Life Is A Bitch, Then You Die

*abis baca sebuah blog dari luar negeri yang bercerita tentang frase ini*

Tapi mungkin bagi banyak orang, hidup itu anugerah. Dalam sebuah lagu, iwan fals dan kawan-kawan menulis “Hidup itu anugerah, maka berbahagialah”…

saya terbangun dipagi hari dengan perasaan yang nggak karuan. Tidak enak. Barangkali itu karena saya terlewat (lagi) ibadah subuh. Saya duduk sebentar ditempat tidur (milik kos) saya. Dan memandang sekeliling barang semenit dua menit. Amburadul. Hampir tidak ada yang tertata rapi, termasuk mungkin yang ada didalam lemari.

Amburadul. sama seperti hidup saya saat ini. Amburadul.

Kalau ada yang bilang, orang bisa saja berada pada titik terendah dalam hidupnya, titik terlemah yang membuatnya merasa tidak berguna, maka saya bisa bilang “saya sedang berada di titik itu”. Saya melihat keluar dan mulai bertanya-tanya, “what this is all about?” apa yang sedang Tuhan dan kehidupan coba katakan pada saya. Kenapa saya merasakan perasaan “outcast” seperti ini. I feel so useless.

Semalam, entah kenapa tiba-tiba saya bilang pada kekasih saya, “sebenarnya buat apa ya saya ribet begini saya ribet begitu? kalo toh nanti semua hal ini tidak berguna ketika saya mulai menua nanti dan kemudian mati – itu juga kalo hidup saya sepanjang itu. *i wish*

Dan dia cuma dia memandang saya lama. Mungkin bertanya-tanya ada apa gerangan dengan saya. Atau bahkan bisa jadi langsung men-judge bahwa saya sudah tidak waras dan mendekati gila.

Tapi saya mungkin belum sampai ke tahap itu – berdoa semoga saja tidak.

Perasaan seperti itu sering muncul. Terlebih seharian kemarin. Ketika saya bertemu dengan banyak orang. Manusia-manusia seperti saya, dengan rupa yang berbeda-beda. Di terminal, di pasar, didalam angkutan kota, bahkan di mall, they all so different.

Ada seorang anak lelaki berusia remaja, berkulit hitam, dengan mata belok dan gigi tonggos, dan mulut yang selalu terbuka melongo, sementara disampingnya ada seorang gadis cantik, dengan make up terlalu tebal, sedang berdiri dan bermain blackberry. Lalu pertanyaan itu kembali muncul “what this is all about, God?”

Kenapa Kau tidak menciptakan saja manusia-manusia yang sepenuhnya rupawan, cantik, tampan, berkulit putih bersih, dengan wajah dan anatomis tubuh yang sempurna? Supaya hidup mereka menjadi mudah?

Itu sudut pandang saya. Ya, ketika saya melihat remaja lelaki itu, saya (berani-beraninya) mengeluarkan statemen *dalam hati* “hidupnya pasti nggak mudah” sama seperti saya, dan juga banyak orang yang berusaha menjadi orang lain. Mereka-mereka yang berusaha dengan keras untuk menjadi seperti orang lain, termasuk saya yang begitu, pasti mengalami hidup yang tidak mudah.

Entah kenapa saya berani-beraninya berpikir begitu. Siapa tahu hidup mereka mudah-mudah saja untuk dijalani? siapa tahu mereka senang melakukan itu? siapa tahu dan siapa tahu…who am i to judge them?

Kemudian saya punya cita-cita, saya punya keinginan, saya punya niat berusaha, lalu kemudian pertanyaan itu muncul, semuanya ini buat apa? What this is all about? kenapa saya harus mati-matian menginginkan sesuatu sementara hal tersebut bukan hal penting yang akan dipertanyakan kelak dihadapan Tuhan? Dan saya pun ingin kembali ke kamar kos saya, pulang, dan tidur…tanpa melakukan apa-apa.

Lalu, seorang bapak mengayuh gerobak dengan tabung gas didalamnya. Lagu-lagu dari jaman kecil saya berbunyi agak sember dari pengeras suara yang mungkin sama usangnya dengan gerobak itu. Sementara 2 balon warna warni melayang tertahan tali senar yang diikatkan ke salah satu lubang digerobak itu. seorang penjual balon yang sudah tua, tapi masih saja keliling kesana-kemari. Menjajakan balon, yang mungkin belum tentu laku barang sebiji sehari.

And what this is all albout, God?

What are You trying to say to me?

Life is a bitch, then you die….Ya, kadang hidup itu memang menjengkelkan dan pada akhirnya, itu semua tidak ada artinya ketika jatah kita sudah habis didunia ini. It means nothing, kecuali memang kita mengusahakan sesuatu.

Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas tadi, terkadang memang menurunkan semangat, mendegradasi mental menjadi pesimistis, mengurangi semangat, dan menyeret saya kepada kepasrahan total, karena sudah tidak sanggup lagi menerima tantangan dan kesulitan-kesulitan hidup. Tapi semuanya tergantung dari sudut pandang mana saya melihat.

Pepatah mengatakan, dunia ini sempit kalau memang kita melihatnya dengan cara yang sempit. Dunia ini jelek, kalau kita hanya melihat kejelekannya saja. Tapi bisa jadi, dunia ini ramah dan indah luar biasa, jika kita bisa melihatnya dari sudut pandang kita yang berbeda. Kita yang ramah, kita yang indah, kita yang optimis, dan mereka yang ramah, mereka yang indah, dan mereka yang optimis.

Barangkali mereka juga setuju, bahwa Life Is A Bitch and Then You die…Tapi setidaknya mereka mengusahakan sesuatu, tidak ingin menyerah seperti saya. Mereka mencoba menikmatinya dengan segala macam kekurangan yang ada, tidak seperti saya. Mereka bisa melihat ketidakmudahan dalam hidup dan berusaha untuk menjadi seorang survivor, tidak seperti saya.

Saya memang masih harus banyak belajar dari orang-orang, dan tidak membiarkan pertanyaan tentang apa tujuan hidup saya dan apa tujuan Tuhan dengan semua ini, menjadikan saya pribadi yang lemah dan menyerah. Saya tidak ingin terseret ke dalam kepasrahan total tanpa berusaha sedikitpun. Karena orang tua penjual balon itu juga berusaha sampai titik dimana beliau sudah tak sanggup lagi mengayuh gerobak jualannya. Seharusnya saya malu mempertanyakan “Untuk apa usaha saya selama ini?”

Karena pasti ada gunanya. setiap tindakan dan perbuatan saya saat ini pasti ada manfaat dan akibatnya. Saya harus sadari itu. Sehingga saya bisa memilih lagi mana-mana dan apa saja yang harus saya lakukan, agar hidup saya kelak menuai manfaat bukan akibat yang merugikan.

Tampaknya saya harus pasang kaca mata kuda untuk hal yang negatif seperti itu. Karena walau sedikit, sesuatu yang baik tentunya akan memberikan saya banyak hal positif.

Saya akan berusaha menikmati hidup, menjadi pribadi yang lebih baik, bersemangat dalam mengejar ketertinggalan, dan meninggalkan semua hal yang buruk yang ada pada diri saya…*terdengar seperti resolusi tahun baru ya?* hehehehe

Life is a bitch then you die, tapi saya tidak perlu jadi seorang bitch yang sudah pasti bakal die, tapi saya harus jadi seorang yang baik, karena sudah tahu saya pasti mati. So, saya mau baik-baik sama hidup, dan berharap hidup juga akan baik dan mudah untuk saya.

XOXO,

toekang Roempi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s