Tea For Two by Clara Ng

“Tea For Two”

Apa jadinya, kalau seorang mak comblang, masih mempertanyakan tentang apakah ada cinta sejati diluar sana buat dia. seseorang yang punya bisnis jodoh menjodohkan orang lain, ternyata belum  bertemu dengan jodohnya sendiri dan masih terus mencari sosok yang tepat dalam hidupnya. Itulah yang terjadi pada sosok seorang wanita, tokoh utama dalam cerita ini, yang punya nama Sassy. Seorang wanita yang cukup mapan, dan punya bisnis yang menarik bernama tea For Two. Perusahaan yang dijalankan Sassy ini adalah sebuah perusahaan mak comblang, yang selalu punya misi untuk mencarikan sosok yang tepat untuk orang lain. Dia dan timnya sering mengadakan sebuah pertemuan-pertemuan, yang pada tujuannya adalah menjodohkan orang-orang yang ikut dalam pertemuan tersebut. Ibarat kata, Tea For Two adalah perusahaan yang punya banyak klien jomblo yang sudah ngebet pengin nikah tapi belum ketemu jodohnya juga.

Selain perusahaan mak comblang Tea For Two juga sekalian jadi wedding organizer bagi para kliennya. Jadi intinya yang namanya cinta is all around every time every day lah ya. Tapi ironisnya bukan buat Sassy. Itu masalahnya. Walaupun menjadi otak dari proses terjadinya perjodohan tapi dia sendiri belum bertemu dengan Mr. Rightnya. Bahkan sahabatnya sendiri Naya bertanya ‘apakah kamu percaya akan cinta sejati?” Dan sassy pun bingung dengan jawabannya. Adakah cinta sejati untuknya?

Sampai suatu hari ketika dia bertemu dengan sosok seorang pria bernama Alan. Tampan, mapan, baik, dan punya banyak criteria lain yang diinginkan oleh seorang wanita pada seorang pria idamannya. Secara fisik ok, sikap manisnya pun tak kalah OK. Jatuh cinta pada pandangan pertama itulah yang terjadi pada Sassy dan Alan juga. Setelah berkencan keduanya pun menikah. Akhirnya mak comblang yang punya banyak jasa pada banyak kliennya menemukan Mr. Right with his true love. Tapi benarkan seperti itu?

Mungkin kita nggak bisa menyalahkan kehidupan pernikahan itu sendiri. Karena nggak ada yang salah dengan pernikahan, Yang mungkin tidak berjalan sesuai rencana adalah orang-orang yang menjalankannya dan bagaimana mereka menjalankan pernikahan itu. Bagi Sassy Alan adalah sosok suami yang begitu sempurna. Tampan, Punya pekerjaan tetap, dan romantis. Tapi kemudian yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dilihat oleh sassy dari penampilan luar seorang Alan. Ternyata Alan adalah sosok yang suka melakukan kekerasan. Sejak pertama kali berbulan madu Alan melakukan pemukulan dan kekerasan lain yang tentu saja bikin Sassy terkejut. Siapa sangka kalo Alan yang begitu terlihat lembut dan romantis bisa ngelakuin sesuatu yang menyakitkan?

Dan kenyataan-kenyataan seperti inilah yang harus dihadapi oleh Sassy. Ketika dia berusaha buat nyariin orang yang tepat buat orang lain eh, ternyata dia sendiri ketemu dengan orang yang salah. Apalagi sebagai wanita berpendidikan Sassy nggak nyangka akan menjadi korban dari kekerasan dalam rumah tangga. Dan seperti hal-nya banyak perempuan yang menjadi korban dari KDRT Sassy juga mengalami sebuah kebingungan tentang apakah ia akan bercerita pada orang lain atau tidak. Dan ini lah yang menjadi pergulatan batin Sassy karena dia juga percaya bahwa Alan bisa berubah. Singkatnya atas nama cintalah Sassy bisa bertahan.

Tapi sampai berapa lama sih korban KDRT bisa bertahan? Itulah pertanyaannya. Dan apakah tanda-tanda seperti ini nggak bisa dilihat orang lain? Itulah yang jadi salah satu alur cerita di novel Tea For Two ini. Tentang bagaimana kita harus peduli dengan orang yang menjadi korban dari KDRT. Kalau kemarin-kemarin kita bilang kita nggak peduli, mungkin sekaranglah saatnya membaca tanda-tanda bahwa salah satu orang terdekat kita mungkin menjadi korban dari kekerasan dalam rumah tangga.

Tea For Two adalah sebuah novel yang sempat terbit di harian kompas dalam bentuk cerbung atau cerita bersambung dalam rentang waktu dari oktober 2008 sampai februari 2009. Cerita yang diangkat memang cerita yang dikhususkan untuk pembaca dewasa. Tapi walau begitu mungkin ini adalah salah satu bacaan yang sedikit banyak juga ditujukan untuk para pembaca usia remaja yang mungkin ingin tahu juga tentang apa itu KDRT dan bagaimana tanda-tanda yang bisa dibaca apabila kita seseorang punya kecenderungan untuk menjadi psikopat dan bisa melakukan kekerasan terhadap orang lain.

Tidak untuk menakut-nakuti dengan membuka sisi lain dari apa yang disebut sebagai sebuah pernikahan tapi Tea For Two memaparkan salah satu cerita yang bisa jadi adalah fakta yang banyak terjadi di sekitar kita, tapi kita sendiri nggak tahu. entah karena memang korban KDRT ini nggak mau terbuka atau kitanya sendiri yang nggak mau buka mata buka telinga dan nggak acuh dengan keadaan seperti ini. Dan ujung-ujungnya kita bisa bilang “itu bukan urusan kita” tea for two ini hanya sepenggal cerita yang menunjukkan pada kita bahwa melihat seseorang dari luarnya saja mungkin tidak cukup untuk menilai bahwa seseorang itu baik-baik saja, karena bisa jadi ada tanda-tanda lain yang bisa kita baca pada sifat-sifat seseorang.

Jatuh cinta itu memang indah dan bisa dibilang sejuta rasanya tapi kalau jatuh cinta sudah menutupi banyak logika bisa jadi malah akan menjerumuskan. ini adalah hal yang lumrah ya? Karena ketika seseorang sudah kadung cinta sama orang lain. tanda-tanda umum yang mungkin harus diperhatikan pada seorang psikopat mungkin jadi tak terbaca Yakh…namanya juga cinta ya nggak sih?

Membaca Tea For Two kita seperti sedang mengikuti sebuah kesaksian seorang Sassy. Gimana enggak kalo Clara Ng menuliskan kisah Tea For Two ini dengan cara membaginya menjadi 2. Yang satu kita akan dibawa ke sebuah layar lebar yang mempertontonkan kehidupan Sassy dan kisah cintanya. Tapi kemudian ada beberapa bab atau lembar halaman yang berisikan sebuah monolog yang dibuat oleh Sassy sendiri. Seakan-akan dia bercerita tentang hidupnya. Lebih kepada beberapa tanggapan dan renungan dari cerita-cerita yang ada dilembar-lembar sebelumnya sih. Tapi cukup menarik, seperti sedang diajak menonton sebuah film dengan Sassy sebagai naratornya.

Sebuah buku yang cukup menarik untuk dibaca. Gaya bahasanya mungkin bisa dibilang tidak tergolong susah, tidak terlalu banyak gaya bahasa yang memusingkan, apa adanya dengan kejadian kejadian yang tidak terlalu luar biasa karena memang sering kita lihat atau kita alami sendiri dalam keseharian kita. Kehidupan sassy sewaktu lajang dan mencari cinta sampai kemudian menikah dan punya anak bisa kita lihat disini. Dan mungkin kita akan melihat sebuah potret lain tentang bagaimana kehidupan rumah tangga. Tidak mudah memang dan tidak selalu jelek tapi juga tidak selalu baik-baik saja. Semua kemungkinan itu ada Dan kebetulan saja Tea For Two mengangkat sisi lain dari manusia yang menjalankan pernikahan dengan bumbu-bumbu yang kurang sedap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s