Antara Mimpi (yang muluk-muluk) Dan Rasa Bersyukur

Saya melihat, lalu saya berpikir. Saya berpikir, lalu saya melamun sebentar. Saya melamun, lalu saya mimpi. Mimpi yang muluk-muluk.

Coba saya begini…coba saya begitu…

Coba saya bisa begini…coba saya bisa begitu…

Ah, andai saja saya punya seperti yang dia punya. Ah, andai saja saya bisa seperti dia…pasti hidup bakal jadi lebih mudah..(ini menurut saya, yang sedang melamun)

lalu…PLOP!!!

Ah, nggak boleh mimpi seperti itu. Kalau mimpi yang lain masih nggak papa, tapi kalo udah mimpi sampai sejauh itu, duh, kudu langsung sadar dan bangun. Kalau enggak, lama-lama bisa jadi gila.

Lagian mana ada hidup yang mudah? nggak ada yang mudah. Hidup setiap orang itu susah. Kalau nggak susah, nggak seru. Kalau terlalu mudah, kita jadi nggak bisa belajar. Dan kalo kita nggak belajar, selamanya kita bakal jadi orang-orang yang bodo.

Tapi saya jujur saja, seringkali saya punya angan-angan (sampai panjaaaaang) tentang bagaimana keadaan diri saya. terus terang, kadang saya pengin kulit saya jadi lebih putih dan halus. Kalau ngelihat cowok lain yang kulitnya lebih halus dan putih, saya jadi tiba-tiba sedih dan nyesel, kenapa dulu saya pake masker ini itu, padahal kulit saya belum siap. Akhirnya, jadi bopeng-bopeng dan kusam minta ampun.

Kalau lihat cowok yang ukuran tubuhnya lebih tinggi, saya jadi ngiri dan ngayal, coba kalo saya bisa setinggi dia, pasti bakalan keliatan lebih ganteng dsb.

so shallow ya?

Dan tentu saja lebih banyak lagi. Inside out. Dan mostly of them, selalu saja urusan soal yang kasat mata. Ya fisik lah, ya materi lah. Tapi beberapa ada tentang ke-iri-an saya pada isi otak dan religiusitas seseorang (supposed to be ngirinya yang begini ya? hahaha)

sudah menjadi kebiasaan kalau kita cenderung lebih suka melihat kondisi halaman tetangga yang hijaunya minta ampun. Sementara halaman rumah kita sendiri kuning nggak terawat. We spend a lot of time to think some useless stuff. Padahal masih ada hal-hal lain yang lebih penting buat diurusin. Tapi gimana lagi siiih, namanya juga manusia???

Kadang-kadang saya menginginkan kehidupan milik orang lain yang dimata saya kehidupannya begitu menyenangkan. Fisik ok, tajir pula,temen banyak dimana-mana,mau kesini bisa kesana juga ayo aja. Pokoknya gampang.

Emang…bener gampang ya?

Tapi sekali lagi kemudian sadar, hidup mana sih yang mudah? semua orang pasti pernah mengalami fase sulit dalam hidupnya. Walaupun mungkin tingkatnya berbeda-beda dan masing-masing orang juga punya cara sendiri-sendiri ketika merespons masalah. Mudah tidak mudah itu tergantung dari kitanya sendiri.

Siapa tahu justru dia merasa kalau hidupnya sulit bukan main untuk dijalanin?

Bagi saya, berangan-angan jauh seperti itu kadang menyiksa sekaligus menyenangkan. Menyiksa karena saya tahu, ada beberapa hal yang memang tidak bisa saya ubah dan sangat “frustating” kalo terus-terusan punya pikiran pengin seperti orang ini,pengin seperti orang itu, tapi kemudian tahu kalau saya nggak akan pernah bisa menjadi seperti orang yang saya maksud.

Menyenangkan karena kemudian saya sadar bahwa bisa jadi ini merupakan sebuah media pembelajaran bagi saya untuk kembali mencari hal-hal kecil dalam hidup saya, yang sampai sekarang sudah bisa saya nikmati, a little things yang bisa saya punya, meski sebentar, dan beberapa hal-hal besar lainnya yang meski besar tapi kadang suka luput dari perhatian. Dan hal-hal seperti inilah yang kemudian membuat saya (mau nggak mau) harus sadar benar, bahwa banyak hal dalam hidup saya yang seharusnya disyukuri.Entah dengan cara seperti apa, yang pasti memang seharusnya saya mengucapkan terima kasih pada Tuhan untuk semua hal yang saya miliki, dan yang tak bisa saya miliki tentunya, karena bisa mengajarkan saya sesuatu.

Dan kalau orang bilang, lalu kenapa selalu saja terjadi dan terus terjadi? Tidakkah cukup hanya sekali dua kali untuk bisa kemudian sadar dan belajar? tanpa harus kembali mengeluh dan merasa iri?

Wah, buat saya hal-hal seperti itu memang harus terus terjadi. Ibarat kata,saya ini memang orang yang selalu harus diingatkan. Kalau dikasih tahu sekali, harus dikasih tahu sekali lagi. Dan nanti, juga harus diingatkan terus, supaya nggak lupa. Lah memang saya orangnya seperti itu sih? walau kemudian banyak yang bilang “berarti kamu bebal donk ya?” saya nggak peduli.

Hal-hal seperti ini bukan masalah bebal atau nggak. Perasaan-perasaan tidak puas, iri, dan lain sebagainya, akan terus hadir sepanjang hidup. Nggak bisa ditolak. Semakin ditolak, semakin kita bisa frustasi. Dan kalau sudah frustasi bisa bahaya. Makanya saya menganggap bahwa hal-hal seperti ini bisa jadi sebuah pengingat dari yang diatas kalau saya harus selalu bersyukur.

Ibarat kata, kalau pas lagi ngayal, Tuhan diam aja, tapi lalu Dia “getok kepala saya sambil bilang “EH, SADARR!!! ayo syukur!!! bukankah Aku udah ngasih ini…bukankah Aku dan ngasih itu?? kenapa masih pengin yang lain, yang nggak bisa kamu miliki? Kamu juga harus sadar kalo Aku ngasih kamu segitu juga ada maksudnya. Coba pikir lagi!!!”

Iya ya…mungkin memang Tuhan punya maksud yang saya sendiri juga nggak tahu. Kenapa saya harus bertubuh pendek? kenapa saya harus punya wajah begini? kenapa kulit saya bopeng-bopeng? Kenapa saya nggak punya mobil? Kenapa dan kenapa? Mungkin saja memang inilah batasan saya.

Siapa tahu dengan segala macam yang saya punya tadi saya bisa jadi sombong? siapa tahu dengan bertubuh tinggi, ganteng, kaya raya, nanti saya bisa jadi playboy dan nyakitin banyak orang? Ibarat kata, dengan segala macam hal yang saya punya, saya bisa jadi orang yang merusak?

Wong saya yang begini aja rusaknya udah minta ampun, apalagi kalau dikasih semua yang lebih-lebih itu ya? Wah, bisa-bisa saya ini “ngawu-awu”..jadi nggak kebayang deh…

Itulah kenapa kemudian saya merasa bahwa saya ini tersiksa tapi kemudian merasa beruntung karena masih bisa ngerasain batasan-batasan saya sebagai manusia. Nggak bisa begini nggak bisa begitu karena memang ada alasannya meski masih banyak alasan yang saya nggak tahu. Karena bisa jadi ini memang rahasia Alam.

Semoga aja sih masih bisa punya counter attack setiap kali diserang dengan keinginan-keinginan yang nggak masuk akal ya? hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s