Asal Ngulas Yuuuk….

endahnrhesaSaya sedang mendengarkan album Endah N Rhesa, album yang saya lihat mendapatkan banyak apresiasi positif dari banyak pihak. Saya penasaran. Dulu saja, saya tidak berhasil mendapatkannya secara gratis ketika saya datang ke Jakarta untuk sebuah keperluan tugas dari kantor. Bukan jenis album yang bisa saya dapatkan dengan mudah di gerai kaset dan CD, bahkan di semarang sekalipun. Bagaimanapun, penjualan materi-materi seperti ini sekarang sedang lesu, dan pengusaha kaset pun melihat seberapa besar minat masyarakat pada suatu produk tertentu. Meski nama besar tak lagi menjamin apakah produk mereka bakal laris. Karena dimasa sekarang, tak ada yang tahu bagaimana arah minat pendengar lagu di Indonesia. Bahkan saya hanya menjumpai satu dan hanya satu-satunya album Nowhere To Go ini terpajang dirak CD-CD baru.

Terus terang saya tidak berpikir 2 kali untuk segera memasukkannya ke dalam daftar belanja CD bulanan dari kantor saya. meski saya tahu, ini bukan konsumsi pendengar radio komersil, tapi saya tetap membelinya. Mungkin hanya untuk didengarkan secara pribadi, meski ini bukan properti pribadi. Tetap masuk perpustakaan musik diradio tempat saya bekerja, tapi saya ragu apakah materi ini cocok didengarkan oleh pendengar atau tidak. Toh saya tidak terlalu peduli.

Dan rasanya…saya seperti sedang berada disebuah peternakan dekat dengan danau. Di siang yang panas. Dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Dan saya dibawa ke sebuah tempat dengan pohon oak yang besar, dengan ayunan yang tergantung kuat disalah satu cabangnya yang sudah semakin menua. Dan saya berputar-putar, saya bisa membayangkan bahwa saya berputar-putar pelan, kadang cepat, lalu pelan kembali dan saya melihat betapa luasnya padang rumput yang hijau didepan saya,membentang dengan angin yang meniup ujung-ujung rumput yang tumbuh dengan baik.

Sebuah akustik yang membuai. Dengan petikan gitar Rhesa yang sesekali masuk ke area blues, dan suara Endah yang manja…rasanya saya tak bisa menolak untuk tidak menggoyangkan kepala saya. Sesekali saya bertopang dagu. Tidak malas, tapi menikmati bagaimana musik mereka masuk ke telinga saya. Sejenak saya jadi ingat dengan masa dimana saya tak bisa lepas dari album Norah Jones – Come Away With Me, sebuah kesempurnaan dari pengemasan sebuah album lite-Jazz yang kemudian menjadi salah satu album favorit saya – sampai dengan sekarang.

Beat yang diatur sedemikian rupa dari tiap-tiap lagunya. Kadang naik dan cepat, membawa saya melesat dan berdansa. Tapi kemudian, membuat saya turun perlahan, melayang dan tertidur. Seperti rollercoaster yang tidak menakutkan dan tidak membosankan untuk selalu dinaiki. Lagi dan lagi. Fluktuasi yang sudah diatur sehalus mungkin, sehingga tetap enak dinikmati dan tidak mengagetkan. I don’t Remember, When You Love Someone, atau materi lucu Living With Pirates, menjadi pilihan saya. Dan kemudian salah satu track favorit saya, Uncle Jim, membuat saya sedikit terharu. Saya membayangkan, sedang berada disalah satu jalanan di Philadelphia atau Chicago (meski saya belum pernah ke sana) dan saya melihat sosok Uncle Jim yang menua dan mampu memberikan sesuatu kepada seseorang. Cerita tentang semangat yang disuntikkan lewat permainan violinnya dan lain sebagainya, mampu dibawakan oleh endah dan Rhesa dengan sangat baik. Sama seperti Come Away With Me yang punya banyak cerita, begitupun Nowhere To Go.Kedua album yang hampir sama. Come Away With Me dan Nowhere To Go. Sepertinya akan menjadi album pengantar tidur saya selanjutnya.

Tidak ada yang paling bagus dialbum ini. Semuanya bagus dan berjalan bersinergi. Tidak mudah mengatur daftar lagu seperti ini. Dan semuanya memang tidak bisa diputus satu dengan lainnya. Dengan kata lain, semuanya bagus dan saya menikmatinya. Semoga dialbum-album selanjutnya mereka tetap akan menemukan formula yang lebih melenakan. Dengan tidak kehilangan sentuhan tentu saja.

colbieAda yang bilang bahwa mempertahankan sebuah prestasi lebih susah dibandingkan ketika kita mendapatkan kesempatan untuk mencetak prestasi tersebut. Untuk beberapa hal, mempertahankan prestasi adalah lebih dari sekedar belajar dan mengerjakan tes dengan baik. Salah satunya ketika sudah bergerak di Industri  hiburan, belajar dan mengerjakan ujian saja tidak cukup. Karena kadang-kadang, penilaian dari “juri” diluar sana, lebih kejam dibandingkan sekedar memberi label benar atau salah. Karena kadang-kadang, sudah melakukan yang benar saja, tidak cukup memuaskan sehingga bisa dibilang bagus.

Colbie Cailat mungkin sudah melakukan semuanya sesuai dengan panduan sukses album perdananya. Formula yang hampir sama digunakan dialbum terbarunya. Berharap melanjutkan sukses album CoCo, Colbie merilis album Breaktrough yang diharapkan juga bisa mendapat sambutan baik seperti pendahulunya. Masih dengan senjata andalannya, kompisisi aransemen yang didominasi oleh suara gitar akustik, Colbie mengemas sekitar 12 track dengan 1 track bonus – yang berarti total 13 track dengan cukup baik.

Dibuka dengan i wont yang bercerita tentang lelahnya seorang gadis akan kepura-puraan. Lelah karena harus berhenti berpura-pura bahwa pemuda yang selama ini ada hanya dianggap sebagai temannya dan selamanya akan jadi temannya. Dan si Gadis lelah dengan semua itu dan ingin berhenti berpura-pura. Sudah saatnya mengaku bahwa sang Pemudalah kekasih hatinya. Dilanjutkan dengan Begin again, You Got Me dan Fallin For You yang dijadikan materi jagoan di album ini. Sepanjang Track-Track awal, colbie masih senang berbicara tentang perasaannya sebagai seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Dengan suasana hati yang berbunga-bunga dan euforia tentang indahnya jatuh hati pada seseorang.

Tapi di tracks-tracks berikutnya, Colbie menyajikan sesuatu yang tidak hanya tentang jatuh cinta. Patah hati juga menjadi tema berikutnya, meski tak sebanyak tentang jatuh cinta.

Bicara soal keragaman, album bisa dibilang lebih ceria dibandingkan dengan Coco. Entah bagaimana menyebutnya, lebih berani atau justru main aman, tapi yang pasti Colbie tak banyak bermain di beat-beat slow. Bahkan untuk lagu Fearless (yang jadi salah satu materi kesukaan saya), Colbie menyajikannya dengan “taste” yang lebih ngepop. Ya, paling tidak ini menjadikan album ini tidak menjadi sepi dengan bunyi-bunyian…

Mendengarkan album ini memang paling cocok ketika seseorang sedang jatuh cinta (meski ada tema patah hatinya juga), serasa dibawa ke sebuah rumah ditepi pantai dengan angin musim panas yang berhembus…ditemani dengan anjing piaraan, kemudian berkeliling pantai dengan jalan kaki atau mobil beratap terbuka, Breaktrough bisa menjadi teman telinga yang cukup baik.

Track-track pilihan saya adalah : I Wont, Begin Again, Falling For You, Fearless dan satu track tambahan di urutan paling akhir, Lucky yang dinyanyikannya bersama dengan jason MRAZ.

jordinAlbum kedua dari si pemenang American Idol termuda – Jordin Sparks. Battlefield menjadi ajang pembuktian bahwa lulusan American Idol tidak hanya mampu menjadi jawara sesaat saja. Tidak banyak memang, lulusan terbaik ajang pencarian bakat ini yang mampu menikmati sukses secara konstan. Kelly Clarkson dan Carrie Underwood adalah salah satu yang mampu bertahan ditengah-tengah bakat-bakat baru yang bermunculan. Sedangkan Taylor Hicks menjadi salah satu yang hampir tak pernah mengecap nikmatnya sukses. Dan Jordin akan membuktikan pada senior-seniornya, bahwa dia juga punya modal yang patut diperhitungkan.

Albumnya yang pertama cukup sukses berkat single No Air yang dinyanyikannya bersama Chris Brown. Tapi dialbum ini Jordin berjuang sendirian. tidak ingin dicap mendompleng kesuksesan artis lain, Jordin menjadi single fighter dengan tidak menyertakan nama-nama beken dibagian tarik ulur pita suara. Jordin hanya menyertakan beberapa nama yang berada dibalik materi-materi yang dia nyanyikan. Ryan Tedder, T Pain, fefe Dobson, adalah nama-nama yang saya kenal dialbum ini, yang berkolaborasi untuk menulis lirik lagu dialbum Battlefield.

Berisi 12 track utama dan 2 track tambahan (Tattoo dan One Step At The Time), Battlefield dibuka dengan Walkin On Snow. Sebuah track dengan beat yang tidak terlalu kencang, tapi cukup bisa menjadi sebuah penarik perhatian karena melodinya yang mudah diterima oleh telinga. Dilanjutkan kemudian dengan Battlefield dan Don’t Let It Go To Your Head. SOS dan It Takes More sepertinya juga bisa menjadi andalah berikutnya untuk diperdengarkan secara luas.

Saya jadi ingat dengan album David Archuleta yang dirilis tahun lalu, dimana saya menikmati setiap materi yang ada ditrack-track awal, dan begitu juga dengan album Battlefield ini. Pemilihan materi yang ditempatkan ditrack-track awal memang cukup ampuh untuk mengikat saya sehingga mendengarkan sampai track terakhir. Dan saya pun bisa menyebutkan beberapa track yang bagus dialbum ini diantaranya adalah Walking On snow, Battlefield, Don’t Let It Go To Your Head, SOS, It Takes More, No Parade, The Cure.

Kalau ditanya kapan saat yang paling enak untuk mendengarkan album ini, saya akan menjawab Minggu Pagi. Ya, paling cocok didengarkan di sebuah ruangan, seperti kamar kos, atau kalau lebih beruntung bisa diruang tengah sebuah apartemen, atau hotel di lantai atas, pada pukul 9 atau 10 pagi. Entah bagaimana perasaan hati anda, tapi yang pasti album Battlefield ini cukup layak untuk dikoleksi. Hanya saja memang saya tidak bisa mencari pangsa yang cocok untuk album ini. Dibilang remaja, tidak juga, untuk yang dewasa, nggak juga. Yaa…yang ada ditengah-tengah lah…yaaa…yang baru merintis karir…wanita yang diawal-awal 30 an masih cocok mendengar album ini. Atau…pria yang punya perasaan lebih halus dari pria kebanyakan, juga cocok dengan album ini. Hahahaha.

katyOrang memang tidak bisa tidak membandingkan antara Katy Perry dengan Lily Allen. Bahkan ada sebuah lelucon konyol yang membawa mereka pada sebuah perseteruan tidak langsung, yang menyebutkan Lily Allen adalah versi gemuk dari Katy Perry. Tentu saja nama yang pertama kali disebut tadi mencak-mencak (siapa gadis yang tidak marah, berat badan adalah salah satu isu sensitif bagi para gadis).

Ya, keduanya sama-sama muda belia. Penuh talenta. Punya bakat dibidang musik. Tak hanya piawai mengolah vokal, tapi juga menciptakan lirik lagu yang bisa dinikmati. Selain itu, keduanya menyimpan semangat yang sama. Sedikit pemberontak, terbuka dan  ceplas-ceplos lewat lagu-lagu ciptaan mereka. Tapi tentu saja, Lily Allen dan Katy Perry memang berbeda.

Buat saya, Katy adalah versi (jauh lebih) cantik dari Lily. Lebih fashionable. Lebih classic. Dan mampu menjadi seorang “bitch” yang lebih baik dibandingkan Lily.

Katy Perry dan album perdananya, One Of The Boys, menunjukkan bahwa sesuatu yang unik memang mampu menarik perhatian. Jangan terkecoh dengan dandanan yang terlihat begitu “chic” dan Classic, tapi dengar dulu album ini, dan seketika anda akan membayangkan sisi lain dari gadis yang terlihat manis dan baik-baik saja ini. Pena-nya ternyata lebih tajam daripada pisau. Dan katy punya lidah dan ide yang sama tajamnya. Dengar saja dari mulai track pertama, ketika seorang gadis tidak ragu-ragu untuk menyampaikan harapan kepada lelaki idamannya, siapa tahu, suatu saat si lelaki mau bercinta dengannya. Atau I Kissed A girl, yang menunjukkan sebuah euforia dari seseorang yang belum pernah melakukan sesuatu yang gila dalam hidupnya, dan kemudian dia menikmatinya. Atau Waking Up In Vegas, atau U’re So Gay, yang sekilas bicara soal pria, tapi ternyata, Katy ingin memprotes tentang tingkah laku teman wanitanya, yang dinilai mirip-mirip dengan tingkah seorang gay!

Protes, ya kebanyakan memang tentang protes. Bukan protes pada sesuatu yang berat tapi pada hal-hal yang ringan. Pada pria, pada wanita, dan tingkah laku mereka, yang terlihat begitu menyebalkan dimata seorang katy perry. Dan menjelmalah kekesalan tadi menjadi sebuah materi yang kocak, gamblang, apa adanya dan mungkin sedikit provokatif. Tapi jangan bilang bahwa Katy juga tak bisa romantis, dengar saja Thinking Of You, Mannequin, atau If You Afford Me. Meski tak dibalut dengan melodi yang “diam” tapi setidaknya kita bisa melihat sedikit sisi rapuh dari Katy yang tetap saja, haus akan cinta.

Sambil bersih-bersih…ya, sambil bersih-bersih. Di minggu pagi yang panas, dengan appron, sapu, atau vacuum cleaner, adalah waktu yang cocok untuk menikmati album ini dan ya, album ini memang sangat wanita. Wanita yang independen, layak mengkoleksi album ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s