Bekerja Dengan Nurani

Ini adalah pengalaman seorang teman…hari ini.

ada sebuah sesi wawancara kerja di sebuah perusahaan yang cabangnya ada di kota Demak dengan inisial A.

Sesi wawancara dijadwalkan jam 2 siang. Dengan 5 orang calon pekerja. Konon kabarnya sesi kali ini akan berlangsung dengan Direktur Utamanya.

2 jam berlalu…

dan teman saya pun belum dipanggil. Dan si Dirutnya…entah kemana.

..

Entah apa yang salah. Kalau saya mau bilang “penyakit orang Indonesia”..rasanya kok ya aneh. Nggak adil gitu loh. Karena saya yakin nggak semua orang indonesia begitu. Tapi nggak salah juga kalo ada yang bilang “udah biasa, wong indonesia emang ngono kuwi, kayak begitu itu…kalo udah urusannya menghargai orang lain, apalagi yang posisinya berada di bawah, suka nggak mau tahu”

Hari ini saya ngobrol juga dengan beberapa orang teman soal buruknya pelayanan rumah sakit pemerintah di kota semarang. Rumah sakit yang jadi rujukan bagi mereka-mereka yang berkantong pas-pasan. Dimana kemudian banyak cerita yang berhubungan dengan buruknya kualitas pelayanan dan rumitnya birokrasi di rumah sakit tersebut.

Lalu cerita merembet ke sebuah pertanyaan “kenapa orang-orang yang harusnya bekerja dengan rasa simpati dan empati yang tinggi malah terkesan tidak punya nurani. Yang kaya dibantu sembuh, yang miskin silakan menunggu mati”

Kenapa banyak dari kita yang bekerja tanpa nurani? apa mungkin karena ngerasa gajinya dikit? jadi bekerja seadanya?

Jadi lupa sama waktu dulu wawancara .. “bagaimana kalo gaji anda disini tidak sebanyak yang anda bayangkan”

– ” tidak apa-apa, yang penting saya bisa bekerja dan mengabdikan kemampuan saya untuk kepentingan perusahaan dan orang banyak”

lalu kemudian bertahun-tahun…semuanya menguap hilang entah kemana.

Tidak menghormati orang lain yang harus diwawancara. Hanya karena seorang Direktur Utama, bisa mengabaikan kepentingan orang lain juga. Tidak tahukah beliau bahwa orang-orang ini juga punya kepentingan lain? Tidak tahukah bahwa agenda tugasnya hari ini adalah mewawancarai calon-calon pegawainya?

Tidak menghormati dan mengasihi orang yang sakit. Seorang perawat dan dokter yang seharusnya punya empati dan simpati tinggi hanya bekerja seadanya. Tidak tahukah bahwa selain obat untuk fisik mereka, orang sakit juga butuh obat untuk jiwanya? Dan sayangnya, para petugas kesehatan ini tampaknya sudah mulai kehilangan hati nurani mereka, yang tidak mampu memberikan obat hati untuk yang membutuhkan.

apakah memang bekerja bertahun-tahun di tempat yang sama bisa menghilangkan nurani seseorang?

Atau memang tabiatnya orang tersebut yang begitu?

semoga aja si kita bisa belajar memperlakukan orang lain dengan cukup layak.

Pelajaran buat saya juga sih…

XOXO,

Toekang Roempi

One thought on “Bekerja Dengan Nurani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s