Orang Miskin Dilarang Sakit : Sebuah Cerita Tentang RSUD

Kalo seorang Ibu Prita Mulyasari bisa kena kasus karena dianggap mencemarkan nama baik seorang dokter dan institusi kesehatan dimana dokter itu bekerja, mungkin saya juga bisa kena kasus yang sama. Walaupun saya tidak berharap seperti itu, karena ini hanya sekedar curhat dan tidak bertujuan mendiskreditkan seseorang atau sebuah lembaga kesehatan tertentu, tapi saya tidak takut untuk mengeluarkan suara saya.

Ini adalah sebuah pengalaman, tentang betapa kinerja dokter-dokter pemerintah, masih jauh dari kata profesional. Setidaknya beberapa dokter dan tenaga kesehatan. Karena saya yakin, diluar sana masih ada orang yang berprofesi DOKTER yang masih menjunjung tinggi prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan, disamping tujuan materi tentunya.

Tapi apa yang dihadapi oleh salah seorang anggota keluarga saya ini mungkin juga banyak terjadi pada orang lain dan menggambarkan betapa tidak profesionalnya seorang dokter dan institusi dimana dia bekerja. Keponakan saya yang  berusia 6 bulan mengalami sebuah kondisi dimana ada semacam daging yang bertumbuh di daerah pembuangan akhir. Entah apa istilahnya tapi dokter tempat orang tuanya berkonsultasi mengatakan ini adalah kutil. Tidak terlalu mengganggu, tapi sebaiknya dioperasi.

Mungkin tidak mengganggu saat ini, tapi sebagai orang tua, dan belajar dari kasus-kasus kesehatan, bahwa apapun kondisinya, daging yang bertumbuh di tempat yang tidak seharusnya memang seharusnya diantisipasi. dengan harapan agar tidak mengganggu kelak dikemudian hari.

Adik saya telah berkonsultasi ke dokter umum dan dokter anak. Sebagai seorang buruh pabrik yang mendapatkan perlindungan asuransi dari Headline,dia memanfaatkan perlindungan ini. Dan RSUD adalah rumah sakit yang ditunjuk untuk melakukan operasi.

Konsultasi dengan dokter bedahnya sudah dilakukan. Dokter bedah bernama A ini memastikan bahwa hari sabtu tanggal 2 oktober sudah bisa dioperasi. Dan hari jumatnya sudah bisa masuk ke rumah sakit untuk menginap.

Tapi ketika hari jumat keluarga kami datang ke rumah sakit, petugas rumah sakit menolak karena setiap sabtu ruang untuk operasi harus disterilkan dan ini adalah prosedur mingguan. Dan operasinya harus diundur sampai dengan hari senin.

Yang jadi pertanyaan : BAGAIMANA DOKTER TERSEBUT TIDAK TAHU BAHWA STERILISASI RUANG OPERASI DILAKUKAN DI HARI SABTU DAN DIA MEMASTIKAN BAHWA OPERASI BISA DILAKSANAKAN DIHARI YANG SAMA????????

Dan kemudian dokter tersebut memastikan bahwa hari senin sudah bisa operasi. Hari minggu datang ke rumah sakit untuk persiapan. Tapi apa yang terjadi? Lagi-lagi petugas dari RSUD mengatakan bahwa operasi belum tentu dilakukan pada hari senin karena dokter anestesinya belum dihubungi.

HOW COME?????????

Dan kemudian dengan nada setengah menyalahkan petugas rumah sakit tersebut mengatakan kenapa kami datang hari minggu tanpa konfirmasi??? Dan kenapa tidak berkonsultasi dengan dokter anestesinya terlebih dahulu???

Oh Tuhan, haruskah kami sakit parah terlebih dulu untuk tahu bagaimana prosedur tentang tata cara sebelum melakukan operasi?? Orang awam seperti kami pun masih tunduk dengan apa kata dokter dan apabila perkataan dokter sudah tidak bisa lagi dipercaya lalu kami harus percaya dengan siapa??

The second Question : KENAPA DOKTER BEDAH TERSEBUT TIDAK MENGKOORDINASI DENGAN BEBERAPA DOKTER TERKAIT YANG AKAN TERLIBAT DENGAN PROSEDUR OPERASI???

Dan hari minggu kemarin akhirnya keponakan saya yang masih berusia 6 bulan itu harus mondok semalam dan harus puasa mulai jam 3 pagi sampai menjelang operasi. Hitung sendiri berapa lama perutnya harus dalam keadaan kosong, di tempat dimana kondisi kebersihan dan kesehatan tidak lebih bagus dari di rumah. RUMAH SAKIT untuk anak kecil yang masih sehat adalah sebuah ANCAMAN KESEHATAN.

Senin pagi jam 9 prosedur operasi pun masih belum bisa dilakukan. Dokter anestesi belum bisa ditemui dan dokter bedah masih belum datang. Sementara kondisi bayi sudah mulai lemah karena lebih dari 7 jam puasa. Dan perawat disana menolak memberikan infus karena belum tahu apakah operasi jadi dilakukan atau tidak.

Dan inilah statement yang lebih parah menurut saya : petugas rumah sakit tahu betul bahwa kemungkinan operasi tidak bisa dilaksanakan pada hari senin, untuk itulah kenapa anak kecil usia 6 bulan itu sama sekali tidak diinfus.

Percayalah : kami lebih baik menunda sehari jadwal operasinya dan memastikan bahwa kondisi bayi ini sehat dibandingkan harus menunggu sampai siang dalam keadaan perut bayi kosong dan puasa lebih dari 7 jam.

dan percayalah : KAMI MASIH MAU MEMBAYAR SATU ATAU LEBIH KANTONG INFUS MESKIPUN INFUS ADALAH TERMASUK ITEM YANG DITANGGUNG OLEH ASURANSI.

Tuhan…kalau saja nyawa manusia dijual secara bebas di toko swalayan…saya tidak perlu sekhawatir ini…

Dan keputusannya adalah KAMI membawanya pulang.

Kami tahu bahwa operasi ini bukan operasi yang urgent dan berat. Dokter juga telah menekankan itu. Tapi kami juga bukan bola pingpong yang bisa dioper kesana kemari.

DIMANA LETAK PROFESIONALITAS KERJA TENAGA KESEHATAN TERSEBUT?

KENAPA SISTEM TUKAR INFORMASI DAN KOMUNIKASI ANTAR DOKTER DAN DIVISINYA SAJA SANGAT BURUK? TERUTAMA DENGAN PASIEN?

TIDAK TERPIKIRKAN BERAPA BANYAK WAKTU YANG TERSITA DAN TENAGA UNTUK SESUATU YANG MEREKA SEBUT RINGAN??

ATAU JUSTRU KARENA RINGAN ITU KONDISI SEPERTI INI DINOMORDUAKAN?

Rasanya sangat sedih memikirkan betapa terkadang prosedur-prosedur semacam ini masih saja membingungkan pasien…dan cenderung merugikan dan beresiko.

Dan keluarga kami memutuskan untuk sedikit bersabar dan menabung demi mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Pikiran naif memang jika kami berpikir siapa tahu dengan banyak uang kami bisa diistimewakan. Tapi tidak, kami tidak minta diistimewakan. Kami hanya minta diperlakukan secara manusiawi.

Kami tidak perlu marah-marah jika memang semuanya berjalan sesuai dengan apa yang disepakati bersama. Kami tidak perlu merasa kecewa sampai-sampai saya harus menuliskan hal-hal seperti ini di blog saya, yang kemungkinan akan dibaca oleh lebih banyak orang. Tapi saya tidak punya pilihan lain.

Orang miskin di negeri ini memang HAMPIR tidak boleh sakit.

Barangkali pemerintah memang sudah baik dalam merencanakan sistem kesehatan dan pelayanan kesehatan bagi rakyat kecil. Tapi terkadang pelaksana di lapangan yang belum terlalu memahami bahwa mereka-mereka juga layak mendapatkan pelayanan terbaik.

Saya tidak akan menyebut diri saya dan keluarga kami keluarga miskin. Karena kami punya penghasilan. Mungkin kami berjuang untuk hidup, tapi setidaknya kami masih sedikit lebih beruntung dibandingkan mereka-mereka yang sama sekali tidak punya uang. Tapi tetap saja, rasanya sangat kesewa jika bertemu dengan pelayanan seperti ini, terlebih di bidang kesehatan dimana bidang ini berhubungan langsung dengan nyawa manusia.

KESEHATAN ADALAH HARTA YANG PALING BERHARGA DAN KETIKA ADA PIHAK YANG MENYEPELEKAN KESEHATAN KITA RASANYA ITU SEPERTI DIRAMPOK HABIS-HABISAN.

Satu pengalaman yang mungkin bersentuhan dengan pengalaman lainnya. kekasih saya juga merasakan pelayanan yang tidak menyenangkan ketika melakukan cek kesehatan kakaknya di BP4 semarang. Entah karena pelayanan tenaga medisnya yang seenak-nya, atau dokternya tidak maksimal.

Mungkin karena kebanyakan pasien BP4 dari golongan tak berpunya? atau karena kebanyakan dari pasien2 tersebut adalah orang tua yang (mungkin dalam pikiran tenaga-tenaga kesehatan yang masih muda-muda itu) sebentar lagi mati??

Rasanya sangat lelah bercerita dan mengeluh tentang pelayanan kesehatan dari institusi kesehatan milik pemerintah.

Dan yang saya pertanyakan sampai sekarang adalah : ADAKAH SATU MATA KULIAH KEDOKTERAN ATAU KEPERAWATAN YANG MENGAJARKAN TENTANG ARTI KATA KEMANUSIAAN???

Mungkin beginilah hasilnya kalau gelar dokter didapat hanya dengan membayar ratusan juta tanpa kerja keras yang cukup…tapi semoga saja di negeri ini nggak ada yang begitu.

XOXO from Toekang Roempi untuk mereka yang mengalami pengalaman yang sama….

2 thoughts on “Orang Miskin Dilarang Sakit : Sebuah Cerita Tentang RSUD

    • terima kasih banyak..saya rasa ini hanya tentang sistem yang tidak berjalan dengan cukup efektif. Saya tahu diluar sana masih banyak dokter dan tenaga medis yang secara efektif dan manusiawi menjalankan tugasnya. Semoga dikemudian hari sistem kesehatan kita bisa lebih efektif membantu mereka-mereka yang sakit dan membutuhkan bantuan medis.

      Salam XOXO,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s