tegal sukses yang kebetulan juga jadi tetangga Tatat yang sore itu ikut bergosip bersama. Bohai bilang masakannya nggak terlalu enak, asin semua. Tapi namanya juga rejeki, lancar terus.

Oke, Om Tatat menceritakan kelanjutannya. Si wanita ini bernama Di’isi Wajarinah. Dia cantik. Berwajah bulat dan murah senyum. Orangnya pemalu. Sampai suatu saat ada yang naksir dia. Seorang pangeran dari negeri seberang yang rambutnya pirang, badannya tinggi, tapi nggak bisa bahasa Indonezee. Untungnya ada bahasa Inggris yang menjadi bahasa komunikasi mereka berdua.

Lama-lama, si pangeran ini jatuh cinta dengan nona Di’isi. Lalu mereka pun menikah. Tapi sebenarnya, si pangeran ini sudah punya kekasih dinegeri tempat dia berasal. Dan pacarnya ini tahu kalau si Pangeran ini punya kekasih baru. Maka marahlah dia. Sebagai tamu tak diundang, dia datang ke pesta yang diadakan oleh sang pangeran dan Nona Di’isi. Lalu pada pesta itu dia menjearit-menjerit mengeluarkan kutukan!

“Aku adalah nenek sihir yang jahat, aku mengutuk salah satu dari anakmu kelak akan menjadi seorang putri yang menderita, dan didalam penderitaannya dia akan membawa dirimu hai Nona Di’isi, kedalam sebuah situasi yang penuh dengan huru hara! Huahahahahah!!!”

Wanita kekasih pangeran yang ternyata nenek sihir itu tertawa keras dan kemudian, PLOP! dia menghilang. Dan Nona Di’isi hanya menangis.

Setelah pernikahan itu, Sang pangeran yang diketahui namanya dan Nona Di’isi melahirkan putri-putri yang cantik.

Putri pertama bernama Ya’nita Hara, dan putri yang kedua bernama Manok Hara. Selisih usia mereka cukup jauh. 5 tahunan.

‘jadi kalau anak pertama usia 6 tahun, anak kedua usianya berapa anak-anak?” tanya om Tatat. Anak-anak itu mulai memainkan jarinya menghitung-hitung berapa jawaban yang tepat untuk pertanyaan Om tatat tercinta. Dan serempak mereka bilang..

“Satuuuuuuuu!!!!”

“Pinteeeerrr….” Nggak tahu apakah jawabannya benar atau salah, Tatat hanya senang membuat mereka senang dengan mengatakan mereka anak-anak  pintar. Bukankah semua orang senang jika dibilang pintar?

Berlanjut ke cerita tentang Legenda Putri Manok Hara

Ya’nita Hara adalah putri  yang pertama, berkulit hitam, berambut keriting, badannya kurus, berkaca mata tebal dan berkawat gigi, karena kata mamanya, giginya agak sedikit tonggos.

Sementara Manok hara berbeda dengan kakaknya. Kulitnya putih, badannya agak gemuk, nggak pake kaca mata, nggak berkawat gigi, berambut panjang. Orang-orang bilang dia seperti bule. Ya iyalah, kan ayahnya pangeran dari negeri seberang.

Kita nggak usah ngomongin soal kakaknya. Kita ngomongin soal manok Hara saja yuuuk..begitu kata Om tatat dan anak-anak menjawab

‘Hyyyyuuukkk mareeee…”

— to be continued —

One thought on “Tatat Dan Bohai : Legenda Manok Hara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s