Ah, Jan Marahi Emosi….

Lagi lagi soal biaya Studi Banding anggota DPR dibahas…seperti nggak ada habisnya. Lagi dan lagi. Meski berulang tapi seakan tak pernah berhenti menjadi penyebab rakyat emosi.

Banyak yang bilang studi banding cuma akal-akalan anggota DPR untuk jalan-jalan keluar  negeri, senang-senang dan belanja belanji. Meski banyak yang menyanggah (anggota DPRnya sendiri sih). Mereka bilang, studi banding ini perlu untuk penyusunan RUU yang lebih komprehensif.

Tahun ini panja holtikultura dan kepramukaan yang akan berangkat. biayanya 19 koma sekian triliun. Terus ada yang bilang itu nggak bener. CUMA 170 miliar, terus diralat lagi jadi 107 miliar. Angkanya sih berubah tapi MILIARnya itu lho….

Duit itu, bukan tumpukan daun…

sementara masih banyak hal yang lebih krusial untuk diurusi. Sementara banyak rakyat yang masih butuh perhatian, anggota-anggota dewan yang seharusnya mewakili aspirasi mereka, malah pake kacamata kuda. Bersikukuh untuk tetap melakukan perjalanan yang banyak orang bilang SAMA SEKALI NGGAK PERLU!

wallohu alam perlu apa enggak…tapi bayangkan seandainya uang segitu bisa digunakan untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan banyak masyarakat…Aduh-aduh…

Bahkan teman saya yang biasanya tidak begitu suka nonton berita pun jadi keranjingan menyimak tayangan tv khususnya soal perjalanan dinas ini. Dan komentarnya cuma satu

A*U!!!!

lalu saya cuma bilang “itukan tugas negara…daripada cuma duduk, tidur, interupsi biar keliatan aktif dan punya ide membela rakyat, mending studi banding ke negara lain. Siapa tahu pulang-pulang bawa ilmu..”

dan teman saya bilang..

“ILMU T*I KUCING…bawa pesenan anak istri dan keluarga besar mereka iya!!!”

– ah, sayang saya nggak bisa kasih komen apa-apa soal ini –

Saya kawatir dianggap tidak cinta dengan negeri ini. Saya kawatir dianggap tidak nasionalis. Saya kawatir saya dianggap terlalu pesimistis bahkan menjurus ke arah skeptis.

tapi saya tidak bisa menyembunyikan perasaan saya yang sedih, marah, dan sedikit mengutuk. Apalagi semalam saya dikasih liat video-video wakil rakyat yang tidur saat sidang, plus mereka-mereka yang suka membolos dari tugas.

Saya berusaha menenangkan diri tapi saya tidak bisa.

Saya bertanya-tanya…apa di negeri ini memang sudah kehabisan tenaga yang sekiranya bisa membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik lagi? ada yang bilang bahwa anggota dewan perwakilan rakyat suatu bangsa adalah salah satu cerminan dari bangsa itu. Karena anggota dewan perwakilan adalah representasi dari rakyat bangsa itu sendiri.

Lhah kalo yang keliatan di TV adalah mereka-mereka yang suka tidur dan sok-sok berantem di dalem ruang sidang….???

apa betul bangsa kita adalah bangsa pemalas dan pemarah???

Nggak juga kan??? tapi nyatanya anggota dewan banyak yang begitu.

Lalu saya bilang “kayaknya memang seharusnya semua anggota dewan itu diganti sama yang muda-muda yang tenaga nya masih OK, jadi nggak ngantuk atau tidur pas sidang…”

dan pacar saya cuma bilang “nggak jaminan” (dia malah lebih skeptis lagi sepertinya)

dan saya pun terjebak dalam kebingungan yang sama. LAlu harus bagaimana??

kemarin-kemarin anggota DPR minta diadakan anggaran aspirasi. ditolak. Terus ada yang mengajukan soal jatah rumah aspirasi. dihujat juga. Dan sekarang anggaran studi banding. masih jadi kontroversi…meski ujung2nya ngelencer juga pastinya mereka, walau harus pake acara diam-diam.

lalu ini semua salah siapa?

mungkin salah kita-kita juga.

banyak contohnya ketika ini juga salah kita dalam memilih pemimpin yang cuma ngejar duit.

beberapa hari yang lalu saya terlibat perbincangan dengan beberapa om saya yang membahas soal pemilihan kepala desa. salah satu om saya bilang, kalo banyaknya kepala desa yang bermasalah korupsi adalah kesalahan dari rakyatnya sendiri. Kenapa mereka mau memilih kepala desa yang trackrecordnya nggak jelas.

lalu om saya yang lain bilang “ya karena yang track records nya  nggak jelas itu yang paling punya banyak duit”

dan om saya yang tadi langsung nyamber “LHAH itu! disitu salahnya kita. Kenapa masih banyak rakyat yang mau saja disuap dengan sepuluh dua puluh ribu tapi kemudian punya pemimpin yang sama sekali nggak mikirin nasib rakyatnya?”

ya karena memang uang sepuluh dua puluh ribu itu yang bisa membuat mereka makan, paling tidak untuk hari itu? Ya karena rakyat juga mungkin juga belum tahu apakah pemimpin yang tidak memberi mereka uang suap itu mampu memimpin dengan baik atau tidak, atau bahkan peduli dengan nasib mereka nantinya?

jadi ya, yang ada sekarang saja yang dinikmati. Urusan lain belakangan.

Alhasil, banyak pihak yang berwenang kemudian bermasalah dengan kewenangannya. Karena itu tadi, secara akar rumput pun tidak langsung mengesahkan sistem seperti ini. Jadi ketika mereka mengambil duit rakyat dengan menyalah gunakan wewenang mereka akan berpikir, “toh rakyat saya juga setuju saya yang jadi pemimpin?”

andai saja masyarakat kita sudah melek “JANGAN PILIH PEMIMPIN YANG MENYUAP! KARENA ITIKADNYA UDAH NGGAK BAIK DARI AWAL. UJUNG_UJUNGNYA NANTI PASTI SIBUK CARI CARA SUPAYA MODALNYA BALIK!!!”

tapi ternyata nggak semudah itu ya? hehehehe

ibarat kata, sistem yang begitu memang sudah jadi seperti parasit yang berkembang dan menggerogoti. Kronis abis…hehehehe

— ah, saya emang sok tahu —

tapi saya juga berhak berbicara, meski konteksnya hanya sebatas uneg-uneg pribadi yang sok tahu. Daripada cuma diem dan tidak melakukan apa-apa? mending nulis meski belum tahu apa yang akan dilakukan…hehehehe (sama parahnya sebenernya. Orang yang tidak peduli dan yang cuma NATO)

tapi saya percaya sih, suatu saat bangsa ini akan menemukan jalan dan sistemnya sendiri sehingga bisa menjadi bangsa yang besar, yang dipimpin oleh orang-orang berkompeten, yang punya integritas, ketegasan dan hati nurani.

mungkin suatu saat perlu dibatasi usia anggota DPR atau pemimpin-pemimpin yang lain, dengan batas usia yang lebih muda. Karena nggak semua yang muda tidak berpengalaman.

bisa jadi syarat jadi anggota DPR kelak seperti ini :

1. usia maksimal 40 tahun

2. sehat jasmani dan rohani

3. bersedia susah buat rakyat

4. nggak banyak omong tapi banyak aksi (aksinya yang pro rakyat pastinya)

5. nggak boleh bolos, nggak boleh tidur saat rapat

6. tegas tapi berhati nurani. tegas kalo bangsanya dizolimi tapi berhati nurani dengan penderitaan rakyatnya.

it sounds so silly ya…tapi siapa tahu ada yang punya kriteria lebih bagus lagi di masa datang. sementara kita lihat dulu bagaimana isu ini akan bergulir.

anyway, i still love this country. even it’s not a perfect country, but i hope there’s a bright future in here so the next generation will live well. Because so much lesson to learn now….

XOXO,

Toekang Roempi

One thought on “Ah, Jan Marahi Emosi….

  1. mereka bukan wakil rakyat ndut, mereka sama kaya’ aku. bekerja untuk cari duit. bukan untuk mewakili aspirasi rakyat. sok-sok2an heboh waktu sidang. berantem sana sini. NIHIL hasilnya. aku kawinin salah satu anak cewek mereka misal ada yg mau bener2 bekerja buat rakyat. ga pakai fasilitas nomor wahid pula. bike to work sekalian klo perlu.

    eneg aku liat org2 yg di katakan anggota dewan terhormat. sekali2 masuk pasar sono. banyak rakyat yg ngemis. banyak org2 lansia yg menggelandang. masih ngotot klo hal2 yg mereka lakukan buat kepentingan rakyat.

    pesen aja. ga perlu repot2 studi banding. perbaiki dulu pribadi bapak2 dan ibu2 sekalian.
    hal2 yg berbau pemerintah emang bikin emosi. jadi inget kasus di PMI sama di BP4.
    *sigh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s