Manusia Manusia Bebas di Kota Kecil

Comal, adalah sebuah kota kecil di wilayah jawa tengah. Letaknya ditengah-tengah antara kota administratif  Pekalongan dan Pemalang. Entah berapa populasi pasti dari kecamatan kecil ini. Dan entah berapa juga luasnya (saya tidak berniat mencarinya di google atau di data administratif pemerintah). Yang pasti di peta Atlas Anda bisa melihat kota ini sebesar noktah biji wijen, bahkan mungkin kecil lagi, tergantung skala petanya.

Ada yang bilang Comal itu adalah kependekan dari eCOe diaMAL. Yang artinya kurang lebih orang comal pinter menyenangkan orang lain. Entah benar-entah tidak, yang pasti pameo ini sempat dihubung-hubungkan dengan keberadaan lokalisasi wisata sex di salah satu bagian dari kota ini. Ya, wanita penghibur dilokalisasi ini dinilai paling pintar menyenangkan konsumennya dibandingkan dengan lokalisasi daerah lain. Tapi sekarang sudah ditutup dan entah pada kemana para pekerja sex itu. Ada yang bilang pindah ke lokalisasi diluar kota, tapi ada juga yang bilang mentas dan berkeluarga, menjalani kehidupan yang tidak ada hubungannya dengan komersialisasi sex.

Lepas dari pameo eCOe diaMAL, kota comal memang sempat menjadi kota yang menyenangkan (buat saya). Kembali ke masa kecil saya (yang penuh dengan bully) kota comal adalah kota yang tenang, adem, cukup hijau dan tipikal kota kecil dengan nafas desa yang masih kental. saya masih ingat dibeberapa bagian kota kecil ini begitu kumuh. Ketika andong masih menjadi salah satu moda transportasi utama, sebelum digantikan dengan angkot, ada satu bagian di pasar comal yang terlihat morat-marit. Apalagi kalau musim hujan tiba, tanah becek bercampur dengan kotoran kuda dan rumput makanan mereka. Dan sekarang pemandangan itu sudah tidak ada. Kereta kuda itu menghilang satu persatu. Entah kudanya mati atau dijual ke pihak lain saya tidak tahu.

Andong hanyalah contoh kecil dari kenangan masa kecil saya di kota ini. Dulu saya masih sering melihat kereta pengangkut tebu yang selalu dikeroyok oleh anak-anak kecil dan orang-orang dewasa yang senang menyesap batang tebu. Dulu itu adalah sebuah kesenangan yang mahal harganya, karena kadang-kadang, mereka harus kucing-kucingan dengan petugas yang mengawal kereta tebu yang menuju pabrik penggilingan tebu diwilayah Sragi. Bahkan salah satu teman saya pun sempat menjadi korban, terjatuh dan terseret kereta tebu hingga kaki kanannya terluka parah. Mahal bukan, untuk harga sebatang tebu?

sekarang sudah tidak ada lagi pemandangan seperti itu. Rel kereta tebu hilang seiring dengan diberhentikannya moda kereta tebu untuk mengangkut bahan baku pembuatan gula itu. Sekarang lebih banyak menggunakan truk berbak besar.

Kota comal yang dulu dan sekarang memang berbeda. Perkembangan kota kecil ini menurut saya, tidak diimbangi dengan rencana tata kota yang baik dari pemerintah. Entah kenapa, kota comal saat ini terasa lebih panas daripada yang dulu. Saya tidak melihat banyak pepohonan tumbuh di tepi jalan utama kota ini. Semuanya habis dan berganti dengan panasnya aspal. Tidak ada penghijauan yang membuat kota kecil ini terlihat sangat gersang dan kering. Sayang sekali menurut saya, karena seingat saya dulu, saya bisa melihat banyak burung-burung gereja beterbangan di sekitar jalan raya utama. Dan saya masih ingat betapa nyamannya berjalan kaki ditepi jalan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon akasia dan sejenisnya. Adem. Tapi sekarang, ah, saya malas jalan kaki, lebih baik mengeluarkan uang untuk naik becak.

Selain itu juga, kota ini memang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Saya perhatikan, jumlah pengguna kendaraan bermotor meningkat cukup signifikan. seperti banyak barang (yang sudah tidak lagi) mewah, sepeda motor menjadi salah satu barang yang sepertinya wajib dimiliki. Dari pelat yang saya lihat, banyak yang pajaknya masih sampai tahun 2015. Luar biasa. kemudahan untuk mendapatkan kredit mungkin menjadi salah satu penyebab kenapa jumlah kendaraan bermotor meningkat. Mungkin ini juga yang membuat kondisi kota kecil ini menjadi lebih panas dari sebelumnya. Dengan pertambahan moda transportasi kendaraan bermotor, yang tidak diimbangi dengan media seperti pohon yang berfungsi mengurangi polusi udara, tidak heran jika udara dikota ini terasa semakin panas.

Perkembangan secara infrastruktur juga diikuti oleh perkembangan masyarakat penghuninya. Saya lihat, gaya hidup di kota ini juga semakin meningkat. Banyak anak muda yang tampil luar biasa gaya. Handphone dan motor menjadi barang wajib yang harus dipunyai untuk bisa dibilang gaya. Entah apa merknya dan bagaimana cara mendapatkannya, keduanya hampir bisa dipastikan menjadi simbol dari strata sosial.

untuk mereka-mereka yang tidak bisa mendapatkannya, harus kuat iman untuk sekedar melihat-lihat saja tanpa bisa memiliki. Dan bagi mereka yang punya banyak mimpi tapi tak bisa meraihnya, dan tidak cukup sabar untuk berusaha, mereka akan hidup dalam dunianya sendiri. Dunia yang baru, yang penuh khayal dan cukup bisa membuat mereka berjalan-jalan tanpa peduli orang lain, meski mereka tidak memakai penutup baju sama sekali.

Ya, saya melihat banyak orang yang kurang waras akhir-akhir ini. Beberapa masih muda dan sempat saya kenal wajahnya. Dulu mereka tidak begitu tapi sekarang mereka berjalan-jalan tanpa arah dengan bermonolog. Berbaju lusuh dan bertampang seperti 3 hari tanpa mandi. Banyak yang bilang mereka ini punya banyak mimpi dan keinginan seperti orang-orang lain tapi tak kuat iman dan akhirnya menciptakan dunia mereka sendiri dimana mereka bisa mendapatkan apa yang tidak mereka dapatkan didunia nyata.

Ya, perkembangan kota kecil yang luar biasa cepat ini menghasilkan banyak orang-orang bebas dengan dunia mereka sendiri. Miris tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Apa yang harus dilakukan semuanya kembali seimbang? atau inikah keseimbangan itu sendiri. Pertumbuhan yang pesat diimbangi dengan penduduknya yang berlari sama cepatnya dengan kota itu sendiri. Tanpa persiapan mental, hanya fisik dan infrastruktur, saya melihat banyak kerusakan disana-sini.

Dan banyak dari mereka yang kemudian terbelenggu dengan cepatnya kota ini bergerak. Karena mereka merasa dituntut untuk tidak tinggal diam, entah bagaimana caranya, dan akhirnya, bagi mereka yang tidak kuat, semuanya runtuh. Kenyataan menjadi sebuah ilusi, dan ilusi berubah menjadi kenyataan. Tidak tahu mana yang nyata dan mana yang khayal. Dan hasilnya, berkeliaran dijalan tanpa baju dan menikmati dunianya sendiri.

Ah, manusia-manusia bebas dikota kecil ini mungkin menjadi salah satu gambaran betapa tidak seimbangnya keadaan disekitar kita…Dan lepas dari itu, saya merindukan kota comal yang dulu. Lalu adakah yang cukup peduli?

XOXO,

Toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s