Mobil

Kemarin saya pulang ke semarang dari pekalongan naik mobil sewaan. Tante sih yang bayar. Ceritanya beliau hendak mengantarkan anak perempuan satu-satunya berkuliah di semarang. Sebagai anak kesayangan, cewek pula, ada acara “bedol desa” nganterin rame-rame.

Mobil sewaan, Grand Livina yang diisi 11 orang termasuk sopir. 7 dewasa, 2 remaja, dan 2 lagi masih anak-anak. Kebayang bagaimana sebuah grand livina diisi 11 orang. Tumpuk undung seperti cendol.

sepanjang perjalanan banyak yang diobrolin. Salah satunya adalah isyu (yang mungkin terdengar main-main) tentang rencana tante saya itu membeli mobil sendiri. Usahanya sukses, anaknya yang cowok, yaitu sepupu saya kerja di kantor pajak. Kurang apa lagi? bentar lagi naik haji, rumah udah gede, tinggal mobil yang belum.

Ada yang nyaranin beli merek A, ada yang bilang beli aja yang B, dan saya cuma mangut-mangut dikursi depan.

Kayaknya seru kalo punya mobil sendiri. Saya melihat beberapa kali mobil-mobil tipe city car yang imut-imut melintas di jalan yang sama dengan jalan yang saya lewati siang itu. Kayaknya seru kalo saya bisa berada di belakang kemudi dengan beberapa orang anggota keluarga saya disana. Melakukan perjalanan…nggak perlu repot-repot ngangkot.

PUFFF!!!

itu hanya khayalan. Dan khayalan yang muncul hanya yang menyenangkan saja. Tapi ternyata punya mobil tidak semenyenangkan itu. Lalu saya mikir-mikir soal uang bensinnya, lalu saya mikir soal perawatannya, dan kemudian mikir lagi (kalaupun punya) mau ditaruh dimana? saya bahkan nggak punya rumah bergarasi. Ada sih garasi…garasi sepeda.

Mobil memang luar biasa. Meski banyak yang bilang sekarang lagi masa resesi dan banyak orang yang kemudian terlilit dengan krisis keuangan, tapi nyatanya ada indikasi bahwa penjualan mobil semakin meningkat selama beberapa tahun belakangan ini. Tiap kali ada pameran mobil, ada saja transaksi yang dibuat. Sepertinya mobil memang telah berubah menjadi sebuah simbol kejayaan dari seseorang.

seperti pagi ini, saya membaca salah satu berita tentang juragan tempe di pekalongan yang punya usaha di jakarta. Yang ketika lebaran seperti ini membeli mobil baru hanya untuk menunjukkan bahwa usahanya telah berhasil dengan sangat baik di ibu kota. Tapi urusan nggak sampai disini saja. Karena ternyata, begitu balik lagi ke jakarta, mobil tersebut langsung dijual.

Oh My God…ternyata sampai segitunya.

Tapi memang begitu adanya. Mobil telah menjadi sebuah simbol, sebuah pernyataan yang nyata senyata-nyatanya bahwa seseorang bisa dikatakan berhasil jika sudah mempunyai benda yang satu ini. Nggak peduli bagaimana dapatnya, apakah beli kontan atau lewat kredit yang akan ditanggung bertahun-tahun kemudian. Yang penting punya, gaya kalo bisa pulang kampung naik mobil.

Mobil = sukses…bisa jadi begitu.

Tapi pada kenyataannya pemilik mobil memang makin banyak. Di jakarta saja katanya tiap tahun selalu ada pertambahan jumlah kendaraan bermotor roda empat milik pribadi yang kemudian berimbas pada makin parahnya tingkat kemacetan di ibu kota.

Kalau dipikir-pikir, mungkin karena rakyat kita makin makmur, atau harga mobil yang semakin murah, atau bisa jadi prosedur untuk memiliki benda yang satu ini makin mudah saja?

saya jadi ingat, jaman dulu HP adalah barang mewah, Tidak semua orang bisa memilikinya. Tapi sekarang, orang bisa dengan mudah memiliki alat yang satu ini. Bahkan kalo bisa dibilang, bosen satu tinggal buang dan beli lagi yang baru. Sama halnya dengan kendaraan bermotor roda 2. Jaman dulu bolehlah motor jadi simbol sukses. Tapi sekarang? hanya dengan duit 500 ribu sudah bisa bawa pulang motor baru. Nggak peduli apakah selama 4 tahun ke depan motor itu masih bisa dikendarai atau sudah berpindah tempat kembali ke garasi dealer karena disita akibat telat bayar kredit.

Mungkin nasib mobil juga akan seperti itu kelak.

Tapi entah kenapa kemudian saya berpikir, bisa jadi menyenangkan punya mobil, tapi saya ini termasuk orang yang tidak akan tahan berurusan dengan hutang jangka panjang. Hutang kantor dan teman yang jumlahnya masih terhitung “satuan” juta saja sudah spot jantung dan merasa tidak merdeka secara finansial. Apalagi kalo harus punya utang puluhan juta. Rasanya…arrrrghhh….

Tapi kalo KPR sih beda…ini rumah Je, yang nilainya bertambah. Tapi kalo mobil? aduh….tidak tidak tidak…hehehehe

mungkin memang masih masanya saya naik angkot. Mungkin masih masanya saya naik bis umum. Tapi saya bisa tidur dengan lega karena nggak mikir mobil kreditan…hahahaha.

Nanti saja kalo sudah punya duit, saya beli cash. — cuma masalahnya, sekarang dealer ogah kalo dibeli secara cash…untungnya dikit.

Tapi sudahlah, semua masing-masing kembali pada individu. Kalo butuh kenapa enggak? tapi kalo cuma ngurusin gengsi, wah mending jangan lah…masih banyak yang lebih penting dibandingkan ngurusin gengsi.

Yakh…..untuk sementara, saya numpang dulu.

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s